Beranda blog Halaman 2096

34 Saksi untuk Ratna Ani Lestari

0
Ratna Ani Lestari
Ratna Ani Lestari

BANYUWANGI  – Kasus dugaan korupsi pengadaan lahan lapangan terbang (lapter) di Desa Blimbingsari, Kecamatan Rogojampi, dibuka lagi. Kemarin (30/4), tim penyidik Kejaksaan Agung (Kejagung) turun ke Banyuwangi untuk melengkapi data kasus dengan tersangka Ratna Ani Lestari.

Rencananya, para penyidik dari Gedung Bundar itu akan tinggal di Bumi Blambangan selama empat hari. Mereka akan memeriksa 34 saksi yang sebagian besar berasal dari kalangan pejabat Pemkab Banyuwangi. “Tim Kejagung ini turun untuk kasusnya Ratna Ani Lestari (mantan bupati Banyuwangi),” ujar Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Banyuwangi, Syaiful Anwar, dalam jumpa pers di kantornya kemarin.

Menurut Kajari Syaiful, tim Kejagung yang turun ke Banyuwangi berjumlah tujuh orang. Selama berada di Kota Gandrung, tim Kejagung akan memeriksa 34 saksi yang dianggap mengetahui pengadaan lahan dan pembangunan Lapter Blimbingsari. “34 orang yang diperiksa itu (jadwal pemeriksaan), akan dibagi dalam empat hari,” jelasnya.

Hari pertama kemarin, para penyidik dari Kejagung tersebut sebenarnya memanggil 13 saksi. Tetapi, tidak semua bisa hadir untuk memberikan keterangan. Yang hadir dalam pemeriksaan tersebut hanya 11 saksi. “Budi Hartono dan Sugeng Siswanto tidak hadir. Saya tidak tahu mereka ke mana,” kata Kajari Syaiful.

Dari 11 saksi yang hadir ke Kejari Banyuwangi kemarin, banyak dari unsur pejabat pemkab. Sebut saja Kepala Dinas Pertanian, Ikrori Hudanto; Camat Rogojampi, Kusyadi; Kepala Bagian (kabag) Umum Pemkab, RR Nanin Oktaviantie; Kabag Perlengkapan Pemkab, Henik Setyorini; dan mantan Kadis Pertanian, Ade Hidayat. “Yang membuat semua surat panggilan ini Kejagung,” kata Syaiful.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Gurihnya Nasi Pecel Pincuk Garahan

0
KHAS: Pecel Garahan selalu dihidangkan menggunakan pincuk atau daun pisang.
KHAS: Pecel Garahan selalu dihidangkan menggunakan pincuk atau daun pisang.

MENDENGAR namanya saja, pasti kita akan langsung tahu komposisi dari makanan yang satu ini. Nasi putih yang dihidangkan dengan aneka sayuran dan disiram dengan sambal yang terbuat dari kacang tanah. Serta tahu, tempe, atau kerupuk adalah pelengkap dari makanan ini. Ya, pecel adalah makanan yang sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia.

Tak terkecuali masyarakat Banyuwangi. Jika Anda tertarik menikmati pecel, mungkin tempat ini bisa menjadi pilihan. Beberapa kilometer ke arah barat dari Gunung Kumitir, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi, ada sebuah  tempat yang menjajakan pecel khas ini. Di Stasiun Garahan, tepatnya.

Pecel yang disajikan menggunakan daun pisang atau terkenal dengan istilah pecel pincuk ini menjadi ciri khas tersendiri. Selain itu, harga yang relatif murah, yakni Rp 3.000, membuat siapapun akan tertarik menikmati pecel pincuk Garahan. Belum lagi udara di sekitar stasiun yang sejuk karena dekat dengan Gunung Kumitir akan membuat suasana makan Anda semakin nikmat.

Selain itu, jika Anda beruntung, Anda akan bisa melihat kereta api yang melintasi stasiun ini sembari menikmati pecel pincuk dengan teman atau orang terdekat Anda. Sungguh, akan memberikan pengalaman tersendiri bagi Anda yang suka akan wisata kuliner. (radar)

NAPAK TILAS PUPUTAN BAYU

0
MASIH ALAMI: Hutan Rowo Bayu di Desa Bayu, Kecamatan Songgon.| MONUMEN: Perang prajurit Blambangan dengan tentara VOC ditandai monumen Puputan Bayu.
MASIH ALAMI: Hutan Rowo Bayu di Desa Bayu, Kecamatan Songgon.| MONUMEN: Perang prajurit Blambangan dengan tentara VOC ditandai monumen Puputan Bayu.

SONGGON – Akhir pekan lalu saya dan teman-teman mengunjungi Desa Bayu, Kecamatan Songgon. Kebetulan teman saya punya saudara orang  sana. Karena kita datang berramai-ramai akhirnya kita sekalian mengunjungi tempat wisata yang bersejarah, yaitu Rowo Bayu.

Rowo Bayu adalah sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus. Kawasan ini merupakan hutan dengan berbagai jenis tanaman dan semak belukar, khas hutan tropis yang dihuni berbagai satwa.  Hutan ini masuk bagian KPH Banyuwangi Barat.

Pemandangan di tempat ini sangat alami. Selain kita bisa menikmati rindangnya pepohonan yang masih alami, kita juga bisa mendengar suara hutan yang nyata. Selain itu, di Desa Bayu ini tak lepas dari kisah perang Perang Puputan Bayu. Perlawanan rakyat Blambangan itu merupakan puncak dalam memerangi Belanda.

Namun setahun kemudian, tepatnya pada Oktober 1772, VOC membalas kekalahannya dengan mengirim 1.500 pasukan menumpas prajurit Blambangan. Lumbung-lumbung padi
di Songgon dibakar. Sehingga perlawanan rakyat Blambangan melemah akibat kelaparan.

Menurut orang sana, saat itu alam Rowo Bayu tak seindah sekarang. Tapi sangat menyeramkan. Ribuan prajurit Blambangan dibunuh. Rakyat Blambangan yang semula berjumlah 8.000-an jiwa hanya tersisa sekitar 2.000 ribuan jiwa akibat perang itu. Bekas kerajaan di Rowo Bayu belum ditemukan hingga kini dan membutuhkan penelitian arkeologis lebih lanjut. Situs yang bisa ditemui justru situs Petilasan Prabu  Tawang Alun yang berada di ujung barat Rowo bayu(radar)

UBI Tuan Rumah Olimpiade Seni

0
GEMULAI: salah satu peserta dengan seni tari gandrungnya tampil di olimpiade seni di UBI (28/4).
GEMULAI: salah satu peserta dengan seni tari gandrungnya tampil di olimpiade seni di UBI (28/4).

SRONO – Lomba olimpiade seni dan festival seni siswa tingkat nasional yang digelar di Univeristas Bakti Indonesia (UBI) Cluring, Jumat (28/4) lalu berlangsung seru. Beberapa peserta dari siswa-siswi se-Kabupaten Banyuwangi
terlihat tampil  all out. Ada beberapa kriteria yang dilombakan. Seperti seni menyanyi solo, seni tari, seni teater, seni desaign poster.

Wakil Ketua panitia Drs. Wiryadi Hendramukti mengatakan dalam olimpiade seni dan festival seni siswa tingkat nasional tersebut, diikuti sekitar 100 peserta dari berbagai SMA se-Banyuwangi. Jumlah itu meliputi seni kriya 10 peserta, seni menyanyi solo/vokal 47 peserta, seni tari 15 peserta, seni teater 8 peserta, dan seni desaign poster 19 peserta.

Dikatakan, seni dan festival
siswa nasional tidak lepas
dari peran Dinas Pendidikan
(Disendik) dan MGMP (Musy-
awarah Guru Mata pelajaran).
Seni dan budaya Banyuwangi
ini menyiratkan adanya perha-
tian serius terhadap perkem-
bangan dan kemajuan seni
budaya di Banyuwangi.
“Bagi kami, diselenggara-
kannya kegiatan olimpiade
seni dan festival siswa ini
merupakan hal yang sangat
menggembirakan bagi MGMP
seni budaya Banyuwangi. Apa-
lagi kegiatan ini merupakan
keinginan yang sudah lama
dirancang oleh MGMP seni
budaya pasca diadakanya
pameran seni di Lapangan
Maron, Genteng, 21 Januari
lalu,” kata Wiryadi.
Dalam kesempatan tersebut,
dia mengucapkan  terimakasih
kepada Universitas Bhakti In-
donesia (UBI) yang telah ber-
sedia menjadi tuan rumah dan
memfasilitasi segala sesuatu
bagi kelancaran dan kesuk-
sesan kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Pe-
nasehat UBI, Drs. H. Teguh
Sumarno, menyambut baik
even tersebut. Menurutnya,
even ini harus dibentuk dan
dibina secara berkala demi
pengembangan bakat dan
minat siswa dalam seni dan
budaya di Banyuwangi. UBI
sebagai lembaga perguruan
tinggi siap menjembatani bagi
pengembangan dan kemajuan
seni dan budaya di Banyuwa-
ngi, sesuai nilai-nilai kearifan
lokal. (radar)

Semarak Olimpiade Mapin di MTs Negeri Sidorejo

0
SERIUS: Peserta olimpiade mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan soal-soal Olimpiade Mapin kemarin (29/4).
SERIUS: Peserta olimpiade mengerahkan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan soal-soal Olimpiade Mapin kemarin (29/4).

PURWOHARJO – Olimpiade Matametika, IPA, dan Bahasa Indonesia (Mapin) tingkat SD/MI se-Kabupaten Banyuwangi yang diselenggarakan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Sidorejo, Purwoharjo, dibanjiri peserta kemarin. Sebanyak 330 siswa berkompetisi dalam ajang tersebut.

Menariknya, olimpiade kali ini juga dirangkai dengan Gebyar Pentas Seni oleh siswa-siswi MTsN Sidorejo. Ada beragam kesenian yang ditampilkan. Mulai tari jejer gandrung, hadrah, drum band, dan lain sebagainya. Tidak cukup sampai di situ, di lokasi tersebut juga menyediakan bazar makanan, minuman, dan souvenir.

Kegiatan kemarin dibuka oleh Kasi Mapenda Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Banyuwangi, Dra. Hj. Sucianingsih, M.Pdi. “Selain untuk mengembangkan visi dan misi Kemenag untuk meningkatkan kualitas pendidikan Islam.

Kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai forum silaturrahmi antara sekolah yang berada di bawah naungan Kemenag dengan sekolah di bawah naungan Kemendiknas (Kementerian Pendidikan Nasional, Red),” ujar Kepala MTsN Sidorejo, Drs. H. Ahmad Saeroji, M.Pdi. M.Ag.Saeroji menambahkan, tujuan lain pelaksanaan Olimpiade Mapin dan Pentas Seni tersebut adalah untuk mencari putra-putri terbaik yang memiliki prestasi menonjol.

Baik di bidang akademik maupun non akademik. Diharapkan, dengan pelaksanaan olimpiade tersebut, kualitas pendidikan di MTsN Sidorejo semakin baik. “Dengan pelaksanaan Olimpiade Mapin, ini kami berharap ke depan sekolah kami semakin berkembang. Maju secara spiritual maupun intelektual,” harapnya. (radar)

Desain Batik Langsung Dicetak

0
HADIAH Rp 3 JUTA: Desain batik terbaik ikut ditampilkan dalam acara pengumuman pemenang kemarin malam.
HADIAH Rp 3 JUTA: Desain batik terbaik ikut ditampilkan dalam acara pengumuman pemenang kemarin malam.

Pemenang Lomba-Lomba Disperindagtam Diumumkan

BANYUWANGI – Pemenang lomba mewarnai, desain batik, dan kerajinan khas Banyuwangi diumumkan kemarin malam (28/4). Pengumuman para jawara itu dilakukan bersamaan malam aktualisasi seni budaya daerah di Panggung Seni Taman Blambangan.

Lomba yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Pedagangan, dan Pertambangan (Disprindagtam) itu memilih tiga pemenang untuk setiap kategori. Masing-masing kategori, panitia memilih 10 dominasi. Untuk kategori lomba mewarnai tingkat SD, pemenang pertamanya diraih oleh Dafa Sandrino dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Rogojampi.

Sedangkan kategori lomba desain batik khas tingkat pelajar dan mahasiwa, pemenangnya Annisya Ferronica dari SMAN 1 Glagah. Sementara untuk kategori umum diraih Siti Fatikhatul Aliyah dari Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi. “Untuk juara pertama desain batik, kita sediakan hadiah uang sebesar Rp 3 Juta,” ungkap Kadisprindagtam, Hary Cahyono Purnomo.

Untuk lomba kerajinan atau cendramata khas Banyuwangi tingkat pelajar dan mahasiswa, berhasil dimenangkan Lili Suryani dari SMAK Hikmah Mandala. Untuk tingkat umum, pemenangkan berhasil diperoleh Hadi Wahyono dari Kelurahan Mojopangung, Kecamatan Banyuwangi (selengkapnya baca grafis).

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Cetak Duta Lapas, Rilis Dua Album

0
DUTA LAPAS: Kalapas bersama istri foto bareng Duta Lapas 2012 dan para finalis.
DUTA LAPAS: Kalapas bersama istri foto bareng Duta Lapas 2012 dan para finalis.

Hari Ini Syukuran Hari Bhakti Pemasyarakatan Ke-48

LEMBAGA Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Banyuwangi di bawah komando Kalapas Krismono, BC. IP, SH telah melakukan berbagai bentuk pembinaan terhadap Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP). Pembinaan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) dilaksanakan melalui pembinaan mental spiritual Islam dan Nasrani. Bahkan, saat ini sedang ditulis Alquran terbesar sedunia untuk kelas Lapas oleh seorang WBP.

Untuk mengasah kesadaran berbangsa dan bernegara dilaksanakan Apel Kesadaran Nasional, Kepramukaan, serta upacara hari besar nasional. Pembinaan intelektual melalui program kejar paket, dan kegiatan kursus lainnya. Kesehatan jasmani dan rohani juga dibina melalui kegiatan senam pagi
dan olahraga lain. Tak ketinggalan, pembinaan kesadaran hukum melalui kegiatan penyuluhan hukum.

Re-integrasi sehat dengan masyarakat dilakukan melalui program Cuti Bersyarat (CB), Cuti Mengunjungi Keluarga (CMK), Cuti Menjelang Bebas (CMB), Asimilasi dan Pembebasan Bersyarat (PB). Keterampilan kerja dan produksi diajarkan melalui latihan kerja handicraft, pembuatan paving block, teknik las, pertukangan kayu dan meubeler, elektronika industri, serta bengkel bubut.

Pengelolaan dan budidaya ikan koi, perbengkelan mobil dan sepeda motor, seni batik Blambangan, menjahit, tata rias, dan tata boga. Yang membanggakan,  pembinaan keterampilan seni telah berhasil mencetak Duta Lapas dan Kapook Band, yang telah memproduksi dua album. Sedangkan, pembinaan keterampilan seni tulis telah mencatak buku berjudul “48 Kisah Jeruji” .

Lanjutkan Membaca : First |1 | 2 | 3 | Next → | Last

Lomba Kreativitas Siswa

0
PRESTASI : Kasi SD Muksin (kiri) dan Korwas Joko Sulistiyono saat membuka lomba , kemarin.
PRESTASI : Kasi SD Muksin (kiri) dan Korwas Joko Sulistiyono saat membuka lomba , kemarin.

BANYUWANGI-Dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional (HAN) dan Hari Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan (Dispendik) Banyuwangi menggelar lomba kreativitas siswa Sekolah Dasar (SD) / Madrasah Ibtidaiyah (MI) tingkat Kabupaten Banyuwangi.

Lomba dipusatkan di SDN RBI Banyuwangi (SDN Model). Ada bermacam lomba. Di antaranya, lomba menyanyi tunggal, pidato, cipta puisi, baca puisi, melukis, MTQ, Senam Ceria Indonesia, festival karawitan, menganyam, dan lomba membatik. “Diharapkan tercipta iklim persaingan  sehat dan sportivitas untuk memacu prestasi, sekaligus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan,’’ kata Kabid TK-SD Dispendik Drs. Hamami, MSi, kemarin.

Hamami mengatakan, lomba bina kreativitas siswa SD/MI itu dimaksudkan sebagai wahana bagi siswa untuk berkreasi, berinovasi, berprestasi, dan berkompetisi secara sehat. Tentunya, dengan mengedepankan semangat sportivitas yang tinggi. Salah satu program pembinaan yang mengarah kepada peningkatan mutu pendidikan adalah lomba kreativitas siswa SD/MI.

Sebab, bertujuan meningkatkan prestasi siswa di bidang seni, membina bakat, dan minat anak dalam berolahraga. Bahkan, mengembangkan keberanian anak dalam berkreasi. “Sehingga mampu mengembangkan kreativitas dan meningkatkan daya imajinasi siswa, dan sekaligus menanamkan sikap sportivitas dan berkompetisi secara sehat,’’ jelas penasehat lomba kreativitas siswa itu.

Sementara itu, Ketua Panitia Lomba Budiyanto, SPd, MPd mengatakan, lomba kreativitas siswa kemarin juga digelar di Masjid Agung Baiturrahman dan Ruang Terbuka Hijau Taman Sri Tanjung. Setiap kecamatan mengirimkan wakilnya. Lomba itu merupakan kerja sama Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S ), Paguyuban KKG Kabupaten, dan guru seni budaya. Upacara pembukaan dihadiri Sekretaris Dispendik Drs. Dwi Yanto, yang  membuka lomba . (radar)

Honor Perangkat Desa Terlambat

0

Lima Bulan Tak Cair, Terpaksa Ngutang

ROGOJAMPI – Perangkat desa di Kecamatan Rogojampi dan Singojuruh resah. Pasalnya untuk kesekian kalinya tunjangan perangkat desa senilai Rp 830 ribu per bulan dari pemerintah Kabupaten Banyuwangi telat.

Mereka terpaksa mengutang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Salah seorang staf atau perangkat desa di Kecamatan Singojuruh yang namanya enggan dikorankan mengatakan, sudah lima bulan ini dia belum menerima honor tunjangan dari pemerintah daerah Banyuwangi.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-harinya, bapak tiga anak  ini terpaksa menghutang. “Apalagi bulan-bulan ini harus bayar ujian anak sekolah” ujarnya. Hal yang sama juga diungkapkan Maman, salah seorang staf desa di Kecamatan Rogojampi.

Dia mengaku heran dengan sering telatnya honor perangkat desa dalam waktu setahun terakhir. Entah apa penyebabnya, dia juga mengaku tidak tahu pasti.”Kalau honor kami sering telat, bukan tidak mungkin pelayanan di masyarakat akan ngadat,” tuturnya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

Cak Nun Bersalawat, Istri Lantumkan Lagu Letto

0
KIAI MBELING: Cak Nun bersalawat diiringi Kiai Kanjeng.
KIAI MBELING: Cak Nun bersalawat diiringi Kiai Kanjeng.

SRONO – Budayawan asal Jogjakarta, Emha Ainun Najib, mengaku cukup kagum dengan seni dan budaya yang dimiliki Banyuwangi. Menurut Cak Nun –panggilan akrabnya– kekayaan yang dimiliki Bumi Blambangan jauh lebih besar dibanding dengan Indonesia.

Pujian Cak Nun itu disampaikan saat menghadiri khoul orang tua Cak Diqin, seniman Solo kelahiran Desa Kebaman, Kecamatan Srono Sabtu  malam, kemarin (28/4). “Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi harus bangga dengan potensi seni dan budaya yang dimiliki ini,” cetus Cak Nun sambil menunjuk Kepala Disbudpar Banyuwangi Suprayogi yang hadiri mewakili Bupati Abdullah Azwar Anas.

Menurut Cak Nun, kebesaran seni dan budaya Banyuwangi itu terletak pada karakternya. Meski berdekatan dengan Bali dan warganya juga banyak pendatang dari Madura, seni Banyuwangi yang berakar pada tradisi lokal masih
kuat. “Seni Banyuwangi itu punya karakter, dan karakter yang tinggi itu milik Banyuwangi bukan Indonesia,” sebut Cak Nun.

Karena memiliki seni yang tinggi ini, Cak Nun berharap pada warga Banyuwangi untuk bangga dengan keseniannya. Karena pada dasarnya, masih kata dia, budaya dan seni yang besar itu berasal dari tradisi rakyat. “Meski Indonesia tidak bangga dengan Banyuwangi, tapi rakyat Banyuwangi harus bangga dengan Banyuwangi,” cetus Kiai Mbeling ini.

Selain banyak bicara tentang seni dan budaya, Cak Nun bersama Kiai Kanjengnya sempat menyuguhkan beberapa lagu Using yang musiknya sudah diaransemen. “Aku ke Banyuwangi ini dalam rangka belajar seni, karena Banyuwangi itu sangat dahsyat sekali,” pujinya.

Lanjutkan Membaca : 1 | 2

error: Uppss.......!