Kerap Hujan, Pelintas Waswas Ambrol Lagi

  • Bagikan

kerapAkses menuju Gunung Ijen telah diperbaiki. Sayang, perbaikan jalan di Erek-erek menyisakan persoalan. Seperti apa kondisinya?

GERIMIS menyambut kami ke tika memasuki lereng Gunung Ijen, tepatnya di Desa Tamansari, Ke camatan Licin, Banyuwangi, pagi itu (16/7). Aki bat nya, hawa dingin di wilayah berhawa sejuk tersebut terasa menusuk tulang. Semakin mendekati kaki gunung yang digemari wisatawan lantaran me miliki panorama yang memesona itu, jalanan semakin lengang. Bahkan, berpapasan dengan motor lain hanya sesekali kami alami.

Sesampai di tanjakan Erek-erek, kami disuguhi pemandangan satu unit traktor berwarna kuning tengah parkir rapi di sisi kiri jalan. Traktor itu tampak gagah “berdiri” di ba wah tebing dengan kemiringan nyaris 90 derajat alias tegak lurus tersebut. Mendapati hal itu, kami pun memutuskan me markir mobil yang kami tumpangi tepat di depan traktor yang tengah parkir ter sebut.

Kebetulan, dari dalam mobil, kami melihat sebatang pohon yang baru di tebang berdiri persis di atas plengsengan. Kami yakin, kayu tersebut adalah kayu yang sempat melintang di atas badan jalan aki bat longsor beberapa hari sebelumnya. Lantaran penasaran, kami memilih mendekati kayu tersebut dengan cara berjalan kaki sejauh kurang lebih 50 meter.

Benar, saat kami mendekat, kami mendapati sisi kiri tebing setinggi sekitar 15 meter itu menunjukkan ciri-ciri telah mengalami longsor. Tidak ingin cepat menyimpulkan, kami pun bertanya kepada warga yang biasa me lintasi jalan tersebut. Sayang, beberapa menit menunggu, tidak satu pun pengguna jalan melintas. Padahal, rintik gerimis semakin besar.

Akhirnya, saat gerimis reda yaitu se kitar sepuluh menit kemudian, sayup-sa yup terdengar raungan knalpot motor. Un tungnya lagi, pengendara motor ter sebut benar-benar sesuai kriteria calon na rasumber yang kami maksud, yakni kerap atau bahkan nyaris setiap hari melintasi tanjakan Erek-erek. “Ya, saya hampir setiap hari melintasi jalan ini. Tebing ini longsor Rabu pekan lalu (10/7),” ujar pria yang be lakangan diketahui bernama Isroni, 43, tersebut.

Menurut Isroni, sebenarnya longsor telah dua kali terjadi di tanjakan Erek-erek ter sebut. Longsor pertama terjadi sekitar dua bulan lalu. Tetapi, longsor pertama ter sebut tidak sebesar longsor yang terjadi Rabu pekan lalu. “Longsor kedua itu cukup be sar. Bahkan, hingga ada kayu yang ro boh dan melintang di jalan. Akibatnya, ja lan tersebut tidak bisa dilewati. Tetapi, sepengetahuan saya, tidak ada korban terkait peristiwa tersebut,” kata dia.

Isroni menambahkan, longsor terjadi aki bat hujan lebat yang melanda lereng Gunung Ijen sejak sekitar pukul 18.00 Selasa (9/7) hingga Rabu siang. Selain itu, lerenghasil pengerukan tersebut dirasa kurang mi ring. “Tanahnya hampir tegak lurus. Ku rang miring,” jlentrehnya. Masih kata Isroni, tanjakan Erek-erek su dah bisa dilalui kendaraan sejak Kamis (11/7).

Sebab, hujan kembali mengguyur ka wasan tersebut, sehingga tanah yang long sor di jalan terbawa air hujan yang me ngalir deras. “Pohon yang melintang juga sudah ditebang. Traktor ini tiba sekitar Jumat (12/7) lalu. Setelah benar-benar dibersihkan dengan traktor, barulah jalur ini bisa dilewati dengan normal,” papar pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh be lerang di Puncak Gunung Ijen tersebut.

Namun demikian, pria asal Desa Banjar, Ke camatan Licin, itu mengaku masih waswas melintasi tanjakan Erek-erek. Apalagi, hujan masih kerap melanda kawasan tersebut. Dia khawatir terjadi longsor susulan. Sementara itu, meskipun kemiringan te bing setinggi belasan meter itu nyaris 90 de rajat, tapi nyatanya tinggi plengsengan yang berfungsi mencegah longsor di lokasi tersebut hanya sekitar satu meter. “Semoga plengsengan ini ditinggikan. Biar kami tidak waswas saat pulang-pergi bekerja,” pungkas Isroni. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: