Penyandang Tunanetra Tadarus Al Quran dengan Huruf Braille

0
154


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BANYUWANGI – Suasana di dalam Musala Al Muttaqin di kompleks Panti Asuhan Sekolah Luar Biasa (SLB) Yayasan Kesejahteraan dan Pendidikan Tuna Indra (YKPTI) Banyuwangi ramai sore Selasa (29/5) lalu. Rupanya, kala itu ada puluhan penyandang tunanetra tengah belajar mengaji.

Mereka belajar membaca Alquran dengan metode belajar khusus. Tepatnya menggunakan buku Iqro huruf braille. Dengan memanfaatkan Iqro Braille tersebut, para penyandang tunanetra itu berharap tidak hanya bisa belajar Alquran dengan cara menghafal, tetapi bisa membaca kitab suci umat muslim tersebut.

Kegiatan bertajuk “Tadarus Iqro Braille. Kami Raba Kalam-Mu ya Rabbi” tersebut diprakarsai Ketua Lembaga Pendidikan Non-Formal Aura Lentera Windoyo. “Kami mengadakan kegiatan mengenal dan belajar huruf Arab braille untuk penyandang tunanetra,” ujarnya.

Windoyo menuturkan, selama ini sudah cukup banyak hafiz alias penghafal Alquran tunanetra. Namun, sedikit sekali tunanetra di Banyuwangi yang bisa membaca huruf Alquran braille.

“Lewat kegiatan ini, kami berharap teman-teman tunanetra tidak hanya menghafal Alquran, tetapi juga bisa membaca Alquran. Sebab, kalau hafalan, sangat tergantung pembimbingnya. Kita tidak tahu di mana panjang, pendek, dan wakaf,” kata pria yang juga penyandang tunanetra tersebut.

Menurut Windoyo, tadarus Iqro Braille kemarin digelar atas usul para penyandang tunanetra. “Ini baru permulaan. Ke depan akan kami lanjutkan pada 5 Juni, 10 Juni, dan akan berlanjut di hari-hari yang lain,” paparnya.

Sementara itu, Windoyo menggandeng dua tenaga pendidik untuk mengajar para penyandang tunanetra belajar Iqro Braille kemarin. Mereka adalah Nurul Iman dan M. Atim Firdaus.

Iman menuturkan, pada dasarnya terdapat persamaan antara huruf Arab braille dengan huruf Latin braille, yakni sama-sama menggunakan kombinasi enam titik.

“Pada huruf Latin, A sampai Z terdiri masing-masing terdiri enam titik, tergantung kombinasi titik-titik tersebut. Pun demikian dengan huruf Arab, mulai Alif sampai Ya, masing-masing terdiri dari enam titik,” kata dia.

Salah satu peserta, Fitri Ayu Wulandari mengatakan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat bagi dirinya. “Karena tunanetra yang bisa baca Alquran sangat sedikit. Bisa dihitung dengan jari. Nah, dengan ada kegiatan belajar bersama seperti ini, diharapkan tunanetra yang bisa membaca Alquran tersebut bisa menularkan ilmunya,” pungkasnya.

Loading...