Inflasi Terendah Se-Jatim

0
120

inflasiBANYUWANGI – Upaya pengendalian harga yang dilakukan Pemkab Banyuwangi menuai hasil positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi (peningkatan harga secara umum dan kontinu) barang pada Juli 2014 di kabupaten berjuluk Sunrise of Java ini menjadi yang terendah se-Jatim, yakni 0,24 persen. Di seluruh tanah air, inflasi di Bumi Blambangan berada di peringkat lima terbawah.Hebatnya lagi, inflasi Banyuwangi yang sangat rendah itu terjadi pada bulan Ramadan dan Idul Fitri.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Padahal, seperti diketahui, saat Ramadan dan Lebaran, tingkat kebutuhan konsumen, terutama kebutuhan bahan makanan, meningkat cukup signifikan. Kepala Seksi (Kasi) Statistik Distribusi BPS Banyuwangi, Mulyono mengatakan, inflasi Banyuwangi pada Juli 2014 itu lebih rendah dibanding inflasi Jatim sebesar 0,48 persen. Pada periode yang sama, inflasi nasional mencapai 0,93 persen. 

“Ini menunjukkan kenaikan harga barang di Banyuwangi sangat rendah,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar di Pendapa Sabha Swagata Blambangan kemarin (14/8). Mulyono menambahkan, pada Juli 2014 BPS mencatat indeksharga konsumen (IHK) di delapan kota di Jatim. Di delapan kota tersebut, inflasi tertinggi terjadi di Probolinggo, yakni 0,99 persen.

Disusul Sumenep 0,89 persen, Jawa Pos Jumat 15 Agustus 2014 43 Kediri sebesar 0,73 persen, Madiun sebesar 0,61 persen, Malang sebesar 0,49 persen, Surabaya 0,42 persen, Jember sebesar 0,41 persen, dan terendah Banyuwangi sebesar 0,24 persen. Menurut Mulyono, dari tujuh kelompok pengeluaran, enam kelompok di antaranya mengalami kenaikan harga yang ditunjukkan oleh indeks pada kelompok kesehatan sebesar 0,57 persen; kelompok sandang sebesar 0,55 persen; dan kelompok perumahan air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,54 persen.  

Kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami kenaikan indeks sebesar 0,26 persen; kenaikan indeks kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,18 persen; dan kelompok bahan makanan sebesar 0,02 persen. “Komoditas yang memberi andil terjadi inflasi adalah beras, ikan lemuru, tongkol, minyak goreng, daging sapi, daging ayam kampung, emas perhiasan, dan lain-lain.

Loading...

Itu bisa dimaklumi karena saat Ramadan permintaan masyarakat terhadap komoditas-komoditas tersebut naik signifikan. Khusus beras, inflasi dipicu kebutuhan masyarakat terhadap beras kualitas bagus atau punel naik,” kata dia didampingi Kasi Neraca Wilayah BPS Banyuwangi, M. Ruslan. Sementara itu, harga cabai rawit yang biasanya menjadi momok bagi konsumen, kini malah adem-ayem. Bahkan, komoditas berasa pedas itu justru menjadi penghambat inflasi pada Juli 2014. 

Ya, sejak melambungnya harga cabai rawit hingga di atas Rp 60 ribu per kilogram (Kg) beberapa bulan lalu, harga cabai rawit berangsur turun sejak Mei 2014. Selain cabai rawit, komoditas lain yang turun harga sehingga menghambat inflasi adalah cabai merah, bawang putih, tomat, jeruk, teri, dan lain-lain. Dengan inflasi yang rendah tersebut, Pemkab Banyuwangi dianggap berhasil mengendalikan harga.

“Sehingga harga tetap terjangkau masyarakat,” cetus Mulyono pada acara yang juga dihadiri Bupati Abdullah Azwar Anas, Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Slamet Karyono, pimpinan satuan kerja perangkat daerah (SKPD), dan sejumlah pimpinan perbankan di Banyuwangi tersebut. Masih berdasar data BPS, laju inflasi Banyuwangi kalender (Desember 2013 sampai Juli 2014) mencapai 2,24 persen. Laju inflasi 2,24 persen itu lebih rendah dibanding inflasi Jatim sebesar 2,66 persen. 

Demikian halnya dengan laju inflasi year on year (YOY), yakni Juli 2014 terhadap Juli 2013, Banyuwangi sebesar 2,15 persen. Inflasi YOY Banyuwangi itu lebih rendah dibanding laju inflasi YOY Jatim sebesar 4,01 persen. Sementara itu, Bupati Abdullah Azwar Anas mengatakan, laju inflasi yang relatif rendah tersebut terjadi berkat koordinasi yang baik tim pengendali inflasi daerah (TPID). Salah satu contohnya, jika pemerintah daerah lain meminta data dari BPS setahun sekali, Pemkab Banyuwangi intens meminta data dari BPS setiap triwulan bahkan sebulan sekali.

“Sehingga langkah-langkah antisipasi bisa lebih tepat sasaran,” cetusnya. Bupati Anas menambahkan, Pemkab Banyuwangi melakukan operasi pasar untuk menekan kenaikan harga selama Ramadan dan Lebaran. Selain itu, pemkab menjamin stok kebutuhan bahanpangan selama Ramadan dan Lebaran tetap stabil. “Sehingga, kenaikan harga tidak terlalu tinggi. Sebab, harga akan melambung jika stok di pasar menipis,” pungkasnya. (radar)

Loading...