Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Sosial  

Berbagai Pengalaman Mantan Sopir Dinas Bupati Banyuwangi

berbagaiBupati menerima sejumlah fasilitas demi menunjang kelancaran tugasnya. Salah satu fasilitas itu adalah sopir yang mengikuti setiap kegiatan sang bupati. Bagaimana pengalaman para mantan sopir Bupati Banyuwangi?

SETIAP Bupati Banyuwangi paling ti dak memiliki empat sopir yang me nempel setiap hari. Dua sopir di gunakan bupati secara ber gantian da lam melaksanakan ke giatan rutin. Satu sopir digunakan istri bupati, dan satu lagi sebagai sopir keluarga yang stand by di rumah dinas atau di rumah pribadi. Fasilitas sopir itu se tiap lima tahun berganti seiring pergantian bupati.

Para era Bupati Samsul Hadi pada ta hun 2000-2005, fasilitas so pir mengalami beberapa kali per gantian.Pergantian sopir itu terjadi karena beberapa alasan, ada karena mereka pensiun sebagai pegawai negeri sipil (PNS), dan ada pula karena alasan lain. Salah satu sopir bupati pada era Sam sul Hadi adalah Ahmad Yunan. PNS yang kini bertugas sebagai sopir Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Arief Setiawan itu merupakan satu dari beberapa sopir Bu pati Samsul Hadi.

Pada awal Bupati Samsul Hadi men jabat sebagai bupati, Yunan di tunjuk sebagai sopir Ny. Hj. Erna Samsul Hadi. Namun, dalam perjalanannya, dia beralih tugas melayani Bupati Samsul Hadi sebagai so pir kendaraan dinas bupati Selama lima tahun menjadi sopir bu pati, Yunan memiliki banyak kisah dan pengalaman berharga. Walau hanya sebagai sopir, Yunan memiliki peran cukup fatal dalam mendukung kelancaran tugas-tugas bupati.

Selama lima tahun bertugas sebagai sopir bupati, Yunan mengaku all out bertugas sepenuh hati selama 24 jam. Walau sebagai karyawan Pemkab Banyuwangi yang memiliki jam kerja jelas, tapi saat bertugas sebagai sopir bupati, jam kerja kantor itu tidak berlaku. Walau sudah waktunya pulang, tapi selama aktivitas bupati belum berakhir, maka sopir belum bisa pulang.

PNS lain masuk kantor pukul 07.00. Namun, PNS yang bertugas sebagai sopir bupati, jam masuk kerja lebih awal, yakni sekitar pukul 06.00. Nah, waktu pulang sopir bupati tidaklah tentu. Jam pulang kantor PNS umumnya adalah sekitar pukul 16.00. Tetapi, sopir bupati pulang kantor bisa hingga larut malam. Kadang kala para sopir tidak sempat pulang ke rumah dan memutuskan bermalam di Pendapa Shaba Swagata Blambangan.

Itu terjadi kalau aktivitas bupati berlangsung hingga larut malam. “Kalau kegiatan bupati sampai malam dan besoknya belum waktunya ganti sopir, ya mau tidak mau harus istirahat di pendapa agar pagi tidak datang kesiangan,” papar Yunan. Selama menjadi sopir Bupati Samsul Hadi, Yunan mengaku memiliki pengalaman yang tidak bisa dilupakan selama hidupnya.

Waktu itu, Bupati Samsul Hadi sedang ada kegiatan di Surabaya. Selama di Kota Pahlawan, Bupati Samsul memiliki acara yang cukup padat. Acara baru selesai sekitar pukul 01.00 dini hari. Selesai acara, Bupati Samsul pulang ke Wisma Blambangan Surabaya untuk istirahat. Sebelum istirahat, Bupati Samsul Hadi berpesan agar dibangunkan pukul 03.00 pagi.

Setelah dibangunkan pada pukul 03.00, ternyata Bupati Samsul Hadi mengajak Yunan pulang ke Banyuwangi. Sebelum berangkat, Yunan diwanti- wanti agar sampai di Banyuwangi sebelum pukul 07.00 pagi. Sebab, pada pukul 07.00 ada beberapa acara yang harus dilaksanakan. Sebelum berangkat, Yunan sempat ragu, apakah sebelum pukul 07.00 bisa sampai di Banyuwangi ataukah tidak.

Sebab, perjalanan normal Surabaya-Banyuwangi adalah lima hingga enam jam. Apalagi, pukul 03.00 itu tidak langsung berangkat dan masih melakukan beberapa hal. Walau masih ragu, tapi Yunan memastikan sebelum pukul 07.00 sudah sampai di Banyuwangi. Saat itu, Yunan mengaku hanya berdua dengan Bupati Samsul Hadi. Sebab, ajudan sudah pulang lebih dulu ke Banyuwangi.

“Sebelum berangkat, speedometer mobil saya tutup dengan sapu tangan,” tuturnya. Tujuannya, agar selama perjalanan tidak mengetahui laju kecepatan mobil yang dikemudikan. Sejak berangkat dari Surabaya hingga Banyuwangi, kecepatan kendaraan berkisar 80 sampai 140 kilometer per jam. Selama perjalanan, Bupati Samsul Hadi tidur di dalam mobil. Bupati Samsul baru bangun setelah tiba di Asembagus sekitar pukul 06.20.

“Setelah sampai di Asembagus, saya baru yakin bisa sampai di Banyuwangi sebelum pukul 07.00,” tuturnya. Selama menjadi sopir, Yunan mengaku baru kali itu mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Sepanjang perjalanan, Yunan terus berdoa agar tidak ada hambatan dan tiba dengan selamat di Banyuwangi. “Alhamdulillah sampai Banyuwangi pukul 06.45. Masih kurang 15 menit dari pukul 07.00.

Prinsip saya saat itu; cepat dan selamat,” kenangnya. Pengalaman itu susah dilupakan sepanjang hidupnya. Kali itu merupakan pertama kali mengemudikan kendaraan hingga kecepatan 140 kilometer per jam dengan penumpang pejabat tinggi daerah. Yunan juga punya cerita dan pengalaman lain bersama Bupati Samsul Hadi. Hal itu terjadi saat menjemput Bupati Samsul Hadi di Bandara Ngurah Rai, Denpasar, Bali, setelah melakukan perjalanan dinas ke Jakarta.

Kali ini, Yunan sengaja dikerjai Bupati Samsul Hadi. Setelah pesawat landing, Bupati Samsul minta Yunan langsung pulang ke Banyuwangi. Sebelum keluar dari area Bandara Ngurah Rai, Bupati Samsul berpesan agar kecepatan kendaraan tidak lebih dari 60 hingga 70 kilometer per jam. Awalnya, Yunan menyangka Bupati Samsul guyon. Karena mengira guyon, setelah keluar area bandara, Yunan langsung tancap gas.

“Wah, ternyata Bapak marah. Jadi, saat itu saya nggak berani tancap gas, Denpasar- Gilimanuk saya hanya berani melaju 60 kilometer per jam,” tuturnya. Saat itu, perjalanan Gilimanuk-Denpasar ditempuh selama lima jam. Padahal, normalnya perjalanan Denpasar- Gilimanuk hanya tiga jam. “Selama menjadi sopir bupati, saya berkomitmen menjaga keselamatan bupati  dalam kondisi apa pun,” cetusnya.

Cerita lain diungkapkan bekas sopir Bupati Ratna Ani Lestari, Syamsul Muarif. Selama lima tahun (2005- 2010) Syamsul Muarif menjadi sopir perjalanan Bupati Ratna bersama sopir lain. Kepadatan kegiatan Bupati Ratna tidak berbeda jauh dengan kepadatan bupati sebelumnya. Seharihari Syamsul Muarif melakukan aktivitas hingga malam hari. Aktivitas itu terjadi sepanjang Bupati Ratna menjabat.

Bahkan, Syamsul sering melakukan aktivitas dalam kota sehari full dan dilanjutkan kegiatan dinas ke luar kota. Walau kegiatan di luar kota waktunya mepet, tapi Syamsul Muarif tidak pernah mengemudikankendaraan dengan kecepatan tinggi. Dia mengaku jarang mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi. “Pertimbangan saya, kecepatan tinggi risikonya besar. Padahal, yang saya bawa adalah Bupati Banyuwangi,” jelasnya.

Karena itu, walau waktunya mepet pun, laju kendaraan disesuaikan kondisi jalan raya. Kalau kondisi jalan raya sepi, kecepatan kendaraan ditambah agar bupati tepat waktu.Selama ini, Bupati Ratna tidak pernah  ikut campur terkait kecepatan kendaraan. Kalau kendaraan dirasa agak lambat, biasanya ajudan yang selalu mengingatkan bahwa waktunya sudah mepet. “Bupati Ratna tidak pernah memberikan komando,” paparnya.

Bupati Ratna memberikan komando apabila sopir tersesat. Bupati Ratna banyak mengetahui jalan-jalan di beberapa kota besar di Indonesia. Hampir seluruh jalan di Surabaya dan Denpasar, Bupati Ratna mengenalnya dengan baik. Banyak loronglorong kecil yang tidak diketahui sopir, ternyata Bupati Ratna tahu. Sementara itu, Ikhsan, sopir Bupati Ratna yang lain, memiliki pengalaman yang berbeda.

Selama lima tahun menjadi sopir Bupati Ratna, Ikhsan tidak pernah mendapat kesulitan apa pun. Dalam perjalanan ke mana pun, Bupati Ratna selalu berpesan agar mengutamakan keselamatan. Apalagi, perjalanan luar kota, Bupati Ratna banyak memilih waktu malam hari sehingga memperlancar perjalanan. Malam hari dipilih, karena kondisi jalan sedikit lengang dibandingkan siang hari. Sehingga, laju kendaraan pada malam hari bisa dipacu lebih cepat.

“Kalau malam hambatannya hanya truk. Kalau siang, selain truk juga ramai kendaraan roda dua,” tuturnya. Selama lima tahun menjadi sopirBupati Ratna, Ikhsan menempuh perjalanan Banyuwangi-Surabaya dalam tempo lima hingga tujuh jam. Ikhsan hampir tidak pernah mengemudikan kendaraan kurang dari enam jam. “Jadi sopir bupati banyak pelajaran yang didapatkan.

Belajar disiplin, belajar menghargai orang lain, belajar sopan santun, dan belajar melayani pimpinan dengan baik,” katanya. Selama menjadi sopir Bupati Banyuwangi, tiga PNS itu mengaku jarang libur pada Sabtu dan Minggu. Walau sebenarnya libur kantor, tapi mereka tetap masuk karena bupati tetap melakukan aktivitas walau hari libur.

Tidak hanya pada hari Minggu, mereka juga jarang merayakan liburan pada hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri, Idul Adha, dan beberapa hari-hari besar lain. Pada hari-hari itu, bupati justru memiliki aktivitas yang cukup padat. Aktivitas yang padat itu berdampak pada hari libur para sopir. “Kalau Lebaran, saya baru bisa berkumpul keluarga pada hari ketiga atau keempat Lebaran,” ungkap Ikhsan. (radar)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE