Pak Dahlan Makin Jatuh Hati Potensi Banyuwangi

0
305

SAY HALLO saja tak cukup. Ya, Rabu pekan lalu, saya bersama Branch Manager PT Temprina Jember, Taufik Adi Nugroho dan Ketua IPJ (Ikatan Pengusaha Jember) Agus Susanto berbaur bersama Forpimda Banyuwangi di Bandara Blimbingsari. Tujuannya satu: menyapa Menteri BUMN Dahlan Iskan.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

Mantan Boss kami di Jawa Pos Grup yang berkunjung ke Bumi Blambangan. Say hallo saja tak cukup. Pak Dahlan mengajak masuk ke mobil penjemput. Saya duduk di jok belakang Toyota Alphard warna hitam itu. Persis di belakang Pak Dahlan. Ini kali kedua saya sekendaraan dengan mantan Dirut PT PLN Tbk itu.

Pada 2009, Pak Dahlan mengajak saya naik pesawat jet dari bandara Halim Perdana Kusuma menuju Juanda. Jet pribadi milik sahabat Pak Dahlan tersebut tidak besar. Kursinya hanya empat. Sama dengan mobil Toyota Alphard yang kami tumpangi Rabu lalu. Harus siap dan sigap. Dua syarat itu mutlak dibutuhkan saat sekendaraan dengan Pak Dahlan.

Sebab, Pak Dahlan biasa menggelar rapat di mana saja. Termasuk di dalam kendaraan. Bukan hanya siap segudang informasi, tapi juga harus sigap dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis sosok yang sederhana itu. Itu pula yang terjadi dalam mobil Alphard hitam yang kami tumpangi. Baru beberapa jengkal melaju dari pintu gerbang bandara Blimbingsari, saya langsung di- cecar sejumlah pertanyaan kritis dan teknis.

Seperti: berapa jarak bandara dari jalan utama Rogojampi; butuh berapa menit perjalanan Banyuwangi ke Rogojampi. Dua pertanyaan itu, saya coba meraba-raba, sangat fundamental untuk mengetahui seberapa strategis letak bandara Blimbingsari. Harus dicarikan solusi bagaimana agar bisa lebih singkat perjalanan menuju bandara.

Kira-kira begitu solusinya. Sebab, saat diskusi, Pak Dahlan melontarkan kalimat ini: jalannya masih kurang lebar! Dari jalan materi rapat beralih ke tempat menginap. Akhirnya diputuskan tetap menginap di Banyuwangi. Tapi, tidak di hotel atau pendapa. Pak Dahlan minta dua alternatif. Rumah penduduk atau pondok pesantren (ponpes).

Saya diminta menimbang dan memutuskan salah satu dari dua pilihan itu. Karena jadwal kunjungan ke Jember cukup padat, saya sampaikan tidak mungkin mencari rumah warga untuk menginap. Rombongan setuju. Tapi, di pesantren mana?’’ tanya Pak Dahlan. Secara refleks, ingatan saya melayang ke telepon KH Ahmad Hisyam Syafaat saat saya menuju bandara Blimbingsari.

Pengasuh ponpes Blokagung itu titip salam ke Pak Dahlan sekaligus berharap beliau bisa menginap di pesantrennya. ‘’Kita menginap di ponpes Blokagung saja, Pak,’’ tegas saya. Pak Dahlan tidak langsung mengiyakan. Sebaliknya, beliau mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus merupakan syarat: kalau nginap di sana kira-kira nanti akan dipolitisasi apa tidak? Saya beri garansi, hal itu tidak akan terjadi.

Loading...

Sebab, lanjut saya, insyaAllah Gus Hisyam dan keluarga besar Blokagung bukan tepi tokoh yang suka ‘berjualan’ . Rapat memutuskan tempat menginap itu cukup lama. Pak Dahlan baru mantap setelah saya tunjukkan arah menuju ponpes Blokagung berikut jaraknya menuju ke sana, saat kendaraan kami melintasi pertigaan barat jembatan Genteng.

Mobil patwal terus meraung di depan kami. Melaju memburu waktu. Rapat terus digelar. Sesekali tawa pecah menyelingi. Saat melintasi wilayah Kecamatan Glenmore, Pak Dahlan berkata kepada Dirut Pupuk Indonesia Arifin Tasrif bahwa PTPN XII akan membangun pabrik gula di situ. Awalnya, saya kaget. Ragu. Tapi, setelah Pak Dahlan menjelaskan bahwa direksi PTPN sudah memutuskan akan membangun pabrik gula Glenmore, saya menjadi yakin.

Sebetulnya, saya ingin menyampaikan kabar gembira tersebut kepada Bupati Anas saat itu juga via BBM (Black Berry Massager). Maklum, Pak Anas sudah lama mengidamkan berdirinya pabrik gula di wilayahnya. Tapi, niat itu saya urungkan. Ndilalah, rencana pendirian pabrik gula Glenmore kembali dibahas dalam perjalanan dari pabrik gula Semboro Jember menuju pabrik gula Jatiroto Jember.

Di dalam mobil, Pak Dahlan meminta progress rencana pembangunan pabrik gula Glenmore kepada Dirut PTPN XII Irwan Basri. Irwan menegaskan bahwa semuanya on schedule. Berjalan sesuai rencana. Mendengar laporan Irwan, saya ingin mem-BBM Pak Anas. Tapi, sekali lagi, niat itu saya urungkan. Saya yakin, Pak Dahlan akan menyampaikannya langsung kepada Pak Anas saat kunjungan ke pelabuhan Tanjung Wangi keesokan harinya.

Benar saja. Sepulang dari meninjau aset milik PTPN XII di Kampe, Wongsorejo, sambil menyetir mobil dinas Bupati Banyuwangi, Pak Dahlan menelepon Direktur Produksi PTPN XII Purwanto. Awalnya, Dahlan menanyakan bisnis plan peruntukan lahan PTPN XII di Kampe.

Purwanto menjelaskan lahan tersebut juga akan ditanami tebu untuk memasok pabrik gula Glenmore yang akan dibangun awal tahun 2013. Setelah menutup dan menyerahkan BB-nya ke saya, Pak Dahlan mengatakan kepada Pak Anas, bahwa PTPN akan membangun pabrik gula di Glenmore. Pak Anas tampak terkejut mendengarnya.

Karena saya duduk di jok belakangnya saya melihat langsung raut muka kekagetan Pak Anas. Se telah bertanya sampai tiga ka li, Pak Anas baru percaya Banyuwangi akan segera memiliki pabrik gula. Rencana saya berjalan mulus. Kabar gembira dari Pak Dahlan benar-benar membuat Pak Anas surprise.

Rasa senang saya menjadi berlipat-lipat setelah mendengar pernyataan Pak Dahlan kepada saya dan Pak Anas berikut ini: ternyata potensi pantai Banyuwangi jauh lebih besar dari yang saya bayangkan selama ini. Pernyataan itu dia ungkapkan setelah meninjau Pelabuhan Tanjung Wangi, Kampe, dan pelabuhan penyeberangan PT ASDP. Alhamdulillah… ([email protected] jawapos.co.id)

Loading...

Kata kunci yang digunakan :