sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia.
Kali ini, JICA membiayai pembangunan MRT Jakarta Fase 2, khususnya lintasan Thamrin–Kota, dengan menggunakan skema pendanaan tiga pihak yang dikenal sebagai tri-sub-driver agreement.
Skema ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek strategis nasional, terutama proyek transportasi massal perkotaan.
Tri-sub-driver agreement merupakan skema kerja sama pendanaan yang melibatkan tiga pihak utama, yaitu:
- JICA sebagai pemberi pinjaman,
- Pemilik proyek, dalam hal ini pemerintah atau BUMD (PT MRT Jakarta),
- Kontraktor pelaksana proyek.
Dalam skema ini, pembayaran proyek dilakukan langsung oleh JICA kepada kontraktor, berdasarkan progres dan realisasi pekerjaan yang telah melalui proses verifikasi.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menjelaskan bahwa mekanisme ini bertujuan memastikan penggunaan dana secara tepat dan efisien.
“JICA akan langsung membayar kepada kontraktor. Ini yang kita namakan dengan tri-sub-driver agreement,” ujar Tuhiyat saat peresmian peletakan batu pertama pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni di kawasan Jakarta Pusat.
Efisiensi dan Transparansi Jadi Prioritas
Menurut Tuhiyat, total pengeluaran pembangunan MRT Fase 2 baru dapat diketahui secara pasti setelah seluruh proses konstruksi selesai.
Saat ini, biaya proyek masih berada dalam tahap koreksi dan verifikasi, agar seluruh pekerjaan berjalan secara optimal dan tidak terjadi pemborosan anggaran.
PT MRT Jakarta menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap tahapan pembangunan.
Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa setiap dana yang dicairkan benar-benar sesuai dengan progres fisik di lapangan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip tata kelola proyek yang baik (good project governance), terutama untuk proyek yang didanai melalui kerja sama internasional.
Nilai Investasi MRT Jakarta Fase 2A
Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A diperkirakan menelan biaya sekitar Rp25,3 triliun.
Dana tersebut berasal dari pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang melalui JICA.
Page 2
Sementara itu, MRT Fase 2B, yang direncanakan melanjutkan jalur dari Stasiun Kota hingga Depo Ancol Barat, saat ini masih berada dalam tahap studi kelayakan (feasibility study).
Hasil studi tersebut nantinya akan menentukan kelanjutan pembangunan fase berikutnya.
Groundbreaking Stasiun Harmoni
Sebagai bagian dari Fase 2A, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama PT MRT Jakarta telah melakukan groundbreaking pembangunan pintu masuk (entrance) Stasiun Harmoni Lintas Utara–Selatan.
Peresmian ini menjadi penanda dimulainya pekerjaan fisik di salah satu stasiun kunci pada lintasan pusat kota.
Stasiun Harmoni memiliki peran strategis karena berada di kawasan dengan aktivitas ekonomi dan perkantoran yang tinggi, serta menjadi titik pertemuan berbagai moda transportasi.
Panjang Jalur dan Daftar Stasiun MRT Fase 2A
Lintasan Bundaran HI hingga Kota memiliki panjang sekitar 5,8 kilometer, dengan jarak antarstasiun berkisar antara 0,6 hingga 1 kilometer.
Pada Fase 2A ini, akan dibangun tujuh stasiun bawah tanah, yaitu:
- Stasiun Thamrin
- Stasiun Monas
- Stasiun Harmoni
- Stasiun Sawah Besar
- Stasiun Mangga Besar
- Stasiun Glodok
- Stasiun Kota
Seluruh stasiun tersebut berada di bawah tanah dengan kedalaman antara 17 hingga 36 meter, menyesuaikan kondisi geografis dan infrastruktur eksisting di atasnya.
Penambahan Kereta untuk Mendukung Operasional
Untuk mendukung operasional MRT Jakarta setelah Fase 2A rampung, akan dilakukan penambahan armada kereta.
Jalur Bundaran HI hingga Kota direncanakan mendapatkan delapan rangkaian kereta (trainset) tambahan.
Selain itu, 14 kereta akan ditempatkan di Depo MRT Ancol untuk mendukung operasional dan perawatan.
Penambahan armada ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas angkut penumpang sekaligus menjaga ketepatan waktu perjalanan.
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Pemerintah Jepang melalui Japan International Cooperation Agency (JICA) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung pembangunan infrastruktur transportasi di Indonesia.
Kali ini, JICA membiayai pembangunan MRT Jakarta Fase 2, khususnya lintasan Thamrin–Kota, dengan menggunakan skema pendanaan tiga pihak yang dikenal sebagai tri-sub-driver agreement.
Skema ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek strategis nasional, terutama proyek transportasi massal perkotaan.
Tri-sub-driver agreement merupakan skema kerja sama pendanaan yang melibatkan tiga pihak utama, yaitu:
- JICA sebagai pemberi pinjaman,
- Pemilik proyek, dalam hal ini pemerintah atau BUMD (PT MRT Jakarta),
- Kontraktor pelaksana proyek.
Dalam skema ini, pembayaran proyek dilakukan langsung oleh JICA kepada kontraktor, berdasarkan progres dan realisasi pekerjaan yang telah melalui proses verifikasi.
Direktur Utama PT MRT Jakarta (Perseroda), Tuhiyat, menjelaskan bahwa mekanisme ini bertujuan memastikan penggunaan dana secara tepat dan efisien.
“JICA akan langsung membayar kepada kontraktor. Ini yang kita namakan dengan tri-sub-driver agreement,” ujar Tuhiyat saat peresmian peletakan batu pertama pembangunan pintu masuk Stasiun Harmoni di kawasan Jakarta Pusat.
Efisiensi dan Transparansi Jadi Prioritas
Menurut Tuhiyat, total pengeluaran pembangunan MRT Fase 2 baru dapat diketahui secara pasti setelah seluruh proses konstruksi selesai.
Saat ini, biaya proyek masih berada dalam tahap koreksi dan verifikasi, agar seluruh pekerjaan berjalan secara optimal dan tidak terjadi pemborosan anggaran.
PT MRT Jakarta menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap setiap tahapan pembangunan.
Proses verifikasi dilakukan untuk memastikan bahwa setiap dana yang dicairkan benar-benar sesuai dengan progres fisik di lapangan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip tata kelola proyek yang baik (good project governance), terutama untuk proyek yang didanai melalui kerja sama internasional.
Nilai Investasi MRT Jakarta Fase 2A
Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A diperkirakan menelan biaya sekitar Rp25,3 triliun.
Dana tersebut berasal dari pinjaman kerja sama antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang melalui JICA.







