Melawan Keputusan Menteri

0
274
Loading...

Akibatnya, harga elpiji melonjak dari kisaran Rp 13.500 menjadi 15.000 per tabung. Tentu saja yang paling merasakan imbas kenaikan itu adalah rakyat kecil. Sebab, mereka adalah konsumen utama elpiji tabung hijau tersebut. Sedangkan masyarakat kelas menengah ke atas lebih banyak memakai elpiji nonsubsidi. Fakta ini boleh dibilang lebih parah daripada yang terjadi saat pemerintah menaikkan bahan bakar minyak jenis premium. Karena premium juga digunakan oleh mobil-mobil yang dipakai masyarakat menengah ke atas.

Bedanya, rencana kenaikan BBM premium itu mendapat reaksi keras berbagai elemen masyarakat. Kali ini, kenaikan elpiji subsidi secara sepihak oleh Hiswana Migas Jember belum direaksi publik. Apalagi, kebijakan tersebut bertentangan dengan keputusan menteri ESDM. Bila ini dibiarkan, berarti pemerintah tak punya “wibawa” karena keputusannya yang menyangkut rakyat banyak itu dengan mudah dikangkangi. Sebaliknya, bila rakyat waktu itu ramai menolak kebijakan kenaikan BBM, tapi kini membiarkan kenaikan elpiji subsidi, oh.. sungguh terlalu…(radar)

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Baca :
Usai Keliling 9 Negara, KRI Bima Suci Singgahi Banyuwangi