Banyuwangi, Jurnalnews.com – Keterbatasan fisik tak pernah menjadi alasan untuk menyerah pada keadaan. Itulah potret keteguhan hati yang tercermin dari sosok Hariyadi (30), pemuda penyandang disabilitas asal Dusun Krajan, Desa Sidodadi, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi. Di tengah segala keterbatasan yang dimilikinya, Hariyadi memilih teguh bekerja dengan keringat sendiri, dan menolak hidup dari belas kasihan orang lain.
Dengan nada suara lirih namun penuh keyakinan, Hariyadi menegaskan prinsip hidupnya.
“Saya masih muda, saya masih bisa bekerja. Mohon maaf, saya tidak mau meminta-minta, meskipun kondisi saya seperti ini,” ujarnya kepada Jurnalnews, Sabtu (10/1/2026), di lokasi tempat ia biasa mangkal berjualan.
Hariyadi memilih jalan yang tidak mudah. Ia bertekad tidak menjadi beban keluarga, dan berusaha mencari rezeki yang halal serta penuh berkah. Setiap pagi, dengan semangat yang tak pernah surut, ia mengayuh sepeda ontel yang telah dimodifikasi menjadi roda tiga, lengkap dengan tempat duduk yang disesuaikan dengan kondisinya. Kendaraan sederhana itu menjadi saksi bisu perjuangannya menembus hari demi hari.
Emperan toko di sebelah utara Pasar Bajulmati menjadi titik awalnya mengais rezeki. Di sana, Hariyadi menggelar dagangan berupa layang-layang dan tisu. Ketika waktu istirahat sekolah tiba, ia berpindah ke sekolah-sekolah sekitar, lalu menjelang sore kembali berjualan di pertigaan BRI lama Bajulmati, tepat di dekat penjual buah.
“Kalau pagi saya di sini, siangnya ke sekolah-sekolah pas jam istirahat, sore jualan di pertigaan BRI lama,” jelasnya.
Hariyadi menjual layang-layang dengan harga yang sangat terjangkau. Ada yang dibanderol Rp2.000 hingga Rp3.000 per buah. Saat itu, ia hanya membawa layang-layang karena stok tisu telah habis dan belum sempat kulakan.
“Kalau habis, ya saya kulakan lagi,” ucapnya sederhana.
Untuk mendapatkan barang dagangan, Hariyadi pun harus mengandalkan bantuan temannya. Dengan penuh kejujuran, ia menyerahkan uang yang dimiliki dan meminta tolong dicarikan dagangan sesuai kemampuannya.
“Saya minta tolong teman. Saya bilang, saya punya uang segini, tolong carikan dagangan,” imbuhnya.
Kisah Hariyadi bukan sekadar cerita tentang bertahan hidup, tetapi tentang martabat, keteguhan, dan keberanian melawan keadaan. Dari langkah kecil di atas sepeda roda tiga, tersimpan pelajaran besar tentang arti bekerja tanpa mengeluh, berdiri tanpa menyerah, dan tetap menjaga harga diri di tengah keterbatasan.
Sosok Hariyadi mengingatkan kita semua, bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk bermimpi, berjuang, dan hidup dengan penuh makna. (Venus Hadi)








