Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Haul Pendiri Ponpes Al Anwari Kertosari Ditandai 99 Khataman & Beli 17 Petak Tanah

haul-pendiri-ponpes-al-anwari-kertosari-ditandai-99-khataman-&-beli-17-petak-tanah
Haul Pendiri Ponpes Al Anwari Kertosari Ditandai 99 Khataman & Beli 17 Petak Tanah

Haul pendiri Ponpes Al Anwari KH Abdul Wahid Akwan Al-HafidzKe-36 dan Nyai Hj. Fathma Wahid Ke-4 Menghadirkan Mubaligh KH. Syamsuri Mukhtar Pengasuh Ponpes Salaf Darussalam Rejoagung Srono, berlangsung Jumat 13 Februari 2026/25 Sya’ban 1447 H di Halaman Pondok di Jalan KH Abdul Wahid-Kertosari-Banyuwangi.

Hadir pada majelis berkah itu antara lain keluarga besar KH Hasan Abdillah ( Bani Siddiq Jember&KH Hamid Pasuruan) ,Kasie Bimas Kemenag,Direktur LPPTKA-BKPRMI, Ketua MUI Kecamatan Kota bersama Dewan Syuro dan Ketua Tanfidziyah PAC NU Kota , Camat Kota Andik Basuki dan Lurah Nur Hasanah, Kepala SD/MI Se-Kecamaan Kota serta alumni, wali santri serta muslimat dan warga sekitar Ponpes yang terlah berdiri 40 tahun lebih yang kini punya lembaga formal SMP dan MA Unggulan Al-Anwari.

Usai gema sholawat hadrah Al Banjari,Juz Amma Gus Hasan Ali Murtadhoh, LC bin Achmad Siddiq dengan doa khotmil KH Abdullah Faishol yang pangku Pondok di Lamongan. Lanjut Gus Washil baca Surat Yaasiin dilanjut tahlil oleh Gus Ahyar dengan doa adik Nyai Fatmah: KH M. Thohir Ahmad Glenmore

Kepala KUA Sempu Achmad Syakur Isnaini, S. Ag, MHI selalu Ketua alumni berharap berkah dari majelis Haul ini dan alumni menjadi kebanggaan keluarga pendiri karena mampu meneruskan ilmu yang manfaat hingga bermanfaat bagi Ummat.

“Sungguh Kyai dan Nyai sosok yang jadi tauladan keikhlasan berbagi ilmu agama dan peduli berbagi ke sesama. Smoga Al Anwari jadi cahaya dunia akherat, “tutur alumni 1995 ini.

Pengasuh KH. Achmad Siddiq, S. Ag, MHI, ceritakan sejarah dan amalan baik orang tuanya. Sang ayah wafat tahun 1990 saat beliau jelang menuntaskan ngaji kitabnya di Ponpes Darusalam Blok Agung. Dan disuruh pulang oleh Gus Hisyam Syafaat dan mendapati KH. Abdul Wahid meninggal dunia dengan meninggalkan 8 yatim. Pondok sempat akan dilelang.

” Yakinlah hanya munajat Kepada Allah Yang Maha Kaya. Harus ikhtiar dan doa.Harus punya usaha yang ekonomi mandiri yang kuat Jangan sampai terjerat judol dan pinjol. Dan kini mampu beli 17 tanah untuk memperluas pondok. Dan 3 anaknya hafidz dan 15 cucu juga penghafal Al-Qur’an, “tutur alumni Kampus Nurul Jadid Paiton dan putra sulungnya alumni Al Azhar Mesir.

Seraya ungkap sejarah orangtuanya, penyuluh Kemenag ini sampaikan sebulan sebelum Haul ini diadakan khataman oleh santri laki dan perempuan, murid, keluarga dan pamungkas ke 99 alumni santri yang khataman di makam malam jumat hingga dini hari.

Prestasi terakhir murid SMP dan MA yang piawai multimedia, juara 1 PAI dan MHQ hingga nasional, serta ustadzah Handariyatul Masruroh masuk Festival Dai indosiar.

Sementara itu Mubaligh KH. Syamsuri Mukhtar mengawali da’inya dengan sesungguhnya kita yang masih bisa tahlilan ini yang nunut tabarukan . Dan hendaknya kita hendaknya jadi hamba yang bisa bersyukur, walau sedang ditimpah masalah cobaan dan ujian. Pun dapat rejeki yang sedikit pun. Dan rejeki tak harus wujud lahir, tapi batin yang tenang dan badan sehat hingga bisa ibadah. Dan siapa yang pandai bersyukur tentu akan ditambah nikmat-Nya.

Dan hambah yang baik adalah yang ingat mati dan siapkan bekal untuk hidup hakiki di alam akherat. Selanjutnya kyai alumni Blok Agung ini menghidupkan taushiyah yang segar, menarik dengan sholawatan dan puji-pujian dengan bahasa Osing dan Jowo. (Bung Aguk/YC/JN-SW)