Berita Terkini Seputar Banyuwangi
Budaya  

Kesenian Mocoan Gaya Baru Campursari

temaTema Drama Bisa Fleksibel Sesuai Pesanan. Tradisi Mocoan awalnya merupakan pembacaan karya sastra keagamaan yang dilakukan masyarakat Banyuwangi secara turun menurun. Namun dalam perjalanannya, tradisi ini berubah tampilan menjadi tontonan drama yang menghibur.

DALAM tradisi ini, dilakukan pembacaan lontar Yusuf yang berisi riwayat Nabi Yusuf sejak kecil, dewasa, hingga bertakhta di Mesir. Mocoan di lakukan sebagai bagian dari acara ruwatan, bersih desa, petik laut, juga pada acara tradisi tujuh bulanan kehamilan, kelahiran, khitanan, dan pernikahan. Dalam perjalanannya, tradisi mocoan berubah menjadi seni pertunjukan yang tidak lagi pada konteks ritual.

Pada perkembangan terbaru, ke senian ini lebih menonjolkan sisi hi buran. Seperti yang dilakukan kelompok seni ‘Mocoan Gaya Baru Campurasi’ Desa Watukebo, Kecamatan Rogo jampi. Kelompok kesenian yang di rintis 30 tahun silam itu mampu ber tahan di tengah dahsyatnya gempuran kesenian modern. Walau tergolong kesenian tradisional, animo masyarakat Banyuwangi terhadap penampilan kesenian mocoan gayabaru campursari ini masih cukup tinggi.

Seperti yang terlihat dalam pertunjukan seni periodik di Panggung Terbuka Taman Blambangan Banyuwangi Sabtu malam (18/5) lalu. Walau hujan turun cukup lebat, ratusan warga tidak beranjak sedikit pun menyaksikan pertunjukan kesenian mocoan campursari itu. Malam itu, pertunjukan mengangkat cerita tentang perjodohan seorang pemuda dan pemudi. Dikisahkan, seorang pemuda menolak perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya.

Pemuda itu lebih memilih pemudi pilihan sendiri daripada menerima gadis pilihan ke dua orang tuanya. Namun pemuda itu, akhirnya menyesal menolak perjodohan kedua orang tuanya. Sebab, perempuan yang di jodohkan kedua orang tuanya lebih can tik daripada perempuan pilihannya sendiri. Singkat cerita, walau perempuan pilihan lebih jelek namun si pemuda itu tetap melangsungkan pernikahan walau harus memendam kekecewaan.

Se mentara itu, tak hanya warga Banyuwangi yang asyik menonton pertunjukan drama tradisional itu. Dua warga asing dari Belgia, yakni Melisa dan Sabine juga terkesima dan kagum dengan penampilan grup kesenian mocoan gaya baru campursari pimpinan Misran itu. Kedua warga Belgia itu mengaku ter kesima dengan kostum, musik, dan gerakan teater yang cukup humoris. Walau tidak paham bahasanya, tapi keduanya wisatawan itu mengaku memahami jalannya show yang dimainkan sekitar 12 orang tersebut.

“I like everything about this show, the cos tume, music and movement of dance are amazing,” jelas Melisa. Sementara itu, pimpinan grup mocoan cam pursari tersebut, Misran, mengaku tidak mudah bisa bertahan dan eksis hingga 30 tahun. Kelompok kesenian tersebut pernah mengalami masa-masa suram pada 10 ta hun pertama berdiri. Animo warga terhadap kesenian mocoan sempat memudar dan tidak menarik untuk di tonton.

Selama beberapa tahun, kesenian itu jarang manggung pada acara-acara yang digelar warga. “Saat itu, saya mulai ber pikir untuk mengubah gaya tampilan. Se telah 10 tahun berdiri, saya putuskan unt uk memasukkan beberapa seni dalam per tunjukan mocoan,” jelas Misran. Keputusan untuk memasukkan beberapa ke senian dalam tampilannya, ternyata jadi keputusan yang tepat. Sejak saat itu, ke lompok kesenian itu semakin eksis dan un dangan job manggung terus mengalir.

Dalam 20 tahun terakhir ini, kelompok kesenian ini tidak pernah sepi dari job. Dalam sebulan, kegiatannya manggung mereka lakukan 10 hingga 20 kali. Bahkan, pada bulan-bulan tertentu, job manggung bisa full 30 hari dalam sebulan. Musim panen manggung, biasanya terjadi pada bulan Syawal setelah puasa Ramadan dan pada bulan Zulhijjah atau bulan haji. “Kalau bulan Ramadan, saya tidak menerima job. Istirahat total selama satu bulan,” tuturnya.

Yang menarik, tema yang dibawakan se lalu berubah dari panggung satu ke panggung lainnya. Untuk masalah tema tampilan, kelompok ini menyerahkan sepenuhnya kepada pengundang atau tuan rumah pemilik hajat. Jika pemilik hajat yang memberikan tema, Misran mengaku lebih enak daripada tema dipersiapkan sendiri. “Kalau acara pernikahan, biasanya tuan rumah minta tema tentang kisah asmara kedua pengantin. Kalau acara khitanan, temanya lebih pada pesan-pesan moral agama,” jelasnya.

Sementara itu, kelompok kesenian itu memiliki 40 pemain yang terdiri dari 30 orang laki-laki dan 10 pemain perempuan. Untuk pemain perempuan, tidak tetap dan selalu ganti personel. Misran mengaku, sebelum grup tersebut tampil, mereka mencari sosok pemain perempuan yang cocok dengan tema yang akan dibawakan. Pemain perempuan yang di tampilkan tidak sembarang figur. Hanya figur perempuan yang terpilih yang bisa tampil di atas panggung. “Tidak memilih pemain perempuan tetap, agar penonton tidak bosan dan selalu ada figur baru dalam se tiap pertunjukan,” paparnya.

Sedangkan 30 pemain laki-laki itu merupakan figur tetap. Mereka bisa membawakan banyak karakter dan etnis yang ada di Banyuwangi. Mulai suku Using, Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Arab, dan Tiong hoa. Bahkan beberapa pemain bisa membawa karakter warga asing. Walau jumlah personelnya 40 orang, namun tidak semua acara di tampilkan. Ha nya pada acara-acara besar seperti khitanan, pernikahan dan pertunjukan lain nya yang diturunkan semua. “Kalau acaranya biasa, cukup 12 orang sudah bagus, dan menghibur penonton,” katanya. Biasanya, semua pemain diturunkan semua pada acara manggung besar.

Jika acara manggung besar, acaranya cukup lama mulai pukul 19.00 dan baru berakhir se kitar pukul 03.30. Cerita yang dibawakan, dibagi dalam beberapa episode. Pada awal di mulainya acara, cerita yang ditampilkan lebih me nonjolkan tradisi asli mocoan. “Kalau sudah tengah malam, ya kita main janger,” ujarnya. Lalu bagaimana dengan tarif? Untuk tarif, Misran mengaku tergantung dengan jarak lokasi acara dan tema cerita yang dibawakan. Kalau temanya membutuhkan banyak pemain, tentu akan lebih mahal. “40 pemain selalu kita bawa namun tidak mesti semuanya main,” tandasnya.(bay)

WP Radio
WP Radio
OFFLINE LIVE