Nelayan Resah, Pemerintah Angkat Tangan

Hampir sebulan ini muara di Pantai Boom, Banyuwangi, tidak bisa dilewati secara bebas oleh perahu dan kapal. Gara-garanya, muara di pelabuhan itu tertutup tumpukan pasir.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-AGUS BAIHAQI, Banyuwangi-

SIANG itu cuaca di sekitar Pantai Boom cukup panas. Banyak warga yang berjejer di sepanjang bangunan dermaga yang belum rampung pembangunannya itu. Di antara warga itu, ada yang mencari ikan dengan cara memancing, dan juga ada yang menjaring. Kali ini warga yang mencari ikan dengan cara memancing dan menggunakan jaring di sekitar dermaga dekat muara itu cukup aman. Sebab, perahu para nelayan dan kapal barang yang sering berseliweran di sekitar dermaga itu tidak akan terlihat lagi. “Muara sudah tertutup pasir  full, jadi perahu dan kapal tidak bisa keluar dan masuk pelabuhan lewat muara,” cetus salah satu warga sambil asyik memancing.

Sejak muara di Pantai Boom itu tertutup tumpukan pasir, jumlah warga yang memancing di sekitar muara dan dermaga semakin banyak. Mereka berdatangan saat air laut surut. “Kalau air laut surut, mancing bebas dari gangguan,” cetus warga yang mengaku tinggal di Jalan Brawijaya, Banyuwangi, itu. Apa yang dikatakan warga tersebut memang benar. Saat air laut surut, semua perahu dan kapal barang merapat di kolam Pelabuhan Boom. Bila ingin keluar pelabuhan, perahu dan kapal itu harus menunggu air laut pasang hingga debitnya melebihi tumpukan pasir muara. “Tumpukan pasir terlalu tinggi,” cetus Busyairi, salah satu nelayan.

Sejak muara di Pantai Boom tertutup pasir, para nelayan banyak yang resah. Sebab, mereka tidak bisa melaut mencari ikan. “Siang hari perahu tidak bisa keluar dari pelabuhan, karena muara sudah tertutup pasir,” katanya. Nelayan yang melaut pada malam hari ternyata juga banyak yang tidak tenang. Saat melaut mereka harus cepat-cepat kembali agar bisa masuk ke pelabuhan. “Kalau pulang kesiangan, nanti bisa keduluan air laut surut,” ungkapnya. Keresahan para nelayan di sekitar Pantai Boom itu sebenarnya sudah dirasakan pemerintah. Tetapi, kini para nelayan tidak bisa berharap banyak kepada pemerintah. “Maunya kita membantu, tapi bagaimana lagi,” ujar Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan (Disperiklut) Banyuwangi, Pujo Hartanto.

Disperiklut tidak bisa membantu mengatasi pasir di muara Boom, karena tidak ada anggaran. Bahkan, kementerian kelautan dan perikanan serta Disperiklut Provinsi Jawa Timur juga tidak punya anggaran untuk pengerukan pasir itu. “Anggarannya memang tidak ada,” dalihnya. Pelabuhan di Pantai Boom itu, sebut Pujo, sebenarnya pelabuhan rakyat. Hampir setiap hari selalu ada kapal yang melakukan bongkar dan angkut barang dari luar daerah. “Pantai Boom itu sebenarnya pelabuhan rakyat,” sebutnya. Di daerah pelabuhan itu memang ada nelayan, tapi jumlahnya tidak banyak. Perahu para nelayan lokal itu bisa keluar-masuk pelabuhan bila air laut sedang pasang. “Nelayan di Pelabuhan Boom hanya sekitar 40 orang,” cetusnya. (Radar)