ngopibareng.id
Di Banyuwangi sedang dibangun pabrik bioetanol berkapasitas produksi 30 ribu kilo liter (KL) per tahun. Pabrik Bioetanol ini dibangun di kawasan Pabrik Gula Glenmore Banyuwangi. Bioetanol merupakan BBM ramah lingkungan. Produksi bioetanol pabrik ini akan menekan impor BBM dan mengurangi emisi karbon.
Pabrik bioetanol di Glenmore ini merupakan bagian dari agenda transisi energi nasional. Pabrik ini akan memproduksi bahan bakar bersih berbasis tebu guna mendukung bauran energi dan substitusi impor BBM. Pabrik ini mentransformasi molase (tetes tebu) menjadi bioetanol sebagai energi bersih.
Pabrik ini dibangun PT Pertamina bersinergi dengan PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) di lahan seluas 10 Ha. Proyek ini bagian dari fase pertama program hilirisasi yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Indonesia.
“Bioetanol merupakan energi bersih yang lebih ramah lingkungan. Pabrik ini akan berkontribusi pada pasokan energi bersih nasional,” jelas Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu, 7 Februari 2026.
Keberadaan pabrik ini, menurut bupati yang menjabat periode kedua ini, akan memaksimalkan serapan tebu petani. Khususnya petani tebu di Banyuwangi. Sehingga tebu petani Banyuwangi dan daerah sekitar juga dapat terserap secara maksimal.
“Karena selain untuk kebutuhan produksi gula, juga untuk bahan baku bioetanol,” terangnya.
Pembangunan pabrik akan mulai dilakukan pada Juni mendatang, dengan perkiraan masa pengerjaan selama 24 bulan. Groundbreaking pembangunan pabrik bioetanol ini telah dilakukan pada Jumat, 6 Februari 2026.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan, pabrik bioetanol tersebut diproyeksikan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun dengan bahan baku berbasis tebu.
“Ini merupakan transformasi produk sampingan gula menjadi energi bersih. Dengan pabrik bioetanol terintegrasi di Banyuwangi, kita akan menghasilkan 30.000 kiloliter bioetanol per tahun yang akan mendorong swasembada energi melalui perekonomian rakyat,” jelasnya.
Dengan kapasitas produksi tersebut, pabrik ini diproyeksi mampu mengurangi impor BBM hingga USD13,9 juta atau setara Rp233,52 miliar. Sekaligus dapat mengurangi emisi tahunan mencapai 66.000 ton CO2 ekuivalen.
“Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon. Melalui substitusi impor BBM sinilai USD 13,9 juta akan dicapai ketahanan energi, dan melalui pengurangan emisi karbon senilai 66 juta ton CO2 ekuivalen akan dicapai keberlanjutan lingkungan,” bebernya.
Baca Juga
Hasil produksi pabrik bioetanol ini, nantinya akan dikirimkan ke Terminal BBM Pertamina, kemudian disalurkan ke pasar sebagai BBM melalui SPBU Pertamina. Sebelum memasuki tahap tersebut, Pertamina melalui 177 SPBU miliknya di Pulau Jawa telah menyalurkan produk BBM Pertamax Green 95, yang memiliki kandungan etanol 5 persen.
“Melalui pabrik bioetanol di Banyuwangi ini, nantinya akan diperluas wilayah implementasinya dan ditingkatkan kandungan etanolnya. Sehingga akan seiring dengan negara-negara besar di dunia yang menggunakan etanol sebagai bahan bakar bersih,” terang Agung.
Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN), Mahmudi, memastikan ketersediaan bahan baku sangat mencukupi. Menurutnya, untuk 100 KLP, butuh sekitar 120 ribu ton molase dalam setahunnya.
“Kebetulan produksi molase dari PT SGN secara total hampir 700 ribu ton. Saya kira cukup, nanti juga disupport dari 5 pabrik gula yang ada di sekitar,” ujarnya.







