TIMES BANYUWANGI, JAKARTA – Korban tewas akibat kebakaran gedung apartemen bertingkat tinggi di distrik Tai Po, Hong Kong sampai Minggu (30/11/2025) sore bertambah menjadi 146 orang, setelah para petugas menemukan 18 jenazah berserakan di berbagai lokasi mulai dari ruang hunian, tangga, hingga di atap bangunan.
Sebanyak 54 jenazah masih menunggu identifikasi. Sementara jumlah yang terluka 79 orang.
Memasuki hari kelima sejak kebakaran terjadi, ribuan orang tadi terlihat mengantre untuk mengenang para korban. “Hingga pukul 4 sore tadi, jumlah korban tewas mencapai 146 orang, 79 orang terluka, dan 54 jenazah masih menunggu identifikasi,” kata polisi dalam jumpa pers.
Sebanyak 18 jenazah tambahan ditemukan oleh Unit Identifikasi Korban Bencana (DVIU) kepolisian, yang bertanggung jawab menyisir menara yang hangus terbakar. Sebagian besar ditemukan di Wang Tai House, salah satu dari dua menara yang kerusakannya paling parah di kompleks perumahan tersebut.
Penggeledahan di empat menara, yakni Wang Yan House, Wang Dao House, Wang Kin House, dan Wang Tai House juga dinyatakan telah selesai. Selanjutnya tiga blok terdampak lainnya juga akan digeledah.
Operasi di Wai Shing House telah dilakukan pada hari Minggu dan tim pencari berencana untuk melanjutkan pencarian di Wang Sun House.
“Operasi pencarian akan memakan waktu tiga hingga empat minggu untuk merampungkan operasi, dengan tiga bangunan yang tersisa merupakan tantangan paling rumit,” kata Komandan regional kepolisian Wilayah Utara Baru, Lam Man-han
“Satu-satunya menara yang belum tersentuh di kompleks tersebut yakni Wang Chi House, akan tetap disegel karena risiko tertimpa reruntuhan,” tambah Lam.
Kepala DVIU, Cheng Ka-chun mengatakan, kondisi di dalam blok yang dilanda kebakaran sangat berbahaya, bagian dalamnya hangus terbakar dan tidak ada listrik untuk penerangan.
Ia menambahkan, pencahayaan di dalam gedung membuat pencarian menjadi sulit bahkan di siang hari, karena petugas harus mengandalkan lampu depan dan lampu portabel disamping perangkat penerangan yang disediakan dari daratan Tiongkok.
“Bahkan di siang hari, sangat sulit untuk melihat di area yang jauh dari jendela. Kami harus mengerahkan seluruh tenaga dan melakukan pencarian di siang hari agar paling efisien,” ujar Cheng.
Kondisi di luar blok juga sulit karena area tersebut dipenuhi puing-puing yang jatuh, termasuk perancah bambu dan unit pendingin udara.
Sementara itu Wakil direktur pengembangan dan konstruksi di Departemen Perumahan, Leung Hung-wai mengatakan dalam sebuah pengarahan, bahwa kedelapan gedung tinggi di Wang Fuk Court itu tampaknya memiliki struktur yang kokoh dan tidak ada risiko runtuh dalam waktu dekat.
“Survei pendahuluan telah diselesaikan untuk enam bangunan, sementara survei untuk dua bangunan lainnya – Wang Sun House dan Wang Cheong House – diperkirakan selesai pada hari Minggu,” katanya.
Leung mengatakan beberapa unit yang rusak parah memerlukan penguatan struktural sebelum penyelidik dapat masuk dan mengumpulkan bukti dengan aman.
Sekretaris Urusan Pemuda Alice, Mak Mei-kuen berjanji pada hari Minggu bahwa pemerintah SAR akan memastikan perumahan sementara gratis bagi semua penduduk yang mengungsi akibat kebakaran sampai mereka bisa kembali ke rumah mereka yang telah dibangun kembali.
“Untuk meminimalkan risiko kebakaran serupa lainnya, pihak berwenang telah menangguhkan 30 proyek bangunan swasta karena masalah keselamatan, termasuk 28 proyek yang dikelola oleh Prestige Construction and Engineering Co Ltd, kontraktor di Wang Fuk Court,” kata juru bicara Departemen Bangunan.
Di dekat reruntuhan gedung Wang Fuk Court di Tai Po yang luluh lantak akibat kebakaran, jumlah karangan bunga terus bertambah sementara aliran pelayat yang sunyi sepanjang sore hari membentang sepanjang hampir 2 kilometer di sepanjang Sungai Lam Tsuen, berdekatan dengan lokasi kebakaran.
Waktu tunggu untuk menyampaikan belasungkawa setidaknya dua jam setelah pukul 4 sore, dengan lebih dari 5.000 orang mengantre.
Di tengah duka cita kolektif, warga Hong Kong telah diperingatkan tentang penipu yang mencoba mencuri informasi pribadi, termasuk data rekening bank dan kredit, dengan menyamar sebagai penyelenggara upaya bantuan bagi korban kebakaran Tai Po.
Polisi membagikan salinan formulir pendaftaran yang diduga palsu di akun media sosial mereka, dan menghimbau masyarakat untuk waspada.
Mereka juga telah mendirikan unit khusus penyelidikan korban, dengan hotline yang dijalankan oleh lebih dari 50 petugas 24 jam sehari, untuk membantu warga terdampak mencari anggota keluarga yang masih belum dapat dihubungi. (*)
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |







