sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Kabut tebal yang menyelimuti jalur pendakian Kawah Ijen, Kecamatan Licin, menyisakan cerita yang tak mudah dilupakan.
Muhammad Dzikri Maulana, 16, seorang santri asal Dusun Ampelgading, Desa Tamansari, sempat dinyatakan hilang selama dua hari satu malam.
Ia terpisah dari rombongan dan bertahan sendirian di gunung sebelum akhirnya ditemukan selamat oleh tim SAR gabungan.
Kini, remaja yang mondok di Ponpes Fathul Ulum Bulusan itu masih menjalani perawatan di Puskesmas Licin.
Secara fisik kondisinya cukup baik. Namun secara psikis, ia masih tampak linglung dan belum sepenuhnya pulih.
Berangkat Tanpa Restu Ibu
Di ruang rawat inap, Dzikri terbaring ditemani ibunya, Suhartatik, 47. Tangan sang ibu berulang kali mengusap dahi putra bungsunya yang tertidur. Raut wajahnya menyimpan lelah sekaligus syukur.
Dzikri baru lima hari pulang dari pondok ketika empat temannya datang mengajak mendaki Ijen.
Satu teman tinggal dekat rumah di Desa Tamansari, sementara tiga lainnya berasal dari Desa Telemung.
“Sore itu dia izin mau naik Ijen. Tidak saya izinkan. Dia juga minta sangu, tetap tidak saya beri,” tutur Suhartatik.
Namun, tanpa sepengetahuannya, sang ayah memberi izin sekaligus uang saku. Selepas salat magrib, kelima remaja itu berangkat menuju Ijen. Suhartatik hanya bisa pasrah.
“Saya melarang, tapi bapaknya malah ngasih uang,” ucapnya lirih.
Sebagai warga lokal, Dzikri dan teman-temannya tidak mengurus surat keterangan sehat maupun tiket masuk. Mereka berangkat dini hari dan mulai mendaki sekitar pukul 01.00.
Telepon Dini Hari yang Menggantung
Keganjilan mulai terasa ketika Dzikri tak kunjung pulang pada pagi hari. Sang ibu meminta anak sulungnya, Lusiana, 29, untuk mencari kabar. Saat itulah terungkap bahwa Dzikri terpisah dari rombongan sejak pagi.
Page 2
“Dia cuma ingat naik jam 1 malam. Di atas kabut. Sampai puncak sebelum subuh. Selebihnya masih samar,” kata Yuliana.
Ia bahkan sempat berbicara sendiri dan terlihat linglung. Pendampingan psikologis terus dilakukan untuk membantu memulihkan kondisi mentalnya.
Pelajaran dari Gunung yang Bersahabat
Selama ini, Kawah Ijen kerap dianggap sebagai gunung yang relatif ramah pendaki dibanding beberapa gunung lain di Jawa. Jalurnya jelas dan ramai wisatawan.
Namun, kabut tebal, suhu dingin, serta kontur tebing tetap menyimpan risiko.
Peristiwa yang menimpa Dzikri menjadi pengingat bahwa pendakian bukan sekadar soal fisik. Persiapan mental, administrasi, perlengkapan, hingga komunikasi yang baik dalam rombongan sangat menentukan keselamatan.
Keluarga sempat dibuat heran saat menemukan kunci motor Dzikri masih tertancap. Mereka menduga Dzikri mungkin turun lalu naik lagi, atau benar-benar lupa karena panik dan kebingungan.
Kini, di balik selimut ruang rawat, Dzikri perlahan menata kembali ingatannya. Sang ibu tak lagi mempersoalkan larangan yang tak diindahkan. Yang terpenting, putranya pulang dalam keadaan selamat.
Gunung mungkin terlihat bersahabat. Namun satu kelengahan kecil bisa berubah menjadi ujian panjang—seperti yang dialami seorang santri 16 tahun di jalur Kawah Ijen. (fre/aif)
Page 3
Namun sebelum kabar hilang terkonfirmasi, Lusi sempat dua kali berkomunikasi lewat telepon.
Panggilan pertama terjadi sekitar pukul 03.30. Karena masih tertidur, Lusi tak sempat mengangkat. Ia lalu menelepon balik. Telepon diangkat, tetapi Dzikri tak menjawab.
“Saya cuma dengar ada orang tanya ke adik saya, ‘kamu kenapa sendiri?’ Terus adik saya jawab, ‘saya menunggu teman saya’. Setelah itu telepon mati,” kenangnya.
Sekitar pukul 07.00, Lusi kembali menghubungi. Kali ini jawaban Dzikri mulai tak nyambung.
“Saya tanya motornya di mana. Dia bilang dipakai bapak. Lalu dia bilang sedang di Situbondo,” ujar Lusi.
Padahal, saat itu diduga Dzikri masih berada di kawasan puncak Ijen. Ucapannya yang melantur membuat keluarga makin panik.
Ditemukan di Tebing Curam
Setelah laporan resmi masuk, operasi pencarian besar-besaran dilakukan.
Tim gabungan dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, TNI-Polri, BKSDA, BPBD, relawan, unsur mapala, pelaku wisata, hingga perangkat desa dan keluarga korban terlibat.
Upaya itu membuahkan hasil pada Kamis (19/2) pukul 16.16 WIB. Dzikri ditemukan dalam kondisi selamat di area tebing dengan radial 6,7 derajat dan jarak sekitar 890 meter dari titik awal dilaporkan hilang.
Proses evakuasi dilakukan dengan teknik vertical rescue. Medan curam dan berkabut membuat proses penyelamatan berlangsung hati-hati.
Pada pukul 17.50 WIB, Dzikri berhasil diturunkan ke Pos Paltuding sebelum dibawa ambulans menuju Puskesmas Licin.
Selama hampir 30 jam, ia bertahan di alam terbuka.
Fisik Stabil, Psikis Masih Labil
Kepala Puskesmas Licin dr Nira Ista Dewi menyampaikan, kondisi fisik Dzikri cukup baik. Tidak ditemukan luka serius maupun tanda dehidrasi berat.
Namun, dari sisi psikis, Dzikri masih belum stabil.
Psikolog Puskesmas Licin, Yuliana, mengatakan Dzikri sudah mulai mengingat identitas dasarnya seperti nama dan tanggal lahir. Tetapi saat ditanya detail kejadian di puncak, ia tampak kebingungan.







