Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Tol Probolinggo–Lumajang (Prolajang) Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Tapal Kuda, Ini Rute, Investasi, dan Dampaknya

tol-probolinggo–lumajang-(prolajang)-disiapkan-jadi-penggerak-ekonomi-tapal-kuda,-ini-rute,-investasi,-dan-dampaknya
Tol Probolinggo–Lumajang (Prolajang) Disiapkan Jadi Penggerak Ekonomi Tapal Kuda, Ini Rute, Investasi, dan Dampaknya

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Lumajang (Tol Prolajang) menjadi salah satu proyek strategis yang digadang-gadang mampu mengubah wajah ekonomi wilayah Tapal Kuda Jawa Timur.

Infrastruktur sepanjang sekitar 32 kilometer tersebut dirancang untuk menghubungkan Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo di wilayah utara dengan Kabupaten Lumajang di bagian selatan.

Proyek tol ini akan dikelola oleh PT Surya Majapahit Marga Wisata dan menjadi bagian penting dari pengembangan konektivitas kawasan prioritas Bromo–Tengger–Semeru (BTS).

Keberadaan Tol Prolajang diharapkan tidak hanya mempercepat mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor pariwisata, pertanian, hingga industri pengolahan.

Masuk Proyek Prioritas Nasional Jawa Timur

Pembangunan Tol Probolinggo–Lumajang memiliki dasar hukum kuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Jawa Timur.

Dalam regulasi tersebut, proyek ini masuk daftar pengembangan kawasan strategis BTS yang menjadi destinasi wisata unggulan nasional.

Nilai investasi pembangunan tol diperkirakan mencapai Rp4,7 triliun dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Melalui skema ini, pendanaan tidak sepenuhnya bergantung pada APBN. Pihak swasta dilibatkan dalam pembiayaan, pembangunan, sekaligus pengelolaan jalan tol.

Model KPBU dinilai mampu mempercepat realisasi proyek karena memberikan fleksibilitas investasi sekaligus mengurangi beban fiskal pemerintah.

Rute dan Panjang Jalan Tol

Tol Prolajang dirancang memiliki panjang sekitar 25–32 kilometer, dengan jalur utama sebagai berikut:

  • Ujung Utara: Terhubung dengan Jalan Tol Pasuruan–Probolinggo melalui Simpang Susun Probolinggo di Kecamatan Leces.
  • Simpang Susun Utama:
    • Simpang Susun Probolinggo
    • Simpang Susun Klakah
    • Simpang Susun Lumajang
  • Ujung Selatan: Direncanakan tersambung dengan Tol Lumajang–Jember (rencana pengembangan).

Trase tol akan mengikuti kontur wilayah dan sebagian sejajar dengan Jalan Nasional Rute 25 sebelum berakhir di kawasan Jalan Lintas Timur (JLT) Lumajang.

Pintu keluar-masuk tol direncanakan berada di Kecamatan Klakah dan kawasan JLT Lumajang.

Solusi Kemacetan Jalur Nasional Rute 25

Salah satu alasan utama pembangunan Tol Prolajang adalah tingginya beban lalu lintas di Jalan Nasional Rute 25 yang selama ini menjadi satu-satunya jalur utama penghubung Lumajang–Probolinggo menuju Surabaya, Malang, maupun wilayah lain di Jawa Timur.

Sejumlah persoalan kronis di jalur tersebut antara lain:

Sumber: Radar Jember, Radar Bromo, Dari berbagai sumber


Page 2

  • Jalan berliku dan naik-turun di kawasan perbukitan.
  • Lajur sempit yang sulit diperlebar karena jurang dan bangunan permanen.
  • Persilangan rel kereta aktif.
  • Banyak kendaraan logistik berjalan lambat atau mogok di jalur tanjakan.

Kondisi ini kerap menyebabkan kemacetan panjang, terutama saat arus mudik Lebaran dan libur Natal–Tahun Baru, bahkan pernah membuat jalur lumpuh total.

Kehadiran tol diharapkan mampu mengurangi risiko kecelakaan sekaligus mempercepat distribusi barang.

Tahapan Perencanaan dan Pembangunan

Perencanaan Tol Prolajang telah melalui beberapa tahapan sejak diterbitkannya Perpres 80/2019.

Pemerintah daerah sebelumnya menargetkan:

  • Tahap desain dan perencanaan teknis: penyusunan trase, gerbang tol, dan kebutuhan lahan.
  • Pembebasan lahan: meliputi wilayah Kecamatan Leces (Probolinggo) hingga Ranuyoso, Klakah, dan Kedungjajang (Lumajang).
  • Tahap konstruksi: dilakukan setelah proses administrasi dan investasi rampung.

Meski target awal sempat mengarah pada operasional lebih cepat, proyek masih membutuhkan proses panjang terkait investasi dan kesiapan lahan.

Dorong Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi Lumajang

Pemerintah Kabupaten Lumajang menilai keberadaan tol akan menjadi katalis pertumbuhan ekonomi daerah.

Beberapa sektor yang diprediksi berkembang pesat antara lain:

  • Pariwisata kawasan Bromo–Semeru
  • Pertanian dan distribusi hasil panen
  • Industri pengolahan berbasis lokal
  • Kawasan logistik dan pergudangan

Dengan upah minimum kabupaten (UMK) yang relatif kompetitif, Lumajang diperkirakan akan menarik investor baru setelah konektivitas meningkat.

Pemda bahkan berencana menyertakan saham melalui BUMD PD Semeru dalam pengelolaan tol.

Potensi Perpanjangan Hingga Jember

Dalam rencana jangka panjang, Tol Prolajang tidak menutup kemungkinan diperpanjang hingga Kecamatan Jatiroto dan terhubung langsung dengan Kabupaten Jember.

Jika terealisasi, jalur ini akan memperkuat konektivitas ekonomi wilayah Tapal Kuda yang selama ini menjadi pusat pertumbuhan baru di Jawa Timur bagian timur.

Namun untuk tahap awal, fokus pembangunan masih berada pada jalur Leces hingga Kedungjajang.

Dampak Strategis bagi Kawasan Tapal Kuda

Keberadaan Tol Probolinggo–Lumajang dinilai strategis karena:

  • Mempercepat waktu tempuh antarwilayah.
  • Menurunkan biaya logistik.
  • Mengurangi kepadatan jalur nasional.
  • Membuka akses wisata internasional menuju Bromo dan Semeru.
  • Mendorong pemerataan pembangunan di Jawa Timur selatan.

Jika proyek berjalan sesuai rencana investasi, Tol Prolajang berpotensi menjadi tulang punggung baru mobilitas ekonomi di kawasan timur Jawa Timur sekaligus memperkuat jaringan jalan tol nasional di Pulau Jawa. (*)

Sumber: Radar Jember, Radar Bromo, Dari berbagai sumber


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Rencana pembangunan Jalan Tol Probolinggo–Lumajang (Tol Prolajang) menjadi salah satu proyek strategis yang digadang-gadang mampu mengubah wajah ekonomi wilayah Tapal Kuda Jawa Timur.

Infrastruktur sepanjang sekitar 32 kilometer tersebut dirancang untuk menghubungkan Kota Probolinggo dan Kabupaten Probolinggo di wilayah utara dengan Kabupaten Lumajang di bagian selatan.

Proyek tol ini akan dikelola oleh PT Surya Majapahit Marga Wisata dan menjadi bagian penting dari pengembangan konektivitas kawasan prioritas Bromo–Tengger–Semeru (BTS).

Keberadaan Tol Prolajang diharapkan tidak hanya mempercepat mobilitas masyarakat, tetapi juga membuka peluang investasi baru di sektor pariwisata, pertanian, hingga industri pengolahan.

Masuk Proyek Prioritas Nasional Jawa Timur

Pembangunan Tol Probolinggo–Lumajang memiliki dasar hukum kuat melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Jawa Timur.

Dalam regulasi tersebut, proyek ini masuk daftar pengembangan kawasan strategis BTS yang menjadi destinasi wisata unggulan nasional.

Nilai investasi pembangunan tol diperkirakan mencapai Rp4,7 triliun dengan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Melalui skema ini, pendanaan tidak sepenuhnya bergantung pada APBN. Pihak swasta dilibatkan dalam pembiayaan, pembangunan, sekaligus pengelolaan jalan tol.

Model KPBU dinilai mampu mempercepat realisasi proyek karena memberikan fleksibilitas investasi sekaligus mengurangi beban fiskal pemerintah.

Rute dan Panjang Jalan Tol

Tol Prolajang dirancang memiliki panjang sekitar 25–32 kilometer, dengan jalur utama sebagai berikut:

  • Ujung Utara: Terhubung dengan Jalan Tol Pasuruan–Probolinggo melalui Simpang Susun Probolinggo di Kecamatan Leces.
  • Simpang Susun Utama:
    • Simpang Susun Probolinggo
    • Simpang Susun Klakah
    • Simpang Susun Lumajang
  • Ujung Selatan: Direncanakan tersambung dengan Tol Lumajang–Jember (rencana pengembangan).

Trase tol akan mengikuti kontur wilayah dan sebagian sejajar dengan Jalan Nasional Rute 25 sebelum berakhir di kawasan Jalan Lintas Timur (JLT) Lumajang.

Pintu keluar-masuk tol direncanakan berada di Kecamatan Klakah dan kawasan JLT Lumajang.

Solusi Kemacetan Jalur Nasional Rute 25

Salah satu alasan utama pembangunan Tol Prolajang adalah tingginya beban lalu lintas di Jalan Nasional Rute 25 yang selama ini menjadi satu-satunya jalur utama penghubung Lumajang–Probolinggo menuju Surabaya, Malang, maupun wilayah lain di Jawa Timur.

Sejumlah persoalan kronis di jalur tersebut antara lain:

Sumber: Radar Jember, Radar Bromo, Dari berbagai sumber