Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Cuaca Ekstrem di Perairan Banyuwangi, Kapal Tongkang Batu Bara Tertahan Sepekan di Muncar

cuaca-ekstrem-di-perairan-banyuwangi,-kapal-tongkang-batu-bara-tertahan-sepekan-di-muncar
Cuaca Ekstrem di Perairan Banyuwangi, Kapal Tongkang Batu Bara Tertahan Sepekan di Muncar

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com — Cuaca ekstrem yang melanda perairan Banyuwangi dalam sepekan terakhir tidak hanya berdampak pada aktivitas nelayan.

Kondisi alam tersebut juga menyebabkan perjalanan kapal tongkang pengangkut batu bara berukuran jumbo tersendat dan terpaksa berhenti sementara di Perairan Muncar.

Kapal tongkang bermuatan batu bara itu dilaporkan telah lego jangkar di Perairan Muncar sejak sekitar satu pekan lalu.

Penghentian perjalanan dilakukan sembari menunggu kondisi cuaca laut kembali membaik, terutama di wilayah laut selatan Jawa yang dikenal memiliki karakter gelombang tinggi saat cuaca buruk.

Anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pantai Satelit, Miswan, membenarkan keberadaan kapal tongkang tersebut.

Menurutnya, kapal itu mulai berhenti di Perairan Muncar sejak cuaca buruk melanda kawasan perairan Banyuwangi dan sekitarnya.

“Kapal tongkang itu sudah sekitar satu minggu berhenti di Perairan Muncar. Kejadian seperti ini sebenarnya sering terjadi kalau cuaca sedang buruk,” kata Miswan.

Ia menjelaskan, saat kapal tongkang berhenti cukup lama, anak buah kapal (ABK) biasanya turun ke darat untuk berbelanja kebutuhan logistik.

Aktivitas tersebut sudah menjadi pemandangan yang lazim bagi warga pesisir Muncar ketika ada kapal besar yang terpaksa berhenti akibat cuaca ekstrem.

“Biasanya ABK sering mendarat untuk belanja. Jadi warga juga sudah biasa melihat aktivitas seperti itu,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, batu bara yang diangkut kapal tongkang tersebut berasal dari Kalimantan. Muatan itu rencananya dikirim ke wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Besar kemungkinan batu bara tersebut akan digunakan untuk memasok kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sidomoro di Pacitan.

“Batu baranya dari Kalimantan, tujuannya ke Pacitan. Biasanya untuk kebutuhan PLTU Sidomoro,” jelas Miswan.

Ia menambahkan, jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara umumnya melintasi Selat Bali, kemudian berlanjut ke perairan laut selatan Jawa.


Page 2

Namun, ketika gelombang tinggi dan cuaca ekstrem melanda laut selatan, kapal-kapal tersebut kerap memilih berhenti sementara di Perairan Muncar yang dinilai lebih aman.

“Kalau laut selatan sedang buruk, kapal tongkang biasanya berhenti di sini dulu sambil menunggu cuaca membaik,” katanya.

Kapal tongkang tersebut diketahui lego jangkar sekitar satu kilometer dari bibir Pantai Muncar.

Pada titik tersebut, kedalaman laut mencapai sekitar 30 meter, sehingga dinilai cukup aman untuk kapal berukuran besar.

“Kalau menepi terlalu dekat, kapal bisa kandas. Jadi posisinya memang harus agak ke tengah,” tutur Miswan.

Terkait dampak terhadap aktivitas nelayan, Miswan memastikan keberadaan kapal tongkang bermuatan batu bara tersebut tidak mengganggu kegiatan melaut warga setempat.

Jalur penangkapan ikan nelayan masih dapat digunakan seperti biasa.

“Tidak mengganggu nelayan. Kalau sampai mengganggu, pasti sudah ada protes atau demo dari nelayan,” tegasnya.

Sementara itu, dari kejauhan, muatan batu bara di atas kapal tongkang kerap terlihat mengeluarkan asap tipis. Fenomena tersebut dikenal oleh nelayan setempat dengan istilah “ngukus”.

“Kalau kena panas berlebih, batu bara memang bisa mengeluarkan asap. Nelayan di sini menyebutnya ngukus, itu hal yang biasa,” pungkas Miswan.

Meski demikian, warga berharap kondisi cuaca di perairan Banyuwangi segera membaik agar aktivitas pelayaran dan nelayan dapat kembali berjalan normal tanpa hambatan cuaca ekstrem. (why)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com — Cuaca ekstrem yang melanda perairan Banyuwangi dalam sepekan terakhir tidak hanya berdampak pada aktivitas nelayan.

Kondisi alam tersebut juga menyebabkan perjalanan kapal tongkang pengangkut batu bara berukuran jumbo tersendat dan terpaksa berhenti sementara di Perairan Muncar.

Kapal tongkang bermuatan batu bara itu dilaporkan telah lego jangkar di Perairan Muncar sejak sekitar satu pekan lalu.

Penghentian perjalanan dilakukan sembari menunggu kondisi cuaca laut kembali membaik, terutama di wilayah laut selatan Jawa yang dikenal memiliki karakter gelombang tinggi saat cuaca buruk.

Anggota Kelompok Masyarakat (Pokmas) Pantai Satelit, Miswan, membenarkan keberadaan kapal tongkang tersebut.

Menurutnya, kapal itu mulai berhenti di Perairan Muncar sejak cuaca buruk melanda kawasan perairan Banyuwangi dan sekitarnya.

“Kapal tongkang itu sudah sekitar satu minggu berhenti di Perairan Muncar. Kejadian seperti ini sebenarnya sering terjadi kalau cuaca sedang buruk,” kata Miswan.

Ia menjelaskan, saat kapal tongkang berhenti cukup lama, anak buah kapal (ABK) biasanya turun ke darat untuk berbelanja kebutuhan logistik.

Aktivitas tersebut sudah menjadi pemandangan yang lazim bagi warga pesisir Muncar ketika ada kapal besar yang terpaksa berhenti akibat cuaca ekstrem.

“Biasanya ABK sering mendarat untuk belanja. Jadi warga juga sudah biasa melihat aktivitas seperti itu,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang diterimanya, batu bara yang diangkut kapal tongkang tersebut berasal dari Kalimantan. Muatan itu rencananya dikirim ke wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Besar kemungkinan batu bara tersebut akan digunakan untuk memasok kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Sidomoro di Pacitan.

“Batu baranya dari Kalimantan, tujuannya ke Pacitan. Biasanya untuk kebutuhan PLTU Sidomoro,” jelas Miswan.

Ia menambahkan, jalur pelayaran kapal tongkang pengangkut batu bara umumnya melintasi Selat Bali, kemudian berlanjut ke perairan laut selatan Jawa.