sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar duka menyelimuti Banyuwangi. Mantan Bupati Banyuwangi periode 1991–2000, H. T. Purnomo Sidik, dikabarkan wafat pada Kamis (8/1/2026) dini hari.
Informasi tersebut beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat, tokoh daerah, serta para mantan pejabat di Kota Gandrung.
Pesan duka yang beredar menyebutkan, H. T. Purnomo Sidik meninggal dunia di Kota Malang, Jawa Timur.
Ungkapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai lapisan masyarakat yang merasa kehilangan sosok pemimpin Banyuwangi pada dekade 1990-an tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah pulang ke haribaan Allah SWT Bapak H. T. Purnomo Sidik, Bupati Banyuwangi periode 1991–2000.
Semoga almarhum diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya,” demikian salah satu pesan yang beredar luas di media sosial.
H. T. Purnomo Sidik, yang memiliki nama lengkap Kombes Pol (Purn) H. Turyono Purnomo Sidik, dikenal sebagai bupati yang menjabat cukup lama, yakni selama dua periode berturut-turut.
Ia memimpin Banyuwangi selama hampir satu dekade sebelum tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Ir. H. Samsul Hadi pada tahun 2000.
Selama masa kepemimpinannya, Purnomo Sidik menorehkan sejumlah kebijakan dan program pembangunan yang hingga kini masih dikenang.
Salah satu warisan pentingnya adalah perintisan pembangunan Anjungan Wisata Desa Wisata Osing pada tahun 1995.
Destinasi budaya tersebut dibangun di atas lahan sekitar 2,5 hektare dengan anggaran mencapai Rp4 miliar dan menjadi fondasi awal pengembangan pariwisata berbasis budaya Osing di Banyuwangi.
Namun demikian, nama Purnomo Sidik juga lekat dengan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Banyuwangi, yakni tragedi pembantaian dukun santet pada tahun 1998.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah situasi nasional yang tidak stabil menjelang runtuhnya Orde Baru.
Pada 6 Februari 1998, saat menjabat sebagai bupati, Purnomo Sidik mengeluarkan sebuah radiogram bernomor 300/70/439.013/1998 yang ditujukan kepada seluruh camat dan unsur Muspika di Banyuwangi.
Sumber: Radar Banyuwangi, Wikipedia, disarikan dari berbagai sumber, wa grup fd2b
Page 2
Radiogram itu berisi instruksi untuk mencegah terjadinya kekerasan terkait isu dukun santet yang saat itu mulai merebak.
Dalam radiogram tersebut, camat dan aparat desa diminta mengimbau warga yang pernah dituduh sebagai dukun santet agar mengamankan diri atau sementara waktu pindah ke tempat lain.
Tujuan awal kebijakan itu disebut sebagai langkah perlindungan.
Namun dalam praktiknya, radiogram tersebut justru berkembang liar di masyarakat.
Data nama-nama yang diduga dukun santet bocor dan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu sebagai legitimasi untuk melakukan aksi kekerasan.
Tragedi pun meluas, menyebabkan puluhan korban jiwa dan memicu trauma mendalam di tengah masyarakat Banyuwangi.
Peristiwa itu sempat memicu gelombang kritik dan tuntutan dari sebagian warga serta tokoh agama yang meminta Purnomo Sidik mundur dari jabatannya.
Meski demikian, ia tetap menyelesaikan masa jabatannya hingga akhir periode.
Pemerhati sejarah Banyuwangi, Suhalik, pernah menyebut bahwa sebelum 1998, kearifan lokal masyarakat Banyuwangi hanya mengenal pengusiran terhadap orang yang dituduh dukun santet, bukan pembunuhan.
Aksi-aksi anarkis yang terjadi kala itu diduga kuat dipicu oleh provokator dari luar daerah.
Kini, wafatnya H. T. Purnomo Sidik menutup satu bab perjalanan panjang tokoh yang penuh dinamika dalam sejarah Banyuwangi.
Di mata masyarakat, ia dikenang sebagai sosok pemimpin dengan jasa pembangunan sekaligus figur kontroversial yang memimpin di masa sulit.
Kepergian Purnomo Sidik menjadi momentum refleksi bagi Banyuwangi untuk terus belajar dari sejarah—baik prestasi maupun luka masa lalu—demi menata masa depan yang lebih baik. (*)
Sumber: Radar Banyuwangi, Wikipedia, disarikan dari berbagai sumber, wa grup fd2b
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabar duka menyelimuti Banyuwangi. Mantan Bupati Banyuwangi periode 1991–2000, H. T. Purnomo Sidik, dikabarkan wafat pada Kamis (8/1/2026) dini hari.
Informasi tersebut beredar luas di berbagai grup WhatsApp dan dengan cepat menyebar di kalangan masyarakat, tokoh daerah, serta para mantan pejabat di Kota Gandrung.
Pesan duka yang beredar menyebutkan, H. T. Purnomo Sidik meninggal dunia di Kota Malang, Jawa Timur.
Ungkapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai lapisan masyarakat yang merasa kehilangan sosok pemimpin Banyuwangi pada dekade 1990-an tersebut.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah pulang ke haribaan Allah SWT Bapak H. T. Purnomo Sidik, Bupati Banyuwangi periode 1991–2000.
Semoga almarhum diampuni dosanya dan diterima amal ibadahnya,” demikian salah satu pesan yang beredar luas di media sosial.
H. T. Purnomo Sidik, yang memiliki nama lengkap Kombes Pol (Purn) H. Turyono Purnomo Sidik, dikenal sebagai bupati yang menjabat cukup lama, yakni selama dua periode berturut-turut.
Ia memimpin Banyuwangi selama hampir satu dekade sebelum tongkat estafet kepemimpinan diserahkan kepada Ir. H. Samsul Hadi pada tahun 2000.
Selama masa kepemimpinannya, Purnomo Sidik menorehkan sejumlah kebijakan dan program pembangunan yang hingga kini masih dikenang.
Salah satu warisan pentingnya adalah perintisan pembangunan Anjungan Wisata Desa Wisata Osing pada tahun 1995.
Destinasi budaya tersebut dibangun di atas lahan sekitar 2,5 hektare dengan anggaran mencapai Rp4 miliar dan menjadi fondasi awal pengembangan pariwisata berbasis budaya Osing di Banyuwangi.
Namun demikian, nama Purnomo Sidik juga lekat dengan salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah Banyuwangi, yakni tragedi pembantaian dukun santet pada tahun 1998.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah situasi nasional yang tidak stabil menjelang runtuhnya Orde Baru.
Pada 6 Februari 1998, saat menjabat sebagai bupati, Purnomo Sidik mengeluarkan sebuah radiogram bernomor 300/70/439.013/1998 yang ditujukan kepada seluruh camat dan unsur Muspika di Banyuwangi.
Sumber: Radar Banyuwangi, Wikipedia, disarikan dari berbagai sumber, wa grup fd2b








