Bergiliran Membaca Alquran Berukuran Jumbo

  • Bagikan

bergiliranLembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banyuwangi punya kegiatan menarik selama Ramadan. Warga binaan yang juga santri Pondok Pesantren At-Taubah itu diajak tarawih bersama. Selain itu, mereka bergiliran tadarus Alquran berukuran raksasa karya warga binaan sendiri.

SUASANA angker yang selama ini tergambar dalam penjara tidak ter lihat sama sekali malam itu. Masuk melalui pintu gerbang utama yang cukup kokoh, langsung di sambut senyum ramah para pe tu gas keamanan yang berseragam leng kap. Dengan sopan sambil senyum, salah satu petugas bergegas membuka pin tu pagar kedua. Pintu pagar itu ber jarak sekitar enam meter dari pin tu gerbang utama.

“Monggo, se mua berkumpul di masjid,” cetus pe tugas keamanan saat Jawa Pos Radar Banyuwangi berkunjung Jumat ma lam (26/7) lalu. Lapas Kelas IIB itu terasa seperti pesantren salafi yah pada umumnya. Se bagian besar warga binaan di lapas tersebut memakai seragam putih lengkap kopiah putih di kepala. Mereka juga memakai sarung seperti para santri di pesantren salaf. “Ini kegiatan selama Ramadan,” terang Ke pala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Ba nyuwangi, Marlik Sugianto.

Lapas Banyuwangi bukan hanya seperti pesantren, tapi juga seperti taman Banyak taman yang dibangun di sudut dan pinggir lapas. “Semua taman ini di bangun para warga binaan, termasuk pentas uta ma,” kata Marlik. Tepat pukul 19.00, ratusan warga binaan su dah berkumpul di masjid di tengah la pas. Karena jamaah meluber, sebagian menggelar tikar di lapangan di selatan masjid. Usai melaksanakan salat Isak, dilanjutkan salat tarawih dengan imam Abdul Kholik, ke tua takmir masjid yang juga warga bi na an.

Usai salat tarawih, para warga binaan diajak mendengarkan ceramah agama yang di sampaikan pengurus takmir. Setelah ce ramah, jamaah dengan tertib bubar dan masuk ke blok masing-masing, kecuali warga binaan yang mendapat giliran tadarus. “Se tiap malam, 25 orang hingga 30 orang ta darus,” sebut Kalapas Marlik. Yang membedakan dengan lapas atau masjid lain dalam tadarus ini, warga binaan yang melaksanakan tadarus di mas jid dalam lapas tersebut menggunakan Alquran berukuran raksasa.

Mushaf dengan uku ran 110 centimeter kali 90 centimeter itu ditulis tangan oleh Sugianto, salah satu war ga binaan Lapas Banyuwangi. Staf ahli bidang sosial, politik, dan keamanan, pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum   HAM) RI, Sihabuddin, yang melihat tadarus san tri Pesantren At-Taubah, geleng-geleng kepala. “Ini (tadarus dengan Alquran raksasa) yang tidak ada di lapas lain,” pujinya.

Tadarus menggunakan Alquran raksasa itu dilaksanakan warga binaan usai salat ta rawih hingga pukul 22.00. Usai tadarus, para santri kembali ke kamar (blok) ma sing-masing. “Tadarus ini sampai pukul 22.00,” terang Kasi Pembinaan Lapas Ba nyu wangi, Sunaryo. Kegiatan keagamaan selama Ramadan men dapat perhatian serius di lapas. Selain ta darus, setiap pagi para napi juga diajak pen dalaman keagamaan.

Kegiatan itu dimulai sekitar pukul 08.00 hingga salat Du hur. “Pagi hingga duhur itu juga ada yang tadarus dengan Alquran raksasa ini,” jelasnya. Kegiatan keagamaan ditingkatkan selama Ramadan demi memperkuat nilai-nilai keagamaan warga binaan. Diharapkan timbul kesadaran dan peningkatan keimanan. “Kegiatan keagamaan ini untuk warga binaan laki-laki dan perempuan,” pungkas Sunaryo. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: