Polisi Buru Ortu Bayi

0
711

BANYUWANGI – Kisah tragis yang menimpa bayi berusia lima bulan berinisial CAP mendapat atensi jajaran Polsek Banyuwangi. Sejumlah personel kepolisian disebar untuk mengendus keberadaan pasangan laki-laki dan perempuan yang tega meninggalkan bayi yang tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan, Banyuwangi, tersebut.

Setelah 24 jam lebih dinyatakan kabur sekitar pukul 12.00 Selasa lalu (22/9), laki-laki dan perempuan yang mengaku sebagai orang tua (ortu) bayi malang itu tidak kunjung kembali ke RSUD Blambangan hingga kemarin siang (23/9).

Petugas kesulitan mengendus keberadaan pasangan yang mengaku berasal dari Bogor tersebut. Kapolsek Kota Banyuwangi AKP Ketut Redana mengatakan, pihaknya telah mengerahkan anggota kepolisian untuk mencari keberadaan pasangan tersebut.

“Anggota sudah kami sebar di sekitar Banyuwangi. Bahkan, sampai ke Pelabuhan Ketapang. Tetapi, belum ada titik terang,” ujarnya.  Ketut mengaku belum bisa menyimpulkan apakah bayi malang tersebut benar-benar merupakan anak laki-laki dan perempuan yang membawanya  ke RSUD Blambangan ataukah bukan.

Sebab, saat petugas medis akan melakukan pemeriksaan untuk mengetahui tanda-tanda bekas melahirkan pada sang perempuan, keduanya sudah kabur. “Kalau benar bayi itu adalah buah hati pasangan tersebut, mudah-mudahan keduanya segera sadar,” harapnya.

Ditanya ada atau tidak indikasi bahwa bayi malang tersebut korban penculikan atau hasil hubungan terlarang, Kapolsek Ketut menjawab diplomatis. Dia mengaku belum bisa menyimpulkan motif pasangan laki-laki dan perempuan itu meninggalkan sang bayi di rumah sakit pelat merah milik Pemkab Banyuwangi itu.

“Kita belum bisa menyimpulkan. Belum ada pihak yang melapor kehilangan anak,” cetusnya. Sementara itu, setelah mendapatkan perawatan intensif di RSUD Blambangan, kondisi kesehatan bayi berinisial CAP itu menunjukkan tren menggembirakan.

Kali pertama datang ke rumah sakit, kondisi sang bayi mengalami koma. kejang-kejang. dan tubuh membiru. “Saat ini (keamrin) pasien sudah tidak kejang. Tingkat koma yang dialami juga sudah lebih ringan.

Istilah medisnya somnolen,” jelas Direktur RSUD Blambangan, Taufiq Hidayat.  Menurut Taufiq, berdasar pemeriksaan medis, bayi CAP menderita infeksi paru-paru (bronkopneurnonia). Akibat infeksi itu tidak segera ditangani dengan baik, kuman yang terdapat di paru-paru CAP menyebar melalui darah hingga ke otak.

Akibatnya, CAP menderita radang selaput otak atau meningitis. “(Meningitis) ini yang menyebabkan pasien kejang dan koma,” bebernya.  Taufiq menambahkan, pihaknya sudah menginstruksikan seluruh petugas di lapangan, mulai dokter jaga, perawat, hingga sekuriti, tidak memberikan lampu hijau kepada siapa pun yang ingin membawa pulang CAP.

“Sikap kami tegas, pasien hanya boleh dibawa pulang jika ada izin tertulis dari kepolisian,” pungkasnya.(radar)