sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Proyek jalan tol Ngawi–Bojonegoro–Babat resmi tercatat dalam daftar proyek strategis melalui skema KPBU.
Menurut data SIMPUL KPBU, nilai investasi untuk ruas tol ini diperkirakan mencapai Rp 26,55 triliun.
Ruas tol ini direncanakan memiliki panjang 106,41 kilometer, dengan konfigurasi 2 × 2 lajur (dua jalur, masing-masing dua lajur).
Baca Juga: Sisa KUR 2025 Tinggal Rp 40 Triliun, Begini Cara Ajukan Pinjaman dan Tabel Angsuran KUR BRI Desember 2025
Skema Pelaksanaan & Mekanisme Pembiayaan
Pembangunan Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat menggunakan skema Design Build Finance Operational Maintenance Transfer (DBFOMT) — sebuah model Kerja Sama Pemerintah Badan Usaha (KPBU) dimana pihak swasta bertanggungjawab merancang, membangun, membiayai, menjalankan operasional dan pemeliharaan tol.
Pendanaan tol akan berbasis pada user-charge — artinya tol akan dibiayai dari tarif yang dibayar pengguna jalan tol, bukan langsung dari APBN.
Walaupun nilai investasi sudah diindikasikan, laman proyek saat ini mencatat “indikasi nilai konstruksi Rp 0” dan “masa konsesi 0” — yang menunjukkan bahwa rencana detail seperti biaya konstruksi, konsesi dan tarif akhir belum final / belum dipublikasikan.
Baca Juga: Banyuwangi Raih Predikat Kota Sehat Nasional, Sukses Torehkan Dua Penghargaan dari Kemenkes
Status Perencanaan & Linimasa Proyek
Tol ini berstatus “Solicited KPBU” — artinya diajukan melalui mekanisme kompetitif KPBU.
Menurut linimasa publik, proyek telah memasuki tahapan:
- Studi Pendahuluan — Desember 2020
- Outline Business Case — Desember 2022
Tahap selanjutnya meliputi Final Business Case, persiapan lelang, prakualifikasi, Request for Proposal (RfP), penetapan pemenang, perjanjian KPBU, financial close, konstruksi, dan akhirnya operasi — namun hingga data terbaru belum ada publikasi tentang progres konstruksi.
Sebelumnya, rencana pembangunan tol ini dikonfirmasi oleh pemerintah sebagai bagian dari 16 proyek tol berbasis swasta/KPBU pada 2022.
Sumber: simpulkpbu.pu.go.id
Page 2
Page 3
Baca Juga: APBD Banyuwangi 2026 Disahkan: Ini 9 Prioritas Pembangunan di Tengah Tantangan Fiskal
Peran Strategis: Menghubungkan Koridor Utara ke Tengah Jawa
Rencana Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat dimaksudkan sebagai penghubung koridor Trans-Jawa sisi utara dengan koridor Trans-Jawa sisi tengah (Solo–Surabaya).
Dengan demikian, tol ini diharapkan menjadi bagian penting dari jaringan jalan tol nasional, meningkatkan konektivitas antardaerah, dan mendukung pemerataan pembangunan infrastruktur di Jawa.
Melalui skema KPBU, proyek ini juga diharapkan bisa menyiasati keterbatasan anggaran negara — mobilisasi pendanaan swasta dianggap sebagai solusi agar tol-tol strategis tetap dapat dibangun tanpa membebani APBN secara langsung.
Baca Juga: Jawa Timur Diganjar Dua Ruas Tol Baru 2026, Proyek Probowangi Dorong Konektivitas Ujung Timur Pulau Jawa
Tantangan & Ketidakpastian: Data Belum Final
Meski sudah ada indikasi investasi dan panjang ruas, banyak data teknis dan finansial proyek masih “nol” atau kosong di publikasi resmi — termasuk nilai konstruksi, masa konsesi, tarif tol untuk Golongan I, serta indikator kelayakan ekonomi/finansial (EIRR, ENPV, BCR, FIRR, FNPV, WACC) — semuanya tercatat 0%.
Artinya, proyek ini sampai saat ini masih berada pada fase perencanaan dan penyiapan. Realisasi di lapangan — termasuk penetapan trase, sosialisasi ke masyarakat terdampak, pembebasan lahan — belum bisa dipastikan waktunya.
Penundaan ataupun perubahan trase bisa saja terjadi sewaktu-waktu sebelum konstruksi dimulai.
Seperti dilaporkan di sejumlah media, titik lokasi trase masih “dirahasiakan” dan terus dibahas antara pemerintah pusat dan daerah.
Baca Juga: 69 Desa di Bojonegoro Terdampak Mega Proyek Tol Ngawi–Bojonegoro–Tuban–Lamongan
Mengapa Proyek Ini Penting — Tapi Perlu Diikuti dengan Hati-Hati
Tol Ngawi–Bojonegoro–Babat membawa harapan besar bagi kemajuan infrastruktur dan konektivitas antardaerah.
Jika terlaksana dengan baik, tol ini bisa memangkas jarak, memperlancar distribusi barang dan mobilitas, serta membuka peluang ekonomi baru di daerah-daerah yang selama ini terisolasi.
Sumber: simpulkpbu.pu.go.id








