sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Gejolak sosial politik di Tanah Air kembali mengguncang pasar keuangan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun ke Rp16.499, sementara IHSG ikut melemah signifikan.
Aksi demonstrasi yang berujung rusuh di depan Gedung DPR RI Jakarta dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan tajam media internasional.
Reuters dalam laporannya yang bertajuk Indonesia Stocks, Rupiah Dive as Political Unrest Jolts Investors menyebut saham-saham Indonesia melemah tajam seiring dengan bentrok demonstran dan aparat.
Baca Juga: Bocor! Gaji DPR RI Tembus Rp230 Juta per Bulan, 42 Kali Lipat UMR Jakarta
Ribuan pekerja turun ke jalan menuntut upah lebih tinggi serta pajak yang lebih rendah. Bahkan, seorang pengemudi ojek tewas dalam bentrokan tersebut.
Forbes juga menyoroti kondisi serupa. Dalam artikelnya berjudul Indonesian Stocks, Rupiah Drop As Jakarta Protests Escalate, disebutkan ketegangan politik di Indonesia berpotensi terus menekan rupiah dan pasar modal. Aliran modal asing pun dilaporkan keluar makin deras.
Data Bloomberg mencatat, pada perdagangan Jumat (29/8/2025), rupiah terdepresiasi 0,90% ke Rp16.499,50 per dolar AS.
Baca Juga: Putus Sekolah Demi Bertahan Hidup, Affan Kurniawan Ojol 21 Tahun Tewas Dilindas Rantis Brimob
Sementara itu, indeks dolar AS justru menguat 0,12% ke level 97,93. Di sisi lain, IHSG ditutup melemah 1,53% atau 121,59 poin ke posisi 7.830,49.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tren pelemahan rupiah akan berlanjut pada perdagangan Senin pekan depan.
Menurutnya, ketegangan sosial dan politik di dalam negeri masih akan berimbas pada psikologis pasar.
“Aksi demo yang menelan korban jiwa dan isu tunjangan DPR memicu kecemburuan sosial, ini membuat tensi politik makin panas,” ungkap Ibrahim.
Baca Juga: Viral! Detik-Detik Driver Ojol Tewas Terlindas Kendaraan Taktis Brimob di Tanah Abang
Dari catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 610 saham ditutup melemah, hanya 122 yang masih mampu bertahan di zona hijau, sedangkan 70 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pun menyusut ke Rp14.211 triliun.
Page 2
Page 3
sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Gejolak sosial politik di Tanah Air kembali mengguncang pasar keuangan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terjun ke Rp16.499, sementara IHSG ikut melemah signifikan.
Aksi demonstrasi yang berujung rusuh di depan Gedung DPR RI Jakarta dalam beberapa hari terakhir menjadi sorotan tajam media internasional.
Reuters dalam laporannya yang bertajuk Indonesia Stocks, Rupiah Dive as Political Unrest Jolts Investors menyebut saham-saham Indonesia melemah tajam seiring dengan bentrok demonstran dan aparat.
Baca Juga: Bocor! Gaji DPR RI Tembus Rp230 Juta per Bulan, 42 Kali Lipat UMR Jakarta
Ribuan pekerja turun ke jalan menuntut upah lebih tinggi serta pajak yang lebih rendah. Bahkan, seorang pengemudi ojek tewas dalam bentrokan tersebut.
Forbes juga menyoroti kondisi serupa. Dalam artikelnya berjudul Indonesian Stocks, Rupiah Drop As Jakarta Protests Escalate, disebutkan ketegangan politik di Indonesia berpotensi terus menekan rupiah dan pasar modal. Aliran modal asing pun dilaporkan keluar makin deras.
Data Bloomberg mencatat, pada perdagangan Jumat (29/8/2025), rupiah terdepresiasi 0,90% ke Rp16.499,50 per dolar AS.
Baca Juga: Putus Sekolah Demi Bertahan Hidup, Affan Kurniawan Ojol 21 Tahun Tewas Dilindas Rantis Brimob
Sementara itu, indeks dolar AS justru menguat 0,12% ke level 97,93. Di sisi lain, IHSG ditutup melemah 1,53% atau 121,59 poin ke posisi 7.830,49.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, memprediksi tren pelemahan rupiah akan berlanjut pada perdagangan Senin pekan depan.
Menurutnya, ketegangan sosial dan politik di dalam negeri masih akan berimbas pada psikologis pasar.
“Aksi demo yang menelan korban jiwa dan isu tunjangan DPR memicu kecemburuan sosial, ini membuat tensi politik makin panas,” ungkap Ibrahim.
Baca Juga: Viral! Detik-Detik Driver Ojol Tewas Terlindas Kendaraan Taktis Brimob di Tanah Abang
Dari catatan Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 610 saham ditutup melemah, hanya 122 yang masih mampu bertahan di zona hijau, sedangkan 70 saham stagnan. Kapitalisasi pasar pun menyusut ke Rp14.211 triliun.