Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Misdi, Pembecak Lansia Banyuwangi yang Kini Punya Harapan Baru Berkat Becak Listrik Presiden Prabowo

misdi,-pembecak-lansia-banyuwangi-yang-kini-punya-harapan-baru-berkat-becak-listrik-presiden-prabowo
Misdi, Pembecak Lansia Banyuwangi yang Kini Punya Harapan Baru Berkat Becak Listrik Presiden Prabowo

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Senyum lebar tak pernah lepas dari wajah Misdi, pembecak lansia asal Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, Jawa Timur.

Di usia 87 tahun, lelaki renta itu akhirnya bisa sedikit bernapas lega.

Beban berat yang selama puluhan tahun bertumpu di kaki dan tenaganya kini perlahan terangkat, setelah menerima bantuan becak listrik (belis).

Becak listrik bantuan Presiden Prabowo Subianto itu bukan sekadar alat kerja bagi Misdi.

Lebih dari itu, belis menjadi harapan baru untuk tetap bertahan hidup di usia senja, tanpa harus memaksakan kondisi fisik yang kian rapuh.

Usai menerima bantuan, Misdi terlihat tak henti-hentinya memandangi becak barunya.

Tangannya sesekali menyentuh bodi becak, seolah memastikan bahwa apa yang ia terima bukan sekadar mimpi.

Senyum bahagia pun terus mengembang di wajah pria kelahiran 1939 itu.

“Senang sekali saya. Dapat becak listrik ini, gratis pula. Nanti nggak perlu ngontel lagi,” ujarnya lirih namun penuh syukur.

Sudah 26 tahun Misdi mengayuh becak demi menghidupi keluarganya.

Ia mulai menarik becak sejak tahun 2000, ketika fisiknya masih cukup kuat untuk menempuh jarak jauh. Sejak saat itu, becak menjadi satu-satunya sandaran hidup.

Setiap hari, Misdi berangkat bekerja sejak pukul 06.00 pagi hingga selepas duhur.

Berbeda dengan kebanyakan pembecak yang mangkal di satu titik, Misdi memilih berkeliling.

Ia percaya, dengan terus bergerak, peluang mendapatkan penumpang lebih besar.


Page 2


Page 3

“Saya kalau kerja ngontel becak dari jam enam pagi sampai habis duhur, buat nyari rejeki,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Namun usia tak bisa dibohongi. Di usia yang semakin senja, langkah Misdi tak lagi setegap dulu.

Asam urat yang dideritanya membuat kakinya sering terasa nyeri dan tertatih-tatih, terutama saat harus mengayuh becak dengan jarak tempuh yang cukup jauh.

“Kalau jauh kadang kaki saya sakit. Sudah nggak kuat seperti dulu,” katanya polos.

Meski demikian, Misdi tak pernah mengeluh. Ia tetap berkeliling dari wilayah Blimbingsari, Pasar Rogojampi, Pantai Blimbingsari, hingga masuk ke wilayah kota Banyuwangi.

Beberapa titik yang kerap ia sambangi antara lain Taman Blambangan dan Taman Sritanjung.

“Saya keliling terus. Kadang di Pasar Rogojampi, kadang ke pantai, kadang sampai Banyuwangi kota,” tuturnya.

Pendapatan yang diperoleh Misdi pun jauh dari kata pasti. Dalam sehari, ia hanya bisa membawa pulang uang antara Rp 20 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung jumlah penumpang yang didapat.

“Pendapatan tidak menentu. Kadang Rp 20 ribu, kalau ramai bisa Rp 50 ribu,” katanya apa adanya.

Kondisi fisik yang semakin terbatas kerap membuat Misdi harus menahan rasa sakit saat bekerja. Terlebih ketika jarak yang ditempuh cukup jauh, rasa nyeri di kaki tak terelakkan.

“Kalau ngontel jauh, kaki saya sakit,” ujarnya singkat.

Kini, dengan adanya becak listrik, Misdi berharap bisa tetap mencari nafkah tanpa harus memaksakan tubuhnya.

Ia membayangkan, saat tenaga tak lagi kuat, listrik akan menjadi penolong setianya di jalanan.

“Dengan becak listrik ini nanti nggak perlu capek lagi kaki saya,” katanya, sembari tersenyum menatap becak barunya.

Bagi Misdi, bantuan becak listrik bukan sekadar kendaraan. Ia adalah simbol kepedulian, sekaligus penguat harapan bahwa di usia senja pun, perjuangan hidup masih mendapat perhatian.