sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Banyuwangi menegaskan masjid harus tetap relevan menghadapi berbagai persoalan masyarakat modern.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Daerah DMI Banyuwangi Fathur Rahman dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang digelar di ruang rapat khusus DPRD Banyuwangi, Sabtu (14/2).
Menurut Fathur, fungsi masjid tidak boleh berhenti pada kegiatan ibadah ritual semata, melainkan juga harus menjadi pusat solusi sosial, lingkungan, dan pemberdayaan umat.
“Masjid harus adaptif, inovatif, dan mampu membangun kolaborasi kuat karena persoalan masyarakat semakin kompleks,” ujarnya.
Masjid Didorong Aktif Tangani Isu Lingkungan
Dalam pemaparannya, Fathur menyinggung bencana banjir bandang yang belakangan terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Ia menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan faktor lingkungan serta pola hidup masyarakat.
Karena itu, DMI Banyuwangi mendorong kolaborasi antara pengurus masjid tingkat kabupaten hingga kecamatan bersama pemerintah daerah.
Program yang diusulkan meliputi:
- Gerakan penanaman pohon untuk memperkuat resapan air
- Edukasi pola hidup ramah lingkungan
- Pembiasaan pengelolaan sampah yang benar
- Kampanye kesadaran lingkungan berbasis jamaah
“Ini membutuhkan langkah nyata dan konkret dari pengurus masjid dengan sinergi kuat bersama pemerintah,” tegasnya.
Jamaah Diharapkan Jadi Agen Perubahan
Fathur menilai posisi masjid sangat strategis karena menjadi pusat pendidikan moral dan sosial masyarakat.
Jika gerakan peduli lingkungan dimulai dari masjid, dampaknya dinilai akan lebih luas karena jamaah dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Selain isu lingkungan, DMI Banyuwangi juga menyiapkan program masjid percontohan di setiap kecamatan.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Banyuwangi menegaskan masjid harus tetap relevan menghadapi berbagai persoalan masyarakat modern.
Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Daerah DMI Banyuwangi Fathur Rahman dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) yang digelar di ruang rapat khusus DPRD Banyuwangi, Sabtu (14/2).
Menurut Fathur, fungsi masjid tidak boleh berhenti pada kegiatan ibadah ritual semata, melainkan juga harus menjadi pusat solusi sosial, lingkungan, dan pemberdayaan umat.
“Masjid harus adaptif, inovatif, dan mampu membangun kolaborasi kuat karena persoalan masyarakat semakin kompleks,” ujarnya.
Masjid Didorong Aktif Tangani Isu Lingkungan
Dalam pemaparannya, Fathur menyinggung bencana banjir bandang yang belakangan terjadi di berbagai daerah di Indonesia.
Ia menilai persoalan tersebut berkaitan erat dengan faktor lingkungan serta pola hidup masyarakat.
Karena itu, DMI Banyuwangi mendorong kolaborasi antara pengurus masjid tingkat kabupaten hingga kecamatan bersama pemerintah daerah.
Program yang diusulkan meliputi:
- Gerakan penanaman pohon untuk memperkuat resapan air
- Edukasi pola hidup ramah lingkungan
- Pembiasaan pengelolaan sampah yang benar
- Kampanye kesadaran lingkungan berbasis jamaah
“Ini membutuhkan langkah nyata dan konkret dari pengurus masjid dengan sinergi kuat bersama pemerintah,” tegasnya.
Jamaah Diharapkan Jadi Agen Perubahan
Fathur menilai posisi masjid sangat strategis karena menjadi pusat pendidikan moral dan sosial masyarakat.
Jika gerakan peduli lingkungan dimulai dari masjid, dampaknya dinilai akan lebih luas karena jamaah dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Selain isu lingkungan, DMI Banyuwangi juga menyiapkan program masjid percontohan di setiap kecamatan.







