Hasil Jualan Koran untuk Bantu Orang Tua

0
218
TERSENYUM: Slamet Hariyono menerima penghargaan yang diserahkan Plt. Sekkab Banyuwangi Slamet Kariyono.

Hasil Jualan Koran untuk Bantu Orang Tua Kegigihan Slamet Hariyono, 29, menjalani pekerjaan sebagai penjual koran berbuah manis. Pria yang sehari-hari menjajakan Jawa Pos Radar Banyuwangidi simpang empat Sukowidi, Kecamatan Kalipuro, tersebut dinobatkan sebagai loper teladan tahun 2012.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-SIGIT HARIYADI, Banyuwangi-

BERDEBAR-DEBAR. Mungkin kata itulah yang paling tepat untuk menggambarkan suasana batin Slamet Hariyono Rabu malam kemarin (18/7). Bagaimana tidak, malam itu pria yang sehari-hari bekerja sebagai loper koran tersebut duduk dalam satu ruang bersama para pejabat teras di lingkungan Pemkab Banyuwangi dan Situbondo.

Ya, malam itu Slamet diundang Jawa Pos Radar Banyuwangi untuk menghadiri Malam Tembang Kenangan yang dihelat di rumah makan Pondok Wina, Banyuwangi. Kegia- tan tersebut dihelat untuk menandai malam puncak perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 koran kesayangan Anda ini. Slamet loper yang duduk di deretan kursi nomor dua dari belakang itu tampak canggung dengan suasana tersebut.

Belum cukup sampai di situ, pria yang tinggal di Jalan Yos Sudarso Nomor 4, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, itu berkali-kali dipanggil namanya untuk naik ke panggung. Rupanya Slamet dinobatkan sebagai loper teladan tahun 2012. Di atas panggung, lajang berperawakan kurus itu berdiri berjajar dengan para peraih peng hargaan lain, di antaranya mitra kerja terbaik, agen terbaik, pelanggan terlama, dan kar yawan teladan Jawa Pos Radar Banyuwangi.

Uniknya, tanpa disengaja penyerahan piala dan piagam penghargaan kepada Slamet di serahkan Plt. Sekkab Banyuwangi yang kebetulan namanya sangat mirip dengan dia, yakni Slamet Kariyono. Pria yang sudah lima ta hun menjadi loper itu meng ungkapkan, setiap hari dia be kerja mulai pukul 05.00 sampai pu kul 08.30. Dalam waktu tak lebih dari 3,5 jam, rata-rata dia berhasil menjual 30 eksemplar koran.

“Bekerja sebagai loper butuh kerja keras dan harus pan tang menyerah. Tidak mu-dah lho menjual koran, apalagi bagi mereka yang berjualan di lampu merah seperti saya,” ujar nya. Sehari-hari Slamet memang hanya berjualan di simpang empat traffic lightSukowidi. Dia tidak mengantar koran ke rumah-rumah para pelanggan. “Kesulitan utama menjadi loper adalah saat hujan turun di pagi hari.

Selain khawatir koran basah, para pengguna jalan juga malas beli koran. Mereka yang naik mobil malas membuka kaca mobil, dan yang mengendarai sepeda motor malas membuka jas hujan,” ulas nya. Menurut Slamet, penghasilan yang dia raih dalam sehari bervariasi antara Rp 5 ribu per hari sampai Rp 40 ribu per hari. “Sebagian besar hasil berjualan koran saya tabung.

Sebagian yang lain saya berikan kepada orang tua untuk memenuhi ke butuhan hidup sehari-hari,” pa par anak kedua dari tiga bersaudara putra pasangan Sutrisno, 57, dan Hariyani, 47, ter sebut. Menurut dia, akhir pekan men jadi waktu yang paling di-tunggu. Sebab, setiap hari Sabtu dan Minggu banyak war ga yang pergi mengunjungi tem pat wisata. Lantaran arus kendaraan ramai, semakin banyak koran yang berhasil dia jual.

Dia ceritakan, sebelum menjadi loper, dia sempat bekerja se bagai karyawan di sebuah toko alas kaki di Bumi Blambangan. Na mun, lantaran tidak kerasan bekerja sebagai karyawan toko, dia memutuskan mencari pekerjaan lain. “Setelah saya coba, ternyata menjadi loper cu kup menyenangkan. Waktu kerjanya cenderung singkat, tapi penghasilannya lumayan,” ceritanya. Penghargaan dari Jawa Pos Radar Banyuwangi tersebut, imbuh Slamet, akan melecut semangatnya agar bisa menjual semakin banyak koran setiap hari. (radar)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :