Dicari, Hydrant Ketemu Sudah Terpendam Pagar

0
430
MERAH: Api melalap bangunan milik pemkab yang disewa Toko Sahabat Sabtu lalu (24/3).

Kebakaran Toko Sahabat di Jalan Satsuit Tubun Sabtu lalu (24/3) masih jadi gunjingan warga Kota Gandrung hingga kemarin. Salah satu yang menjadi pembicaraan adalah tidak adanya hydrant di dekat lokasi kejadian.
-GILANG GUPTA, Banyuwangi-

ASAP hitam membumbung tinggi siang itu. Dari jauh orang sudah bisa memastikan bahwa asap itu adalah asap kebakaran. Sebab, kepulan asap terlihat begitu besar dan menghitam. Saat itu, angin yang berembus di Banyuwangi cukup kencang.

Tak heran jika toko kain di ujung barat Pasar Banyuwangi tersebut cepat habis dilalap si jago merah. Beberapa saksi kebakaran, seperti Umi, salah seorang karyawan Toko Sahabat, mengaku dirinya tidak menyadari bahwa toko tempatnya mengais rezeki itu tengah terbakar. Sebab, yang pertama terbakar adalah lantai dua.

Bahkan, yang mengetahui terlebih dulu adalah warga sekitar toko. “Banyak orang yang teriak-teriak ada api di atas. Saat itu, banyak orang di lantai satu,” ujar perempuan itu. Hal yang sama juga dialami Siti, karyawan lain. Saat kejadian, Siti mengaku sedang mencuci di lantai dasar. Sesaat setelah pekerjaannya rampung, Siti beranjak ke lantai dua.

Tak dinyana, banyak bagian atas bangunan yang sudah runtuh terkena jilatan api. “Saya benar-benar tidak tahu dan tidak menyadari bahwa toko sudah terbakar,” cetusnya. Dari situlah karyawan yang berada di dalam toko berhamburan keluar menyelamatkan diri.

Beberapa dari mereka dan dibantu warga berusaha menyelamatkan barang yang ada.”Tidak banyak yang diselamatkan, karena api cepat besar dan banyak bagian yang mulai runtuh,” imbuh Siti. Yang patut disayangkan, petugas pemadam kebakaran datang agak terlambat.

Menurut beberapa saksi, api muncul sekitar pukul 12.00. Saat itu banyak yang sudah menghubungi petugas pemadam untuk meminta bantuan. “Petugas pemadam kebakaran datang sekitar pukul 12.23,” ujar saksi tersebut. Selama menunggu petugas, banyak warga yang berusaha memadamkan api menggunakan air mineral dalam kemasan gelas. Mereka melempari api dengan gelas-gelas tersebut.

Hasilnya, tentu saja nihil. Andai saja api tersebut bisa tertawa, pastilah dia terbahak-bahak melihat banyak warga yang berusaha memadamkannya hanya menggunakan air mineral kemasan gelas itu. “Kita panik. Ditakutkan akan menjalar ke bangunan sekeliling,” ucap Agus.

Baca :
Uji KIR Kendaraan di Banyuwangi Kini Bisa Online

Saat petugas pemadam datang, ternyata yang datang hanya dua unit mobil. Itu pun keduanya beroperasi secara bergantian. Sebab, pasokan air sangat sedikit akibat tidak ada hydrant. “Di bagian pojok lampu merah ini dulu ada, tapi tidak tahu kenapa sudah dibongkar,” ujar seorang warga.

Asa kembali muncul ketika mobil pemadam kebakaran tambahan datang. Kali ini, model mobilnya lebih hebat. Namun, apalah arti kehebatan tampilan jika tidak ada hydrant? Ya, salah satu mobil harus bolak-balik mengambil air ketika air habis. Di saat itulah, warga membongkar penutup saluran air di pinggir jalan. Mereka menggunakan alat seadanya, yaitu beberapa ember untuk mengambil air, kemudian disiramkan ke kobaran api yang semakin membara.

“Sebab setiap petugas berhenti menyemprotkan air, api kembali membesar. Karena anginnya juga kencang,” kata warga tadi. Setelah melalui perjuangan yang cukup alot antara petugas dan warga melawan api, sekitar pukul 14.00 api berhasil dijinakkan. Dan bisa ditebak, yang tersisa hanya puing-puing yang sudah hangus.

“Api berhasil dipadamkan melalui perjuangan yang cukup berat,” ujarnya. Hydrant baru ditemukan sesaat setelah api mulai jinak. Ternyata, benda yang sudah lama dibutuhkan tersebut ngendon di balik pagar Masjid Agung Baiturrahman (MAB) Banyuwangi. Meski telah ditemukan, hydrant tersebut sudah tidak banyak membantu.

Sebab, selain api sudah mulai berangsur-angsur padam, hydrant itu tidak bisa digunakan. “Banyak yang berusaha membuka hydrant tersebut tapi petugas sudah berhasil memadamkan api dengan mengambil pasokan air di tempat lain,” pungkasnya. (radar)