Menguji Data Kitab

0
66

Anggota-Lembaga-Falakiyah-PCNU-Banyuwangi-menyaksikan-GMT-di-depan-Masjid-Al-Ikhlas,-Jalen,-Desa-Setail,-kemarin.

PENGURUS Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi melalui Lembaga Falakiyah melakukan observasi langsung gerhana matahari total (GMT) kemarin  (9/3). Acara yang dilaksanakan di halaman Masjid Al-Ikhlas, Dusun Jalen, Desa Setail, Kecamatan Genteng, itu sekaligus mencocokkan data yang disadur dari berbagai kitab.

Bersama masyarakat sekitar masjid, mereka juga melaksanakan salat kusuf atau salat  gerhana matahari secara berjamaah. “Kita melihat gerhana matahari total dengan teropong,” cetus koordinator pengamatan GMT dari Lembaga Falakiyah PCNU Banyuwangi, H. Gufron Mustofa.

Loading...

Menurut Gufron, fenomena alam berupa GMT itu menjadi istimewa karena bersama santri  dan masyarakat bisa mempraktikkan perhitungan yang telah dilakukan berdasar teori dengan  fakta yang ada. “Gerhana itu tanda kebesaran Allah. Kita butuh menghitung jam berapa, menit, detik, dan koordinat mana. Lalu,  apa ini gerhana total, parsial, ataukah cincin,” katanya.

Menurut Gufron, kegiatan yang dilakukan itu tidak hanya sekadar melakukan pengamatan. Seluruh  tim yang terlibat juga mengantongi data dari BMKG, perhitungan dari kitab falak, dan perhitungan yang disusun untuk memantau pergerakan  matahari dan gerhana.

“Kegiatan meneropong GMT ini  juga untuk mencocokkan perhitungan kitab falak,” ucapnya. Metode yang digunakan, jelas dia,  sesuai dengan di negara lain, seperti  di Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam. Mereka juga melakukan pencocokan dengan penghitungan di kitab falak klasik.

“Kita gunakan untuk mencocokkan dengan realita yang kita lihat,” jelasnya. Dari hitungan melalui pedoman kitab Addurul Anik, jelas dia, GMT akan terjadi mulai pukul 6:21:59 detik. Sementara itu, hasil peneropongan yang dilakukan, GMT terjadi pada pukul 6:23:10 detik.

“Selisih hitungan kita dengan kejadiannya hanya sekitar dua menit,” ungkapnya. Ketua PC NU Banyuwangi, KH.  Masykur Aly, mengatakan pengamatan yang dilakukan Lembaga Falakiyah itu sudah dimulai sejak Selasa malam (8/3) dengan membahasfenomena GMT dari sisi  fikih dan pengetahuan astronomi.

“Mereka bermalam lalu ke masjid melakukan salat gerhana dan penelitian dengan pengamatan dari detik ke detik,” ucapnya. Demi menunjang pengetahuan, Masykur akan mendorong Lembaga  Falakiyah memiliki peralatan  yang representatif. Sehingga, keberadaan lembaga itu bisa  membawa manfaat bagi umat dan ilmu pengetahuan secara umum. “SDM yang dimiliki Lembaga  Falakiyah sudah bisa diandalkan,” katanya. (sli/c1/abi)

loading...