Banyuwangi Pilot Project Budi Daya Sidat

0
791

WONGSOREJO – Sidat alias oleng memiliki  keunggulan luar biasa. Dari segi kualitas, sidat Banyuwangi memiliki kualitas paling bagus dibandingkan sidat di daerah lain. Dengan baiknya kualitas sidat, saat ini Banyuwangi dijadikan sebagai pilot project budidaya sidat di seluruh Indonesia.

Kepala Pusat PenyuluhanPemberdayaan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Endang Suhaidy, mengatakan saat ini Indonesia sudah terkenal sebagai pusat pembenihan sidat di dunia. Dari berbagai macam sidat di dunia yang paling disukai masyarakat dunia-khususnya orang Jepang adalah sidat di Indonesia, yakni jenis anguilla bicolor.

Jenis sidat ini banyak terdapat di muara-muara sungai di Banyuwangi. “Pasar sidat anguilla bicolor sangat luar biasa di dunia,” kata Endang. Meski belum bisa memenuhi permintaan sidat dari luar negeri, sidat Banyuwangi memang layak dijadikan sebagai sidat unggulan dunia.

Setiap bulan sidat Banyuwangi yang diekspor ke mencapai 3 sampai 4 kontainer. ” Tapi jumlah tersebut masih sangat sedikit dibandingkan permintaan. Produksi sidat kita masih sedikit saya ldra,” tambah Endang.

Masih minimnya ekspor itu disebabkan Indonesia belum memiliki teknologi yang mempuni untuk mengembangbialkan bibit  sidat. Selama ini bibit sidat yang diperoleh adalah hasil tangkapan  para warga yang telah dikumpulkan menjadi satu di Balai Pelatihan dan Penelitian Perikanan (BPPP) Bangsring.

”Meski masih belum ditemukan bagaimana cara membudidayakan  benih sidat, dengan adanya techno park di BPPP ini kita akan merintis bagaimana cara mengembangbiakkan benih sidat,” terang Endang. Banyuwangi dijadikan pilot project budidaya sidat di Indonesia karena kualitasnya lebih unggul.

Keunggulan itu disebabkan kualitas air sungai sangat mendukung dan sangat memenuhi syarat bagi tumbuh kembangnya sidat dengan baik. “Perusahaan sidat terbesar di Indonesia, yakni PT. Erohasidat, juga ada di Banymvangi.

Baca :
Depresi Ditinggal Istri, Pria Sukorejo Tewas Gantung Diri Gunakan Kain Hijau Motif Batik di Kamar Rumahnya

Ini menandakan sidat Banyuwangi memang berkualitas,” timpal Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Banyuwangi, I Wayan Suarya.  Dia menambahkan, proses pembibitan sidat memang berbeda dengan ikan lain.

Ini menjadi kendala utama mengapa produksi sidat di Banyuwangi  belum bisa memenuhi permintaan pasar dunia. Sidat sebenarnya ikan laut yang mulai bergerak ke arah sungai air tawar. Proses pembenihan secara alami, sidat selalu memilih berada di air payau dengan kedalaman 1 km dalamnya.

”Teknologi pembibitan itu yang belum kami temukan. Karena itu, kami sudah sediakan kolam-kolam sidat di BPPP untuk  digunakan sebagai tempat sharing bagaimana menemukan teknologi pembibitan,” pungkas Wayan.

Sekadar diketahui, saat ini BPPP sudah membangun 24 kolam sidat dengan ukuran 2×4 meter. Kolam-kolam tersebut terbuka untuk umum. Sampai saat ini kolam-kolam tersebut telah dipenuhi 1.000 bibit sidat yang didapat dari warga di muara- muara sungai di Banyuwangi.  (radar)