Banyuwangi, Jurnalnews.com – Dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional (HPN) 2026, para pegiat media Banyuwangi menggelar pertemuan santai bertajuk “Gesah Sambil Ngopi” di Sekretariat Sinergi Media, Jalan Mayor Supomo No. 10 Banyuwangi, Minggu sore (8/2/2026). Kegiatan yang berlangsung dalam suasana hangat dan penuh nuansa kekeluargaan ini mengusung tema besar “Kearifan Lokal di Era Digital”, sebagai refleksi peran media dalam menjaga nilai-nilai lokal di tengah derasnya arus teknologi informasi.
Acara ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari perwakilan Dinas Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Banyuwangi, pimpinan redaksi Jurnalnews.com, pimpinan media sastrawacana.id, komunitas Gotong Royong 45, para reporter Jejaring Radio Komunitas Broadcast Banyuwangi (JRKBB), hingga pengurus JRKI Jawa Timur. Kolaborasi lintas media dan komunitas ini menjadi simbol kuat sinergi dalam membangun ekosistem informasi yang sehat dan berkarakter lokal.
Wakil Dinas Komdigi Banyuwangi, Nafi Feridian, M.T, mengungkapkan rasa bahagianya dapat kembali bertemu dengan jejaring media komunitas yang telah ia kenal sejak 2012. Ia mengapresiasi semangat konsisten para pegiat media yang dinilainya tidak pernah kendor dalam beradaptasi dengan perkembangan zaman.
“Di era digital ini, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan cerdas, salah satunya dengan membangun kanal-kanal media sosial. Setiap kegiatan bisa menjadi konten,” ujarnya. Nafi menegaskan bahwa konten tidak harus selalu formal, tetapi harus menarik, unik, bahkan lucu, selama tetap dalam koridor etika dan tidak melanggar norma, seperti pornografi dan pornoaksi.
Sementara itu, Masduki, Pimpinan Redaksi Jurnalnews, menyoroti realitas bahwa saat ini ilmu dan hiburan sudah berada dalam genggaman tangan melalui telepon pintar. Menurutnya, kemudahan akses informasi harus diimbangi dengan literasi digital yang baik agar masyarakat tidak terjebak pada konten yang menyesatkan.
“Tugas kita sebagai media lokal adalah memberikan pendampingan dan edukasi kepada masyarakat agar lebih bijak menggunakan HP, sehingga teknologi benar-benar menjadi sarana mencerdaskan, bukan sekadar hiburan,” pesannya.
Pandangan senada disampaikan Afandi Maulana, pimpinan sastrawacana.id yang juga penerbit Lintang. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak lagi dibatasi oleh media frekuensi konvensional. Berbagai platform digital seperti TikTok, Facebook, Instagram, YouTube, hingga Spotify kini menjadi ruang baru distribusi informasi.
“Sekarang tidak perlu alat mahal, studio besar, atau kamera canggih. Cukup dengan HP, kita sudah bisa produksi konten, wawancara, dan menyebarkannya. Bahkan Spotify kini menjadi media yang dekat dengan generasi muda dan pengguna mobil,” ungkapnya.
Melalui forum “Gesah Sambil Ngopi” ini, para pegiat media Banyuwangi sepakat bahwa kearifan lokal harus tetap menjadi ruh dalam setiap produksi konten digital. Di tengah derasnya arus globalisasi informasi, media lokal diharapkan mampu menjadi penyangga nilai budaya, identitas, dan etika masyarakat, sekaligus berperan aktif dalam menciptakan ruang digital yang sehat, kreatif, dan edukatif. (Venus Hadi)






