Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Gelombang Selat Bali Selatan Tinggi, Nelayan Muncar Banyuwangi Banyak Pilih Libur Melaut dan Perbaiki Kapal

gelombang-selat-bali-selatan-tinggi,-nelayan-muncar-banyuwangi-banyak-pilih-libur-melaut-dan-perbaiki-kapal
Gelombang Selat Bali Selatan Tinggi, Nelayan Muncar Banyuwangi Banyak Pilih Libur Melaut dan Perbaiki Kapal

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali Selatan berdampak langsung pada aktivitas nelayan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam beberapa hari terakhir, banyak nelayan memilih untuk tidak melaut demi menghindari risiko keselamatan akibat gelombang tinggi dan angin kencang yang datang tidak menentu.

Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. Berdasarkan prakiraan cuaca, gelombang di Selat Bali Selatan—wilayah utama nelayan Muncar mencari ikan—diprediksi berada pada kategori sedang hingga tinggi selama empat hari ke depan, dengan ketinggian mencapai 1 hingga 3 meter.

Salah satu nelayan Pelabuhan Muncar, Ivan Restu, 34, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir suasana pelabuhan terlihat lebih lengang dibandingkan biasanya.

Banyak perahu nelayan yang terparkir rapi di dermaga tanpa aktivitas melaut.

IMG_20260116_134221-2756840434.jpg

BERBENAH: Nelayan di Pelabuhan Muncar sedang memperbaiki jaringnya di atas kapal, Jumat (16/1). (ZAMROZI WAHYU/RADAR BANYUWANGI)

“Sudah satu minggu ini banyak nelayan yang libur. Cuacanya kurang bersahabat, angin dan ombak sering tiba-tiba besar,” ujar Ivan, warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Meski demikian, tidak sedikit nelayan yang tetap nekat melaut. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mereka tetap berangkat, apalagi saat ini sejumlah komoditas ikan bernilai tinggi seperti lemuru dan layur sedang banyak ditemukan di perairan Selat Bali.

“Ada juga yang tetap berangkat. Kalau urusan perut, banyak yang nekat. Ikan lagi keluar, lemuru sama layur lumayan,” katanya.

Bagi nelayan yang memilih tidak melaut, waktu luang dimanfaatkan untuk memperbaiki alat tangkap, jaring, hingga melakukan perawatan perahu dan kapal.

Menurut Ivan, keputusan tersebut diambil untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut yang bisa berujung fatal.

“Ombak dan angin kencang bikin kami takut ambil risiko. Lebih baik kapal diparkir dulu, sambil dibenahi,” terangnya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Agung Dwi, membenarkan adanya potensi gelombang sedang hingga tinggi di perairan Selat Bali Selatan dalam empat hari ke depan.

“Gelombang diperkirakan berkisar antara 1 sampai 3 meter. Kondisi ini cukup berisiko bagi perahu nelayan, terutama yang berukuran kecil,” jelas Agung, Jumat (16/1).


Page 2


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Cuaca buruk yang melanda perairan Selat Bali Selatan berdampak langsung pada aktivitas nelayan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam beberapa hari terakhir, banyak nelayan memilih untuk tidak melaut demi menghindari risiko keselamatan akibat gelombang tinggi dan angin kencang yang datang tidak menentu.

Kondisi tersebut diperkirakan masih akan berlanjut. Berdasarkan prakiraan cuaca, gelombang di Selat Bali Selatan—wilayah utama nelayan Muncar mencari ikan—diprediksi berada pada kategori sedang hingga tinggi selama empat hari ke depan, dengan ketinggian mencapai 1 hingga 3 meter.

Salah satu nelayan Pelabuhan Muncar, Ivan Restu, 34, mengungkapkan bahwa dalam sepekan terakhir suasana pelabuhan terlihat lebih lengang dibandingkan biasanya.

Banyak perahu nelayan yang terparkir rapi di dermaga tanpa aktivitas melaut.

IMG_20260116_134221-2756840434.jpg

BERBENAH: Nelayan di Pelabuhan Muncar sedang memperbaiki jaringnya di atas kapal, Jumat (16/1). (ZAMROZI WAHYU/RADAR BANYUWANGI)

“Sudah satu minggu ini banyak nelayan yang libur. Cuacanya kurang bersahabat, angin dan ombak sering tiba-tiba besar,” ujar Ivan, warga Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar.

Meski demikian, tidak sedikit nelayan yang tetap nekat melaut. Faktor ekonomi menjadi alasan utama mereka tetap berangkat, apalagi saat ini sejumlah komoditas ikan bernilai tinggi seperti lemuru dan layur sedang banyak ditemukan di perairan Selat Bali.

“Ada juga yang tetap berangkat. Kalau urusan perut, banyak yang nekat. Ikan lagi keluar, lemuru sama layur lumayan,” katanya.

Bagi nelayan yang memilih tidak melaut, waktu luang dimanfaatkan untuk memperbaiki alat tangkap, jaring, hingga melakukan perawatan perahu dan kapal.

Menurut Ivan, keputusan tersebut diambil untuk mengurangi risiko kecelakaan di laut yang bisa berujung fatal.

“Ombak dan angin kencang bikin kami takut ambil risiko. Lebih baik kapal diparkir dulu, sambil dibenahi,” terangnya.

Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi, Agung Dwi, membenarkan adanya potensi gelombang sedang hingga tinggi di perairan Selat Bali Selatan dalam empat hari ke depan.

“Gelombang diperkirakan berkisar antara 1 sampai 3 meter. Kondisi ini cukup berisiko bagi perahu nelayan, terutama yang berukuran kecil,” jelas Agung, Jumat (16/1).