Bocah SD Sikat 1,7 Kg Perhiasan

  • Bagikan
ANAK-ANAK: Komplotan bocah pembobol toko emas dengan barang bukti perhiasan di Mapolsek Purwoharjo kemarin.

Masuk Toko Emas Lewat Genting

PURWOHARJO – Komplotan maling beraksi di toko emas Sumber Rezeki di pasar Dusun Curah Jati, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Ironisnya, para pelaku yang menggasak 1,7 kilogram perhiasan berbahan perak itu masih kategori anak-anak. Sejak ditangkap Selasa lalu (15/5), mereka masih mendekam di sel tahanan Mapolsek Purwoharjo hingga kemarin (16/5).

Plafon di tempat kejadian perkara (TKP) terlihat jebol. Sebagian genting di toko tersebut juga tidak ada di tempat. Melihat hal itu, polisi men duga  komplotan maling tersebut masuk melalui genting. Selain itu, polisi men duga pelaku berbadan kurus. Sebab, usai olah TKP, tidak ada satu pun kayu (reng) penopang genting rusak. Tembok di sekeliling toko juga tidak ada yang jebol.

Dugaan polisi itu bisa dibuktikan. Tetapi, yang bikin polisi geleng-geleng adalah komplotan maling yang diduga kelas kakap itu ternyata masih pelajar. Bahkan, salah satu tersangka masih kelas dua SD. Dia adalah JP, 9, asal Desa Purwoasri, Kecamatan Tegaldlimo. Tersangka lain berinisial AH, 14, asal Desa Grajagan. Dia siswa kelas VIII di salah satu SMP di Kecamatan Purwoharjo.

Tiga rekannya dinyatakan sebagai saksi. Mereka adalah AL,14, WR, 15, dan DK, 17. Kelima bocah tersebut termasuk anak didik panti asuhan di desa setempat. Pembobolan toko emas milik Sugiyanto, 45, warga Dusun Dam Buntung, Desa Kedungasri, Kecamatan Purwoharjo, itu terjadi sekitar pukul 01.00 Minggu pekan lalu (6/5). Namun, pemilik toko baru melaporkan kasus tersebut keesokan hari, yakni Senin lalu (7/5) usai membuka toko. Sebab, pada hari Minggu toko tersebut tutup.

Kasus tersebut terbongkar karena ada satu perhiasan yang tercecer di panti asuhan. Yang menemukan adalah WR. Lalu, oleh WR perhiasan tersebut dibawa ke sekolah. Di lembaga pendidikan itu, bocah asal Purwoasri itu menceritakan kepada temannya dengan maksud akan dijual. Nah, ada salah satu siswa yang bersedia menjualkan perhiasan tanpa dokumen tersebut. Sialnya, perhiasan tersebut dijual ke toko emas yang baru dibobol tersebut. Tentu saja, pemilik toko langsung curiga. Sebab, motif perhiasan itu tidak asing lagi.

Pemilik toko langsung menanyakan asal barang tersebut. Setelah WR menyebutkan nama, satu per satu mereka diminta datang di toko emas itu. Dari situlah para pelaku berhasil dicokok petugas. “Mulanya ya kami diberi laporan, lalu kami langsung datang ke lokasi. Semua kami bawa ke mapolsek,” ujar Kanitreskrim Aiptu Wiknyo mewakili Kapolsek AKP Trijoko Setyonarso di markasnya kemarin. Dari keterangan mereka, polisi menetapkan dua anak sebagai tersangka. Sebab, yang lain tidak terlibat. AL, 14, misalnya, dia balik kanan sebelum beraksi.

‘’Cuma dua anak yang kita tetapkan sebagai tersangka, tiga lainnya masih sebagai saksi. Tetapi, mereka masih kami mintai keterangan. Sekarang semua masih ada di sini,” katanya. DK, 17, yang tercatat sebagai siswa salah satu SMK di Kecamatan Purwoharjo itu memang sudah membawa perhiasan tersebut ke Kecamatan Glenmore untuk dijual. Namun, dia tidak berani menjual. Sebab, sebelumnya dia sudah tidak mau menjualkan perhiasan tersebut. “DK sudah tidak mau. Tapi tiba-tiba oleh AH, perhiasan itu ditaruh di dalam tasnya. Tapi seminggu kemudian dikembalikan lagi,” terangnya.

Yang lain, seperti WR, tidak tahu-menahu bahwa barang temuannya itu hasil curian. Oleh karena itu, usai gelar perkara, pihaknya memutuskan dua pelaku yang ditetapkan sebagai pelaku utama. “Kerugiannya ditaksir Rp 39 juta. semua perhiasan itu kami sita dari tempat mereka menyimpan, yaitu lemari pakaian. Tetapi, sekarang sebagian perhiasan tersebut tengah dipilah-pilah di toko,’’ pungkasnya.

Diakui AH, pencurian emas itu memang sudah direncanakan beberapa haru sebelumnya. Aksi itu berawal dari ngobrol-ngobrol bersama teman sepanti asuhan. ‘’Ngertinya dari cerita teman-teman. Katanya bisa mencuri emas di toko. Dari situ awalnya,” ujarnya polos. Meski begitu, rencana beraksi sempat beberapa kali tertunda. Sebab, WR sering tidur saat akan diajak beraksi.

Nah, pada malam Minggu itu akhirnya WR tidak tidur. Maka, mulailah mereka beraksi. ’’Dia (WR) sehari- dua hari tidur, dan hari ketiganya dia tidak tidur. Nah, waktu itu beraksi bareng-bareng,” jelas AH.Saat ditanya kok bisa keluar dari panti asuhan? AH mengaku panti tersebut memang tidak dijaga. Oleh karena itu, dirinya bersama dua temannya leluasa pergi di malam hari. ‘’Lha tidak ada penjaganya  kok. Setengah kardus perhiasan itu saya taruh di lemari,” jelasnya dengan polos.

WR juga buka suara terkait kasus pencurian dengan pemberatan itu. Saat itu, dirinya sudah memutuskan tidak akan meneruskan aksi tersebut. Sebab, dia khawatir akan berurusan dengan aparat penegak hukum. “Saya takut akan ditangkap polisi. Jadi, saya pulang duluan,” ujarnya. (radar)

Kata kunci yang digunakan :

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: