sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Saluran drainase yang tersumbat di sempadan Jalan Gajah Mada, Dusun Krajan, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, mulai meresahkan warga.
Luapan air dari got tersebut tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga menimbulkan bau tak sedap yang mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Kondisi ini dikeluhkan para pedagang, terutama pelaku usaha makanan yang berjualan di sepanjang jalan tersebut. Aroma menyengat kerap muncul saat air selokan meluap akibat aliran yang tidak lancar.
Salah satu pegawai rumah makan di lokasi tersebut, Dio Nurangga, 22, mengaku persoalan ini sudah berlangsung cukup lama.
“Sudah sering meluap, tiga hari sekali pasti meluber ke jalan,” katanya.
Ganggu Pembeli, Warga Sering Sedot Air
Menurut Dio, dirinya bersama warga dan pekerja di sekitar lokasi beberapa kali berinisiatif melakukan penyedotan air secara mandiri. Upaya itu dilakukan agar bau tidak semakin menyebar dan mengganggu pelanggan.
“Tiga hari lalu baru disedot. Kenapa disedot? Karena baunya mengganggu orang beli makan,” cetusnya.
Namun, penyedotan hanya menjadi solusi sementara. Beberapa hari kemudian, air kembali meluap karena diduga ada sumbatan di bagian bawah gorong-gorong.
Dio menduga saluran di bawah jalan mengalami penyumbatan cukup parah sehingga air tidak bisa mengalir normal.
“Kemungkinan di bawah (gorong-gorong) ini tersumbat, makanya airnya tidak bisa mengalir,” ujarnya.
Air Mengalir hingga Halaman Masjid
Masalah semakin pelik karena air luapan tidak berhenti di badan jalan. Air tersebut mengalir ke area yang lebih rendah, termasuk hingga halaman Masjid Annur Genteng yang lokasinya tidak jauh dari titik genangan.
“Airnya mengalir ke tempat yang rendah. Sering sampai masjid. Kalau di sana kerap dikeluhkan bau, kena roda motor dan terinjak sandal jamaah,” keluh Dio.
Tak hanya bau, saat hujan deras mengguyur, kawasan tersebut juga kerap tergenang. Meski ketinggian air tidak terlalu tinggi, kondisi itu tetap mengganggu pengguna jalan dan aktivitas warga.
Page 2
Camat Genteng, Satriyo, mengaku telah menindaklanjuti keluhan warga. Pihaknya sudah melaporkan kondisi drainase tersebut ke Dinas Pekerjaan Umum Cipta Karya Perumahan dan Permukiman Banyuwangi untuk dilakukan penanganan.
“Sudah kami laporkan ke Dinas PU CKPP karena untuk menyelesaikan itu kita perlu adanya normalisasi,” katanya.
Ia menyebutkan, pihak kecamatan juga berkoordinasi dengan petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Banyuwangi Sektor Genteng untuk melakukan asesmen di lokasi.
“Dari hasil asesmen memang drainasenya sudah tersumbat sejak lama. Kami upayakan segera ada tindak lanjut,” tandasnya.
Koordinator Damkarmat Genteng, Sutikno, membenarkan pihaknya menerima laporan dari masyarakat.
Namun saat dilakukan pengecekan, penanganan tidak bisa maksimal karena keterbatasan peralatan.
“Mulanya kami dimintai bantuan untuk melakukan penyedotan, itu tidak bisa karena keterbatasan peralatan,” pungkasnya.
Warga berharap pemerintah segera melakukan normalisasi dan perbaikan menyeluruh pada saluran drainase di kawasan tersebut.
Selain mengganggu kenyamanan, bau tak sedap dan genangan air juga dikhawatirkan berdampak pada kesehatan serta aktivitas ekonomi warga di pusat Kota Genteng.
Jika tidak segera ditangani, persoalan drainase mampet ini berpotensi semakin parah saat intensitas hujan meningkat.
Normalisasi saluran dinilai menjadi solusi jangka panjang agar aliran air kembali lancar dan lingkungan sekitar terbebas dari bau menyengat. (sas/sgt)
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Saluran drainase yang tersumbat di sempadan Jalan Gajah Mada, Dusun Krajan, Desa Gentengkulon, Kecamatan Genteng, mulai meresahkan warga.
Luapan air dari got tersebut tidak hanya menggenangi jalan, tetapi juga menimbulkan bau tak sedap yang mengganggu aktivitas masyarakat sekitar.
Kondisi ini dikeluhkan para pedagang, terutama pelaku usaha makanan yang berjualan di sepanjang jalan tersebut. Aroma menyengat kerap muncul saat air selokan meluap akibat aliran yang tidak lancar.
Salah satu pegawai rumah makan di lokasi tersebut, Dio Nurangga, 22, mengaku persoalan ini sudah berlangsung cukup lama.
“Sudah sering meluap, tiga hari sekali pasti meluber ke jalan,” katanya.
Ganggu Pembeli, Warga Sering Sedot Air
Menurut Dio, dirinya bersama warga dan pekerja di sekitar lokasi beberapa kali berinisiatif melakukan penyedotan air secara mandiri. Upaya itu dilakukan agar bau tidak semakin menyebar dan mengganggu pelanggan.
“Tiga hari lalu baru disedot. Kenapa disedot? Karena baunya mengganggu orang beli makan,” cetusnya.
Namun, penyedotan hanya menjadi solusi sementara. Beberapa hari kemudian, air kembali meluap karena diduga ada sumbatan di bagian bawah gorong-gorong.
Dio menduga saluran di bawah jalan mengalami penyumbatan cukup parah sehingga air tidak bisa mengalir normal.
“Kemungkinan di bawah (gorong-gorong) ini tersumbat, makanya airnya tidak bisa mengalir,” ujarnya.
Air Mengalir hingga Halaman Masjid
Masalah semakin pelik karena air luapan tidak berhenti di badan jalan. Air tersebut mengalir ke area yang lebih rendah, termasuk hingga halaman Masjid Annur Genteng yang lokasinya tidak jauh dari titik genangan.
“Airnya mengalir ke tempat yang rendah. Sering sampai masjid. Kalau di sana kerap dikeluhkan bau, kena roda motor dan terinjak sandal jamaah,” keluh Dio.
Tak hanya bau, saat hujan deras mengguyur, kawasan tersebut juga kerap tergenang. Meski ketinggian air tidak terlalu tinggi, kondisi itu tetap mengganggu pengguna jalan dan aktivitas warga.








