Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Cerita Pengungsi Kebakaran TPA Suwung: Istri Hamil 6 Bulan Sesak Napas

Daftarkan email Anda untuk Berlangganan berita dikirim langsung ke mailbox Anda

Detik.com



Denpasar

Sejumlah warga yang tinggal di sekitar area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung, Denpasar, Bali, terpaksa mengungsi ke Kantor Lurang Serangan. Beberapa dari mereka mulai menderita sesak napas karena terpapar asap akibat kebakaran hebat di TPA itu.

“Semuanya (keluarga) sesak. Kalau yang parah sih istri sampai menangis dan tidak bisa makan karena sesak,” ungkap salah satu warga, Rizal Efendi (24) saat ditemui detikBali, Sabtu (14/10/2023).

Pria yang sehari-hari sebagai pemulung itu mengungkapkan asap pekat masuk ke rumah-rumah warga di sekitar TPA Suwung, dalam beberapa hari terakhir. Dia dan keluarganya kemudian memutuskan untuk mengungsi, mulai hari ini. Apalagi istrinya yang sedang hamil enam bulan, terus mengeluh sesak napas.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dia mengungkapkan, saat kebakaran pada Kamis (12/10/2023), dia dan beberapa rekan pemulung di sana ikut membantu memadamkan api. Namun, api terus membesar dan makin parah. Mereka pun tak bisa lagi memulung di sana sejak Kamis.

“Dari awal kebakaran di Kamis pukul 11.00 Wita sampai sekarang (TPA Suwung) sudah ditutup. Jadi, sudah tidak bisa mengambil sampah,” katanya.

Salah seorang warga, Sumiati (50) bahkan sudah mengungsi ke kantor lurah sejak Jumat malam. Dia mengungsi bersama suami dan dua anak mereka.

“Apinya tidak sampai ke rumah cuma di TPA saja. Tapi, takutnya waktu pas kebakaran besar apinya lompat ke rumah. Makanya tidak tenang saya tidur (dan memilih mengungsi),” ungkapnya.

Cerita warga terdampak kebakaran TPA Suwung di Denpasar, Bali.Cerita warga terdampak kebakaran TPA Suwung di Denpasar, Bali. (Foto: Ni Made Lastri Karsiani Putri/detikBali)

Ia mengaku telah tinggal di kawasan TPA Suwung sejak 25 tahun lalu. Tak jarang dirinya pun membantu menyortir hasil temuan sampah milik suaminya yang bekerja sebagai pemulung di TPA Suwung.

Sumiati mengaku, ini merupakan kali pertamanya harus mengungsi akibat kebakaran di TPA Suwung.

“Dulu ada kebakaran kecil (di TPA) tapi, tidak pernah sampai mengungsi. Biasanya paling diam di gubuk, dan sore atau malam sudah hilang asapnya,” ungkap perempuan asal Banyuwangi ini.

Ia menuturkan, meskipun harus mengungsi dan tidur berdesak-desakan dengan para pengungsi lainnya, Sumiati mengaku kondisi tersebut lebih baik dibandingkan dengan tinggal di rumah yang dikerubungi asap.

“Nyaman saja. Boleh numpang saja sudah syukur,” ujarnya.

Selain itu, dirinya mengaku selama mengungsi juga telah mendapatkan bantuan seperti makanan dan minuman.

Adapun kebakaran TPA Suwung di Denpasar telah terjadi sejak Kamis lalu. Api terus membesar dan asap pekat mencemari udara.

Sampai saat ini, petugas masih berjibaku memadamkan api. Satu helikopter dikerahkan untuk membantu pemadaman dengan water bombing. BPBD mencatat, sampai saat ini masih ada empat hektare di TPA Suwung yang terbakar.

Simak Video “Menulusuri Jejak Kota Tua Denpasar, Pusat Bisnis dan Niaga Era 80-an
[Gambas:Video 20detik]
(dpw/dpw)

source