sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Upaya pencarian pendaki yang hilang di jalur pendakian Kawah Ijen akhirnya membuahkan hasil.
Setelah dilakukan pencarian intensif selama sekitar 30 jam, Muhammad Dzikri Maulana (16) ditemukan dalam kondisi selamat, Kamis (19/2) pukul 16.16 WIB.
Remaja asal Desa Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi itu ditemukan di area tebing dengan radial 6,7° dan jarak sekitar 890 meter dari lokasi awal dilaporkan hilang.
“Alhamdulillah masih bisa rokokan,” ujar salah satu petugas SAR yang pertama kali menemukan Dzikri.
Meski dalam keadaan selamat, kondisi fisik korban terlihat lemas akibat kelelahan dan diduga dehidrasi setelah berjam-jam berada di medan terjal kawasan Ijen.
Ditemukan di Tebing, Dievakuasi dengan Vertical Rescue
Begitu ditemukan, Tim SAR Gabungan langsung melakukan proses evakuasi menggunakan teknik vertical rescue. Medan tebing yang curam dan licin membuat proses penyelamatan harus dilakukan secara hati-hati.
Pada pukul 17.50 WIB, korban berhasil diturunkan menuju Pos Paltuding. Selanjutnya, Dzikri dievakuasi menggunakan ambulans menuju Puskesmas Licin untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Dengan ditemukannya korban dalam kondisi hidup, operasi pencarian hari kedua resmi ditutup pada pukul 18.00 WIB.
Strategi Pencarian: Drone Thermal hingga Jungle Rescue
Operasi SAR hari kedua diawali dengan briefing pukul 07.00 WIB. Tim SAR Gabungan kemudian dibagi menjadi dua Search and Rescue Unit (SRU).
- SRU 1 melakukan penyisiran dari Pos Paltuding menuju puncak sejauh 3,6 kilometer menggunakan metode Explore SAR (ESAR) tipe 1.
- SRU 2 menyisir area sekitar lokasi kejadian menggunakan pola ESAR tipe 2 open grid dengan cakupan satu kilometer persegi.
Meski cuaca mendung hingga hujan ringan, pencarian tetap dimaksimalkan dengan dukungan drone thermal, peralatan jungle rescue, serta perlengkapan vertical rescue.
Kronologi Hilangnya Pendaki Ijen
Page 2
Page 3
Seperti diberitakan sebelumnya, Muhammad Dzikri Maulana dilaporkan hilang sejak Rabu (18/2) saat mendaki di kawasan Kawah Ijen, Kecamatan Licin.
Korban berangkat mendaki bersama empat rekannya sejak dini hari. Kepala Taman Wisata Alam (TWA) Kawah Ijen, Rusdi Santoso, menjelaskan berdasarkan laporan petugas jaga, sekitar pukul 02.00 korban bersama dua temannya mendaki didampingi pemandu bernama Dedi. Tiga rekan lainnya masuk melalui jalur troli.
Sesampainya di kawasan kawah, kelima remaja itu beristirahat di sekitar pertigaan menuju kawah. Namun saat hendak melanjutkan perjalanan, Dzikri sudah tidak berada di lokasi.
Keempat rekannya kemudian turun dan tiba di Paltuding sekitar pukul 08.00 WIB. Keluarga baru mengetahui korban diduga hilang setelah teman-temannya sampai di rumah masing-masing. Laporan resmi kemudian disampaikan ke petugas sekitar pukul 10.00 WIB.
Koordinat Lokasi dan Pengerahan Tim Rescue
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banyuwangi, I Made Oka Astawa, menyampaikan laporan resmi diterima dengan estimasi lokasi kejadian di koordinat 8°3’41.68″S 114°14’45.83″T.
Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Rescue diberangkatkan pukul 20.24 WIB menuju lokasi. Operasi melibatkan tujuh personel rescue dengan dukungan:
- BPBD Banyuwangi
- Polsek Licin
- Koramil Licin
- KSDA Gunung Ijen
- Banyuwangi SAR Independen
- Relawan, mapala, pelaku wisata, perangkat desa, hingga keluarga korban
Tim juga membawa rescue car tipe II, perlengkapan medis, vertical rescue, serta alat komunikasi.
Apresiasi untuk SAR Gabungan
I Made Oka Astawa mengapresiasi sinergi seluruh unsur yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.
“Alhamdulillah korban berhasil ditemukan dalam keadaan hidup. Terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat atas dedikasi dan kerja sama yang solid dalam operasi kemanusiaan ini,” ujarnya.
Ia juga mengimbau para pendaki agar selalu mematuhi prosedur keselamatan, tidak terpisah dari rombongan, serta memperhatikan kondisi cuaca sebelum dan selama pendakian.
Imbauan Keselamatan bagi Pendaki Ijen
Kawasan Kawah Ijen dikenal memiliki medan terjal dan kondisi cuaca yang cepat berubah. Jalur pendakian yang panjang serta keberadaan tebing dan jurang menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi pendaki pemula.
Tim SAR menegaskan pentingnya:







