Etape II ke Paltuding Dianggap Rute Tengkorak

  • Bagikan
MINUM: Personel Banyuwangi Team melintas di Jalan Raya Baluran, Situbondo, pekan lalu.

Tuan rumah Banyuwangi Team menargetkan masuk tiga besar dalam Banyuwangi Tour de’Ijen pada 7 hingga 9 Desember
mendatang. Seperti apa persiapan mereka?

SUASANA rumah yang asri di kawasan Kelurahan Kertosari, Banyuwangi, itu berbeda dalam beberapa hari terakhir. Yang biasanya sepi aktivitas, kini sedikit ramai dengan kehadiran penghuni baru. Tidak hanya itu, rumah dengan cat kuning dan hijau itu kini juga dipenuhi se peda balap.

Ya, di rumah itulah sejumlah pembalap Banyuwangi Team tinggal. Mereka bukan pembalap biasa. Mereka sudah diakui sebagai penguasa balapan di sejumlah kejuaraan, baik regional, nasional, maupun internasional. Di rumah tersebut juga tinggal pembalap kawakan tanah air, seperti Tonton Sutanto Peraih medali emas PON Riau di kelas ITT itu bakal memperkuat Banyuwangi Team di ajang Banyuwangi Tour d’Ijen mendatang.

Selain Tonton, ada juga pembalap jago tanjakan. Siapa lagi kalau bukan Warseno. Dia merupakan peraih medali perak di krite rium seri LCC di Kebumen, Jawa Tengah. Selain kedua pembalap tersebut, masih ada Ryan Ariehan. Dia merupakan peraih medali perak dan perunggu di PON tahun ini. Selanjutnya, ada peraih medali emas PON 2012 Riau di kategori road race, Fatahillah. Penampilan keempatnya akan di sokong pembalap lokal Banyuwangi, Mohamad Taufik. Pembalap senior dan junior dalam skuad Banyuwangi Team bukan sekadar penggembira di ajang Tour de’Ijen akhir pekan nanti.

Tim berkostum hijau pupus itu bahkan berani menargetkan finis di tiga besar national team. “Kami optimistis bisa ber main dan selesai di tiga besar national team,” cetus Manajer Banyuwangi Team, Dadang Haris Purnomo. Ambisi itu bukan tanpa alasan. Selain diisi pembalap yang kenyang tampil di kejuaraan nasional dan internasional, Banyuwangi Team juga sudah melakukan beberapa per siapan, di antaranya pemusatan latihan di Surabaya dan bersepeda dari Surabaya-Banyuwangi sebagai pemanasan.

Di sisi lain, Guntur Priambodo (direktur tim) juga sudah melakukan simulasi dua dari tiga etape yang akan ditempuh dalam Tour de’Ijen. Hasilnya, Tonton dkk sepakat menyebut bahwa balap sepeda in ternasional pertama di Banyuwangi ini sa ngat berat. Itulah yang dirasakan Banyuwangi Team saat melakukan penjajakan trek yang akan dilalui. Di etape pertama, hambatan ter besar yang akan dihadapi adalah kon disi jalan. Karakter jalan yang sempit men jadi masalah yang harus disiasati para pem balap.

Jalan yang sempit membuat pembagian makanan dan minuman bagi para pembalap menjadi problem tersendiri. “Secara umum tidak ada masalah. Cuma masalah nanti muncul mungkin saat pembagian makanan dan minuman bagi pembalap di stage pertama,” beber Dadang. Tantangan terberat datang di etape kedua. Balapan yang berakhir di Paltuding itu disebut para pembalap sebagai etape te ngkorak. Bagian inilah yang akan menjadi arena pembuktian sesungguhnya. Tidak hanya dalam kapasitas team, tapi individu pembalap juga dipertaruhkan.

Punggawa Banyuwangi Team mem prediksi, etape kedua akan menjadi arena penentuan calon juara. Menilik karakter yang ada, pembalap yang maju ke podium di etape kedua merupakan calon juara di edisi pertama Tour de’Ijen ini. Alasannya sederhana, dibandingkan dua etape lain, etape kedua memberikan tantangan luar biasa. Sebab, tanjakan di stage ini boleh jadi paling maut dari semua balapan yang per nah digelar di Indonesia. Tanjakan yang lumayan tinggi ditambah udara yang cenderung lembap membuat stamina pembalap lebih cepat terkuras.

Pengalaman pembalap Banyuwangi Team, pada rute Kecamatan Licin sampai Perkebunan Lidjen, sepeda masih bisa di pacu 30 Km/jam hingga 45 Km/jam. Na mun, setelah tanjakan Erek-erek, pembalap hanya mampu memacu sepeda maksimal 15 Km/jam. Nah, jalanan yang licin karena udara lembap khas pegunungan juga menuntut pembalap ekstra hati-hati. Bila lengah, bukan mustahil pembalap akan mencium aspal hotmix yang baru saja digelar. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: