Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Kamera Trap Ungkap Jejak Satwa Dilindungi di Hutan Kota Trenggalek, Landak Jawa hingga Monyet Terekam

kamera-trap-ungkap-jejak-satwa-dilindungi-di-hutan-kota-trenggalek,-landak-jawa-hingga-monyet-terekam
Kamera Trap Ungkap Jejak Satwa Dilindungi di Hutan Kota Trenggalek, Landak Jawa hingga Monyet Terekam

RADARVBANYUWANGI.ID – Upaya pengungkapan potensi keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Kota (Huko) Trenggalek, Jawa Timur, terus dilakukan.

Salah satunya melalui pemasangan kamera trap, alat pemantau satwa liar yang kini menjadi metode penting dalam inventarisasi biodiversitas, khususnya untuk mendokumentasikan satwa yang jarang terlihat secara langsung.

Kamera trap bekerja secara otomatis dengan merekam foto dan video saat mendeteksi pergerakan satwa.

Namun, pemasangan alat ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Penentuan lokasi menjadi faktor krusial agar kamera dapat merekam aktivitas satwa liar yang melintas di habitat alaminya.

Hal tersebut diterapkan dalam pemasangan kamera trap di kawasan Hutan Kota Trenggalek, sebuah ruang terbuka hijau dengan nuansa alami yang berada di tengah kota.

Jalur-jalur yang diperkirakan sering dilalui satwa liar dipilih sebagai titik pemasangan kamera, termasuk area semak dan jalur alami yang relatif minim gangguan manusia.

Target Burung Endemik Jawa-Bali

Pemasangan kamera trap di Huko Trenggalek bertujuan untuk mendapatkan data visual Paok Pancawarna (Hydrornis guajanus), burung endemik Pulau Jawa dan Bali yang dilindungi oleh pemerintah.

Keberadaan burung ini sebelumnya tercatat dalam kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati pada akhir tahun 2025.

Jika keberadaan Paok Pancawarna dapat terdokumentasi secara visual, hal tersebut diyakini mampu menambah daya tarik wisata alam di Hutan Kota Trenggalek, khususnya wisata pengamatan burung (birdwatching) yang kini semakin diminati.

Belum Rekam Target Utama, Mamalia Dilindungi Justru Tertangkap Kamera

Meski belum berhasil merekam Paok Pancawarna, hasil kamera trap yang terpasang selama satu minggu pada akhir Januari 2026 tetap memberikan temuan yang menggembirakan.

Kamera justru merekam beberapa jenis satwa liar mamalia, yakni Landak Jawa (Hystrix javanica), Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus), serta Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

Landak Jawa yang termasuk satwa dilindungi terekam beberapa kali melintas di depan kamera pada malam hari.

Bahkan, mamalia berduri ini terdokumentasi sedang berpasangan, menandakan kondisi habitat yang relatif aman dan mendukung aktivitas alaminya.

Sementara itu, Monyet Ekor Panjang menjadi satu-satunya primata yang terekam aktif pada siang hingga sore hari.


Page 2

Adapun Musang Pandan dan Landak Jawa lebih banyak tertangkap kamera saat beraktivitas pada malam hari, sesuai dengan pola hidup nokturnal mereka.

Bukti Habitat Satwa Masih Terjaga

Temuan tersebut semakin menegaskan bahwa Hutan Kota Trenggalek memiliki potensi keanekaragaman satwa liar yang cukup tinggi, meski berada di kawasan perkotaan.

“Meskipun belum mendapatkan video target utama, yakni Paok Pancawarna, kami tetap senang dengan hasil kamera trap ini. Salah satunya berhasil merekam Landak Jawa yang merupakan satwa dilindungi,” ujar David, Polisi Kehutanan yang terlibat langsung dalam pemasangan kamera trap, seperti dilansir dari laman bbksdajatim.org.

Hal senada disampaikan Ardiansyah, Polisi Kehutanan lainnya. Menurutnya, hasil rekaman menunjukkan bahwa kawasan Huko Trenggalek masih menjadi habitat yang layak bagi satwa liar.

“Huko ini ternyata menjadi habitat yang sesuai bagi setidaknya tiga mamalia besar yang berhasil terekam kamera,” ungkapnya.

Kolaborasi Lintas Instansi

Pemasangan kamera trap ini merupakan hasil kolaborasi antara Polisi Kehutanan, pengelola Hutan Kota Trenggalek, serta Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek.

Proses pemasangan hingga pengambilan kamera trap dilakukan bersama dan disaksikan langsung oleh pihak terkait pada 3 Februari 2026.

Plt. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Tony, menyambut positif hasil tersebut.

Ia menilai temuan kamera trap menjadi bukti penting bahwa kawasan Hutan Kota Trenggalek memiliki fungsi ekologis yang nyata.

“Kami senang dengan hasil ini, karena membuktikan bahwa kawasan Huko merupakan rumah yang baik bagi satwa liar. Ini menjadi modal penting untuk pengembangan wisata alam berbasis konservasi,” ujarnya.

Potensi Wisata Alam Berbasis Konservasi

Ke depan, temuan kamera trap ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan konsep wisata edukatif dan ramah lingkungan di Hutan Kota Trenggalek.

Selain sebagai ruang terbuka hijau, kawasan ini dinilai berpotensi menjadi lokasi edukasi konservasi dan pengamatan satwa liar bagi masyarakat.

Meski belum merekam Paok Pancawarna, pemasangan kamera trap akan terus dievaluasi dan direncanakan kembali dengan titik pemasangan yang lebih strategis.

Upaya ini diharapkan dapat memperkaya data keanekaragaman hayati sekaligus memperkuat posisi Hutan Kota Trenggalek sebagai kawasan hijau yang bernilai ekologis dan wisata. (*)


Page 3

RADARVBANYUWANGI.ID – Upaya pengungkapan potensi keanekaragaman hayati di kawasan Hutan Kota (Huko) Trenggalek, Jawa Timur, terus dilakukan.

Salah satunya melalui pemasangan kamera trap, alat pemantau satwa liar yang kini menjadi metode penting dalam inventarisasi biodiversitas, khususnya untuk mendokumentasikan satwa yang jarang terlihat secara langsung.

Kamera trap bekerja secara otomatis dengan merekam foto dan video saat mendeteksi pergerakan satwa.

Namun, pemasangan alat ini tidak bisa dilakukan sembarangan. Penentuan lokasi menjadi faktor krusial agar kamera dapat merekam aktivitas satwa liar yang melintas di habitat alaminya.

Hal tersebut diterapkan dalam pemasangan kamera trap di kawasan Hutan Kota Trenggalek, sebuah ruang terbuka hijau dengan nuansa alami yang berada di tengah kota.

Jalur-jalur yang diperkirakan sering dilalui satwa liar dipilih sebagai titik pemasangan kamera, termasuk area semak dan jalur alami yang relatif minim gangguan manusia.

Target Burung Endemik Jawa-Bali

Pemasangan kamera trap di Huko Trenggalek bertujuan untuk mendapatkan data visual Paok Pancawarna (Hydrornis guajanus), burung endemik Pulau Jawa dan Bali yang dilindungi oleh pemerintah.

Keberadaan burung ini sebelumnya tercatat dalam kegiatan inventarisasi keanekaragaman hayati pada akhir tahun 2025.

Jika keberadaan Paok Pancawarna dapat terdokumentasi secara visual, hal tersebut diyakini mampu menambah daya tarik wisata alam di Hutan Kota Trenggalek, khususnya wisata pengamatan burung (birdwatching) yang kini semakin diminati.

Belum Rekam Target Utama, Mamalia Dilindungi Justru Tertangkap Kamera

Meski belum berhasil merekam Paok Pancawarna, hasil kamera trap yang terpasang selama satu minggu pada akhir Januari 2026 tetap memberikan temuan yang menggembirakan.

Kamera justru merekam beberapa jenis satwa liar mamalia, yakni Landak Jawa (Hystrix javanica), Musang Pandan (Paradoxurus hermaphroditus), serta Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

Landak Jawa yang termasuk satwa dilindungi terekam beberapa kali melintas di depan kamera pada malam hari.

Bahkan, mamalia berduri ini terdokumentasi sedang berpasangan, menandakan kondisi habitat yang relatif aman dan mendukung aktivitas alaminya.

Sementara itu, Monyet Ekor Panjang menjadi satu-satunya primata yang terekam aktif pada siang hingga sore hari.