Banyuwangi Makin Seksi, Bikin Jember Iri

0
2044

WINGS Air akan masuk Banyuwangi. Trayeknya berbeda dengan Merpati Nusantara Air (MNA) yang sudah lebih dulu hadir. Kalau MNA hanya bandara Juanda-Blimbingsari pergi pulang (PP), Wings Air akan menerbangi rute Juanda-Blimbingsari-Ngurah Rai Bali.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Kabar masuknya Wings Air ke Bumi Blambangan akhirnya sampai juga ke Jember. Masyarakat Kota Tembakau iri: bagaimana Banyuwangi bisa menyalip Jember. Bukankah dulu bandara Notohadinegoro Jember lebih dulu beroperasi.

Ya, memang. Beberapa tahun lalu Jember dan Banyuwangi bersaing membangun bandar udara. Persaingannya begitu ketat. Tidak ada yang mau mengalah. Kedua daerah sama-sama ingin jadi juara: ingin bandaranya lebih dulu didarati pesawat komersial.

Singkat kisah, Jember akhirnya tampil sebagai pemenang. Sementara Banyuwangi jadi pecundang. Betapa tidak. Saat Jember menerbangkan pesawat komersial kali pertama, di saat yang sama, sejumlah pejabat Kota Gandrung malah terjerat kasus hukum.

Mereka jadi tumbal pembebasan lahan bandara Blimbingsari. Tapi, nasib baik tidak berpihak kepada Jember. Tidak sampai setahun beroperasi, bandara Notohadinegoro tutup lagi. Tidak ada lagi penerbangan komersial di sana sampai hari ini.

Ternyata proses kerja sama dengan salah satu maskapai yang mengoperasikan pesawat komersial di Jember dianggap menyalahi prosedur. Kepala Dinas Perhubungan Jember pun menjadi tumbal. Dia ditetapkan sebagai tersangka. Kondisi itu dimanfaatkan oleh Banyuwangi. Pemkab daerah berjuluk  Sunrise of Java itu bergerak cepat.

Bupati Anas ‘jualan’ ke Jakarta. Sukses. Sky Aviation masuk. Mencatatkan diri dalam buku sejarah Banyuwangi. Sky Aviation akan terus diingat oleh rakyat Banyuwangi sebagai maskapai pertama yang beroperasi di bandara Blimbingsari.

Namun, bisnis penerbangan tidak sama dengan bisnis transportasi darat. Apalagi, untuk bandara perintis seperti Blimbingsari: runway pendek (hanya 1400 meter) sehingga hanya bisa didarati pesawat kecil. Sky Aviation merugi terus. Cash flow perusahaannya terganggu.

Meski akhirnya Sky Aviation angkat kaki, bandara Blimbingsari tidak sampai mati. Sebab, saat-saat Sky Aviation menjelang ajalnya, MNA sudah masuk. Keduanya membagi hari operasi, sehingga setiap hari ada penerbangan di Blimbingsari.

Baru setelah Sky benar-benar hengkang, kini MNA seorang yang terbang setiap Senin, Rabu, Jumat, dan Minggu. Tak lama lagi, kalau Wings Air benar-benar beroperasi, MNA tidak akan kesepian lagi. Apalagi, Wings Air sudah gembar-gembor akan terbang setiap hari.

Wa ba’du. Bukan hanya rakyat Jember yang iri. Kalangan pejabatnya lebih dari itu. Dalam beberapa kesempatan, mereka menagih kepada saya: ayo kapan kita ramaikan lagi bandara Jember. ‘’Masak kalah dengan Banyuwangi,’’ kata mereka memprovokasi.

Loading...

Saya tenang-tenang saja menanggapi ajakan itu. Saya melihat, mengaktifkan kembali penerbangan komersial di Jember tidak sulit-sulit amat. Pertama, karena saya dengar sudah ada beberapa maskapai yang sebenarnya tertarik untuk masuk. Kedua, calon penumpang pesawat di Jember lebih banyak dibanding Banyuwangi.

Di Jember banyak pengusaha yang mondar-mandir Jember-Surabaya dan kota-kota lain. Jember punya banyak orang kaya yang ngelencernya ke Singapura dan sekitarnya. Jember punya banyak artis yang bermukim di Jakarta. Kalau ada pesawat Surabaya-Jember, pasti Anang, Opik, Dewi Persik, dan artis yang lain akan sering mudik ke kota kelahirannya. Sebagai kota pendidikan terbesar ketiga di Jatim setelah Malang dan Surabaya, Jember dihuni banyak mahasiswa dari berbagai provinsi di Indonesia.

Bukankah fakta-fakta itu adalah pasar yang nyata di depan mata. Namun, tanpa goodwill dari pemerintah setempat semua potensi itu hanya akan menjadi angka-angka kosong. Tanpa makna. Kuncinya di tangan orang nomor satu di Jember. Begitu bupati memproklamasikan pengaktifan kembali bandara Notohadinegoro, saya yakin semua stakeholder akan ramai-ramai mendukung.
Berpartisipasi. Minimal urun rembug ide dan pikiran. Satu lagi, Jember tidak usah malu atau gengsi untuk ngangsuh kaweruh.

Belajar kepada Banyuwangi bagaimana cara sharing yang aman dengan pihak maskapai, sehingga operasional penerbangan di Jember tidak sampai minta tumbal lagi. Sebaliknya, Banyuwangi juga tidak boleh pelit. Harus membuka diri. Berikan semua kiat yang sudah dilakukannya. Sebagai daerah bertetangga, Banyuwangi dan Jember harus bahu-membahu.

Bantu-membantu. Menegakkan dan menggalakkan kembali semangat gotong royong. Maju bersama. Bersama maju. Prinsipnya, kalau Banyuwangi bisa, kenapa Jember tidak. Saya merasa optimistis kalau semua itu dilakukan, tidak lama lagi bandara Notohadinegoro akan hidup lagi. Bangkit kembali. Bupati Djalal tidak seharusnya merasa ragu dan sendirian. Sebab, banyak pihak menginginkan bandara kebanggaan masyarakat Jember beroperasi kembali.

Lebih dari itu, mereka kini terus berupaya mengarah ke sana. Salah satunya dilakukan teman-teman komunitas Tangan Di Atas (TDA). Mereka akan menggelar East Java Business Summit 2012 di Jember. Akan hadir di event yang akan diikuti sekitar 3.000 pengusaha itu, antara lain, Sandiaga Uno dan Bob Sadino. Nama menteri BUMN Dahlan Iskan, juga masuk dalam daftar pembicara.

Informasinya, Sandiaga Uno yang boss Mandala Airlines akan datang ke Jember dengan pesawat jet pribadinya. Ada bocoran, dia juga tertarik untuk mengembangkan bandara Notohadinegoro. Kalau itu benar, Jember tidak perlu lagi iri kepada Banyuwangi. Sebab, keduanya sudah sama-sama seksi. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :