Dipayungi Sembilan Pohon Kamboja

0
787


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

GIRI- Penyebaran Islam di Bumi Blambangan tidak bisa dilepaskan dari sosok Eyang Putri Ayu Atika atau yang lebih dikenal dengan Buyut Atika. Dalam salah satu riwayat, Buyut Atika disebut-sebut sebagai ibunda Sunan Giri, salah satu Wali Songo penyebar Islam di Tanah Jawa.

Makam Ayu Atika terletak di Bukit Giri, Banyuwangi. Di tempat ini, terdapat sembilan pohon kamboja berusia ratusan tahun. Uniknya, sembilan pohon kamboja itu seolah-olah menaungi makam Buyut Atika. Sayang, satu dari sembilan pohon itu kini sudah mengering.

Terdapat beberapa makam di atas Bukit Giri. Makam utama berada di dalam sebuah bangunan. Ada dua makam di dalam bangunan yang sudah direnovasi tersebut. Salah satunya terpatri nama Eyang Putri Ayu Atika. Satu makam lagi adalah makam abdi tinasih, Tilarso.

Meski saat ini di Bukit Giri dikenal sebagai makam Buyut Atika, tapi sebetulnya ada banyak versi tentang makam tersebut. Ada yang menyebut makam tersebut sebagai makam abdi Maulana Malik Ibrahim. Ada juga yang menyebut makam ini adalah makam putri Banten.

Loading...

Yang pasti, hampir setiap hari makam ini tidak pernah sepi dari warga yang berziarah, terutama saat Ramadan seperti sekarang ini. Makam tersebut dianggap suci, karena Buyut Atika dikenal sebagai ibunda Sunan Giri. Menurut juru kunci makam, Ali, makam itu kali pertama ditemukan neneknya pada 1920-an.

Saat itu, kata dia, warga sekitar Bukit Giri memang sudah mengetahui bahwa makam tersebut adalah tempat peristirahatan terakhir Buyut Atika. “Namun, belum ada yang kenal siapa itu Buyut Atika,” katanya. Riwayat Buyut Atika baru diketahui sekitar tahun 1990-an lewat penelitian para budayawan.

Diceritakan, Atika adalah cucu Raja Blambangan Prabu Menak Sembuyu. Atika yang bernama asli Putri Sekar Dadu dinika-hkan dengan Maulana Ishaq atau Syekh Wali Lanang atau Maulana Ishaq setelah berhasil menyembuhkan sang putri dari penyakit. Maulana Ishaq datang ke Blambangan (cikal bakal Banyuwangi) karena diutus Sunan Ampel untuk mengislamkan Blambangan yang masih Hindu.

Oleh Prabu Menak Sembuyu, Maulana Ishaq diperbolehkan menyebarkan Islam di luar istana. Namun, dia dianggap melanggar karena menyebarkan Islam di kalangan pejabat istana. Maulana Ishaq pun diusir, dan anak yang dikandung Sekardadu harus dilarung ke laut. Bayi yang dilarung itu ditemukan seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada saudagar perempuan bernama Nyai Ageng Pinatih asal Gresik.

Bayi inilah yang ketika dewasa dikenal sebagai Sunan Giri. Oleh karena itu, wilayah tempat makam itu berada dikenal dengan nama Giri. Makam itu dipercaya makam Islam tertua di Banyuwangi yang dibangun pada abad ke-15. Menurut Ali, juru kunci, makam direhab sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1993, 2004, dan 2007. Berdampingan dengan makam Buyut Atikah, terdapat makam abdi tinasih, Tilarso. Selain itu, ada enam makam lain yang merupakan keturunan Mas Alit, Bupati Banyuwangi pertama. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :