Salah Memasukkan Data, Atletik hanya Dapat Satu Medali

  • Bagikan

atleeetKONTINGEN Banyuwangi terpuruk pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim II tahun 2009 lalu. Bayangkan, prestasi duta olahraga Kota Gandrung itu melorot tajam daripada edisi sebelumnya. Alih-alih mempertahankan posisi di peringkat kelima, Banyuwangi justru terperosok ke posisi ke-24 dari 38 kontingen se-Jatim. Langkah mundur itu jelas menjadi pukulan telak bagi kontingen paling ujung timur Pulau Jawa ini.

Ironisnya, prestasi cabang olahraga yang diunggulkan meraih juara justru gagal. Tentu saja hal itu mengakibatkan kontingen Banyuwangi gagal total. Sekadar tahu, prestasi kontingen Banyuwangi jeblok sepeninggal Pebdi Arisdiawan. Dia harus merelakan jabatan sebagai ketua umum KONI Banyuwangi karena terbentur regulasi. Sebagai catatan, dia saat itu menjadi wakil ketua DPRD Banyuwangi. Selepas dia, ketua umum KONI Banyuwangi dipegang Anton Sunartono.

Pada ajang multi even kedua tahun 2009 itu, ternyata prestasi kontingen Banyuwangi jeblok. Ketua kontingen Banyuwangi saat itu masih dipegang Joko Triadni yang kini masih eksis dalam mengembangkan karate yang tergabung dalam Federasi Karate Tradisional Indonesia (FKTI) Banyuwangi. Prestasi yang melorot itu membuat kontingen Banyuwangi tidak lagi diperhitungkan di level Jatim. Sebagai catatan, kontingen Banyuwangi hanya meraup 6 medali dalam ajang tersebut.

Meski begitu, ada sebagian cabang olahraga (cabor) yang  tetap menunjukkan eksistensi dalam ajang yang digeber di Malang itu. Salah satunya cabang atletik Capaian cabang atletik Banyuwangi juga saat itu tidak terlalu menonjol. Bayangkan, dari sekian nomor lomba yang diperebutkan, cabang atletik Banyuwangi hanya meraup satu medali. ‘’Kami dapat satu medali perak,’’ sebut pelatih cabang atletik Banyuwangi, Agus Sujiyono, kemarin. 

Dia menyebut, jika satu medali di raih dengan susah payah. Sebab, persaingan antar kontingen sangat ketat. Atlet peraih medali perak itu adalah Hari Rohman. ‘’Dia memang menjadi kebanggaan Banyuwangi,’’ paparnya kepada Jawa Pos Radar Banyuwangi. Sebetulnya, capaian cabang atletik Banyuwangi juga melorot jika dibandingkan dengan edisi sebelumnya.

Sebab, pada tahun 2007, cabang atletik Banyuwangi menyumbang 3 medali. ‘’Situasinya pada tahun 2009 sangat berbeda,’’ kata Agus yang kini menjadi pengurus KONI Banyuwangi itu. Faktor pemicu kegagalan, menurut Agus, bahwa saat itu situasinya memang amburadul. Saat itu, memang ada trouble antara dari kepengurusan KONI Banyuwangi. ‘’Masak enter data cabang atletik salah kirim. Saat itu, tim atletik berlaga di satu kelas.

Ya otomatis, berangkat ke Malang tidak bisa berlomba dan jadi penonton,” keluhnya. Oleh karena itu, hal itu menjadi pengalaman pahit bagi cabang atletik Banyuwangi. Beruntung, cabang atletik Banyuwangi bisa mencuri medali dalam pesta olahraga paling akbar di Jatim itu. “Itu memang menjadi pengalaman terbruk,” tandasnya. (radar)

  • Bagikan
%d blogger menyukai ini: