Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Detik-Detik Pilu Fotografer DPRD Makassar Abay, Pesan Suara ‘Sesak Napas’ Jadi Warisan Terakhir

detik-detik-pilu-fotografer-dprd-makassar-abay,-pesan-suara-‘sesak-napas’-jadi-warisan-terakhir
Detik-Detik Pilu Fotografer DPRD Makassar Abay, Pesan Suara ‘Sesak Napas’ Jadi Warisan Terakhir

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Malam itu, Jumat (29/8/2025), Gedung DPRD Kota Makassar di Jalan AP Pettarani dilalap api.

Suara sirine, kepanikan, dan teriakan bercampur menjadi satu.

Di balik kobaran yang melumat bangunan megah wakil rakyat, sebuah pesan lirih menggema di grup WhatsApp Media DPRD. “Ya Allah, sesak napas.”

Pesan suara yang dikirim pukul 22.21 WITA itu datang dari Muh Akbar Basri, atau akrab disapa Abay.

Baca Juga: Demo Membara! Tiga Nyawa ASN Tewas Terjebak Api, Gedung DPRD Makassar Tinggal Puing

Fotografer humas DPRD Makassar itu terjebak dalam asap pekat, tak sempat menyelamatkan diri. Malam itu, ia datang untuk bekerja. Namun pulang dalam keadaan tak bernyawa.

Bagi banyak orang, Abay hanyalah staf yang selalu berada di balik kamera. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar.

Namun setiap detik perjalanan DPRD Makassar terekam lewat bidikan lensanya.

Dari rapat paripurna, kunjungan kerja, hingga potret sederhana kehidupan di gedung rakyat, Abay ada di sana—diam, setia, tanpa menuntut sorotan.

Baca Juga: Alhamdulillah! Jalur Gumitir Banyuwangi–Jember Dibuka? Ini Jadwal Resminya

Kini, sorot kamera itu terhenti selamanya. Jenazah Abay ditemukan tim Damkar saat penyisiran dini hari, usai api melahap gedung.

Sosok Ramah di Balik Kamera

Kabar kepergiannya menyisakan duka mendalam. Rekan-rekannya mengenang Abay sebagai sosok ramah, mudah bergaul, dan selalu hadir dengan senyum. Anggota DPRD Komisi D, Odhika Cakra, hanya mampu menuliskan singkat, “Abay baik,” diikuti stiker bunga gugur.

Sementara Muchlis Misbah, anggota DPRD Kota Makassar lainnya, menulis penuh duka.

“Innalillahi wa innailaihi raji’un, selamat jalan dik Abay, meninggal pada saat bertugas di kantor DPRD.”


Page 2

Sabtu pagi (30/8), rumah duka Abay di Jalan Balang Baru II, Kecamatan Tamalate, dipenuhi pelayat.

Kursi-kursi berjajar di lorong sempit, tenda sederhana terpasang, dan tangisan keluarga memecah suasana.

Sejumlah pejabat, kerabat, hingga warga berdatangan memberikan penghormatan terakhir.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin (Appi) hadir lebih pagi, sekitar pukul 06.45 WITA, ditemani Sekda dan jajaran Pemkot.

“Abay bukan hanya pegawai, tetapi bagian dari perjalanan panjang DPRD Makassar. Jejaknya ada dalam setiap foto yang ia ambil,” ucap Appi.

Rencananya, jenazah Abay dimakamkan di pekuburan umum Jalan Dangko, Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate, usai salat Asar.

Jejak yang Tak Pernah Hilang

Abay memang pergi, tapi karyanya tetap hidup. Dalam setiap foto sidang paripurna, potret kunjungan kerja, hingga dokumentasi sederhana di lorong DPRD, ada jejak Abay.

Jejak yang tak hanya merekam peristiwa, tapi juga dedikasi seorang pekerja senyap di balik sorot lensa.

Malam itu, ketika api merenggut nyawanya, Abay meninggalkan pesan terakhir yang menjadi saksi bisu: “Ya Allah, sesak napas.”

Pesan yang tak hanya menggambarkan detik-detik kepanikan, tapi juga dedikasi seorang pegawai yang wafat dalam tugas. (*)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Malam itu, Jumat (29/8/2025), Gedung DPRD Kota Makassar di Jalan AP Pettarani dilalap api.

Suara sirine, kepanikan, dan teriakan bercampur menjadi satu.

Di balik kobaran yang melumat bangunan megah wakil rakyat, sebuah pesan lirih menggema di grup WhatsApp Media DPRD. “Ya Allah, sesak napas.”

Pesan suara yang dikirim pukul 22.21 WITA itu datang dari Muh Akbar Basri, atau akrab disapa Abay.

Baca Juga: Demo Membara! Tiga Nyawa ASN Tewas Terjebak Api, Gedung DPRD Makassar Tinggal Puing

Fotografer humas DPRD Makassar itu terjebak dalam asap pekat, tak sempat menyelamatkan diri. Malam itu, ia datang untuk bekerja. Namun pulang dalam keadaan tak bernyawa.

Bagi banyak orang, Abay hanyalah staf yang selalu berada di balik kamera. Ia bukan pejabat, bukan pula tokoh besar.

Namun setiap detik perjalanan DPRD Makassar terekam lewat bidikan lensanya.

Dari rapat paripurna, kunjungan kerja, hingga potret sederhana kehidupan di gedung rakyat, Abay ada di sana—diam, setia, tanpa menuntut sorotan.

Baca Juga: Alhamdulillah! Jalur Gumitir Banyuwangi–Jember Dibuka? Ini Jadwal Resminya

Kini, sorot kamera itu terhenti selamanya. Jenazah Abay ditemukan tim Damkar saat penyisiran dini hari, usai api melahap gedung.

Sosok Ramah di Balik Kamera

Kabar kepergiannya menyisakan duka mendalam. Rekan-rekannya mengenang Abay sebagai sosok ramah, mudah bergaul, dan selalu hadir dengan senyum. Anggota DPRD Komisi D, Odhika Cakra, hanya mampu menuliskan singkat, “Abay baik,” diikuti stiker bunga gugur.

Sementara Muchlis Misbah, anggota DPRD Kota Makassar lainnya, menulis penuh duka.

“Innalillahi wa innailaihi raji’un, selamat jalan dik Abay, meninggal pada saat bertugas di kantor DPRD.”