BANYUWANGI, KOMPAS.com – Bambang Haryono bukanlah nama yang asing di kalangan bisnis di Banyuwangi, Jawa Timur.
Ia adalah pioner terciptanya berbagai bisnis yang memanfaatkan sumber daya lokal Banyuwangi untuk dikenalkan ke masyarakat luar.
Mulai dari toko oleh-oleh khas Banyuwangi, Pelangi Sari, hingga perusahaan pembuat kerajinan rumah tangga dari kayu bernama Oesing Craft Indonesia.
Pria kelahiran 19 Mei 1967 tersebut mengembangkan bisnisnya dengan memberdayakan masyarakat Banyuwangi, mulai dari UMKM, hingga aktif menjalin kerja sama dengan lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren.
Hasilnya, mereka berkembang bahkan dapat mandiri, seiring dengan bisnis Bambang yang juga kian mendunia.
Baca juga: Dulu Nakal dan Miskin, Kini Firdiansyah Punya Kampung Robot dan Bina Ribuan Sekolah
Namun, apa yang dilihat hari ini dari Bambang, sebetulnya tak pernah dibayangkan oleh Bambang kecil yang lahir sebagai anak keempat dari lima bersaudara yang hidup dalam keterbatasan.
“Saya tidak pernah terbayangkan. Bapak saya meninggal saat saya kecil, ibu saya orang gak punya yang setiap harinya jualan kue basah,” kata Bambang membuka ceritanya.
Saat kecil, ia terbiasa mengencangkan ikat pinggang dengan hanya makan dua kali dalam sehari.
Keterbatasan juga menyebabkan pendidikan saudara-saudaranya pun amburadul karena terkendala biaya.
Namun Bambang tak ingin diam saja. Saat kecil, ia sudah ingin mengangkat derajat keluarga, atau setidaknya dapat mengumpulkan pundi-pundi uang agar ia terus dapat bersekolah.
Banyak usaha Bambang coba, mulai sejak duduk di bangku SMP, ia bekerja sebagai penganyam kursi karet pentil, di mana ia mendapatkan upah Rp 75 untuk satu set berisi dua kursi dan satu meja.
Berjuang
KOMPAS.COM/Dokumentasi Bambang Bambang Haryono saat menjelaskan produknya ke calon pembeli asal Korea Selatan. Tak ingin pasrah dengan keadaan, ia mencoba berbagai peruntungan, mulai dari berjualan temulawak, jajanan, hingga es lilin yang dipelajarinya secara otodidak untuk kemudian dijual.
Baca juga: Imam Syafii, Jadi Tukang Kebersihan Pasar demi Kuliah, Kini Miliki 4 Soccer Academy
“Mulai SMP saya sudah kerja. Pernah jadi sales, pelatih senam, sampai pelatih renang. Modal nekat, mau tidak mau harus saya lakukan.”
“Setiap kesendirian dan rasa sedih, saya bawa dalam doa, Tuhan pasti kasih jalan lebih baik,” tutur dia.
Kala itu, Bambang yang berusia remaja terbiasa bangun jam empat pagi untuk berangkat ke Pasar Banyuwangi mencari bahan-bahan dan mengolahnya sendiri.
Page 2
Sebagai anak kecil tanpa pengalaman dan pendampingan, kegagalan tak terhitung jumlahnya, namun ia merasa tidak punya pilihan selain terus maju.
“Mulai SMA, saya kembangkan lagi temulawak ke sari buah. Pulang sekolah bikin temulawak, pagi bikin es lilin, bikin kerupuk, saya titip ke warung-warung yang sekarang kalau ketemu, orangnya masih ingat sama saya,” kenang dia.
Waktu terus berjalan, saat duduk di bangku kuliah, Bambang mulai berpikir secara dewasa bahwa tanpa disadari, selama ia bisa telah mandiri dari perjuangannya sendiri.
Saat itu, ia pun bertekad untuk menata manejemen keuangannya, dan menguatkan keyakinan bahwa di mana ada kemauan harus bekerja keras dan tidak mudah menyerah.
“Jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. Kita dukung dengan doa dan disiplin, pasti terealisasi,” tutur dia.
Masalah di tengah perkembangan
Bisnis Bambang pun terus berkembang. Ia mendirikan pusat oleh-oleh pada tahun 1988 dan pada tahun 1991, bisnisnya berkembang pesat, bahkan produknya bisa merambah ke Pulau Bali.
Baca juga: Bocah yang Dulu Penjual Jamu Keliling Itu Kini Jadi Pengacara
Melihat bisnis yang tengah bagus, Bambang tak menyangka bahwa ia akan menghadapi titik terendah dalam hidupnya.
“Saat itu saya muda tidak bisa kontrol emosi. Saya berambisi perluas jaringan, karyawan banyak kredit motor untuk memperluas jaringan, karena kalau pakai sepeda gayung tidak bisa jauh,” ujarnya.
Namun niat baik Bambang tak bersambut, ia harus menghadapi karyawan yang kabur membawa sepeda motor yang sudah dikredit, meninggalkan beban tanggungan untuknya hingga membuatnya stres.
“Keuangan amburadul, uang penjualan tidak dibayar, saya punya tanggungan utang, tanggungan istri dan anak saya, saya bingung memulai kembali,” ungkap dia.
Ia seperti berada di ujung jalan buntu dan tak memiliki gairah bekerja. Doa pun tak lagi ia panjatkan dengan tenang, ia malas tidur dan sering meratapi bagaimana kepercayaannya diingkari.
Namun, tujuh hari setelahnya, pada pukul 01.00 WIB, ia mengalami titik balik dalam hidupnya kala melihat anak istrinya tidur. Saat itu ia menangis.
“Kalau saya tidak bangkit siapa lagi. Kondisi saya compang-camping, tapi kemudian timbul semangat kerja lagi dan saya mulai bangkit. Apa pun saya lakukan,” tutur dia.
Kembangkan kreativitas
Tahun 1999, ia mengembangkan sisi kreatifnya dengan memanfaatkan hasil alam. Kayu asem yang bernilai ekonomi rendah namun melimpah ruah, disulap menjadi bahan baku kerajinan.
Secara bertahap, produknya rajin mengikuti pameran lokal, meningkat ke level provinsi, nasional bahkan hingga go international dan membidik pasar Jepang, Korea Selatan dan Amerika.
Page 3
“Tahun 2005 mulai ada komunikasi dengan perusahaan Mitsubishi Jepang. Rejeki kita tidak tahu, perusahaan sebesar itu percaya kepada kami,” ucap dia.
Usaha kerajinan yang dijalankannya terus berkembang dengan menggerakkan UMKM yang disebutnya sebagai pahlawan penyelamat perekonomian bangsa.
Hingga saat ini ada 20 kelompok UMKM yang mendukung produksi Oesing Craft Indonesia.
Ia juga bermitra dengan lembaga pemasyarakatan dan pondok pesantren untuk memberikan pendampingan untuk membangun skill hingga kepercayaan diri.
Bekal ini yang lalu dapat direalisasikan setelah bebas atau menyelesaikan pendidikan. “Tujuan utama saya mulai dulu, ada kerinduan membantu pemerintah dengan cara saya sendiri,” tutur dia.
Baca juga: Dulu Nakal dan Miskin, Kini Firdiansyah Punya Kampung Robot dan Bina Ribuan Sekolah
Kala perekonomian Indonesia dihantam pandemi Covid 19, bisnis kreatif tersebut memberi harapan untuk Indonesia, di mana kala itu, Bambang justru menerima order dari Negeri Jepang hingga lebih dari 100 persen dibandingkan waktu sebelumnya.
Hal tersebut juga tak lepas dari jelinya Bambang melihat peluang. Meski Covid 19 menyebabkan krisis global seperti menutup harapan, namun ia yakin bahwa selalu ada jalan, dan ia memilih bergerak untuk membuka pintu-pintu peluang yang ada.
Kini, produk kreatif produksi Oesing Craft Indonesia berhasil tembus ke pasar internasional dan meraih berbagai penghargaan tingkat dunia.
Dari perjalanan panjang yang tak mudah, Bambang mengatakan bahwa ia hanya ingin berbagi pengalaman bahwa tidak ada sesuatu yang instan.
Perlu konsistensi, tidak mudah menyerah dan bersandar pada Tuhan kala bergerak.
“Bahkan saat krisis, asal mau bergerak didampingi doa, tidak ada sesuatu yang tidak mungkin jika kita ada kemauan,” ujar dia.
Kini, dari pengalamannya, Bambang aktif diundang sebagai pembicara, bahkan sering menjadi dosen tamu untuk menebar ilmu kepada generasi muda.
“Saya dulu sulit, saya tidak ingin mereka sulitnya melebihi saya. Dahulu saya tidak ada yang mengarahkan, apa saja saya kerjakan yang penting bisa sekolah dan makan, sekarang saya ingin mereka tumbuh tanpa kehilangan arah,” tandas dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang







