sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menegaskan Indonesia tidak bisa hanya berkutat pada persoalan domestik di tengah situasi global yang semakin terhubung dan penuh ketidakpastian.
Menurut SBY, dinamika geopolitik dan ekonomi dunia saat ini memiliki dampak langsung terhadap stabilitas nasional, mulai dari arus investasi, perdagangan, hingga stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi.
Pernyataan itu disampaikan SBY dalam forum di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas), Senin (23/2/2026).
Indonesia Harus Adaptif terhadap Perubahan Global
SBY mengingatkan bahwa dunia kini berada dalam fase perubahan cepat, baik akibat rivalitas geopolitik, ketegangan perdagangan, hingga transformasi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI).
“Kita tidak bisa hanya fokus pada urusan domestik. Apa yang terjadi di dunia pasti berdampak pada kondisi nasional,” tegasnya.
Menurutnya, kebijakan ekonomi nasional harus dirancang dengan mempertimbangkan dinamika global agar Indonesia tetap kompetitif dan tidak tertinggal dalam percaturan ekonomi dunia.
Target Pertumbuhan 7–8 Persen Dinilai Tidak Keliru
Dalam kesempatan tersebut, SBY turut menanggapi target pertumbuhan ekonomi 7–8 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
SBY menilai target tersebut bukan sesuatu yang keliru, bahkan dapat menjadi pendorong percepatan pembangunan jika dikelola dengan strategi tepat.
“Kemudian Pak Prabowo punya dream 7-8% tidak salah. Karena dengan 8% harapannya lebih tajam lagi penurunan kemiskinan per capita income. Kemudian barangkali juga pengangguran bisa kita kurangi. Kita bisa menciptakan lebih banyak lapangan kerja karena perekonomian kita sedang tumbuh. Itu hukum ekonomi seperti itu,” ujar SBY.
Ia menjelaskan, secara teori ekonomi, pertumbuhan tinggi akan meningkatkan pendapatan per kapita, memperluas lapangan kerja, serta mempercepat penurunan angka kemiskinan.
Target Harus Fleksibel dan Realistis
Meski mendukung semangat pertumbuhan tinggi, SBY mengingatkan bahwa target tersebut harus adaptif dan bisa disesuaikan dengan perkembangan global maupun nasional.
Page 2
Page 3
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi sangat dipengaruhi faktor eksternal seperti harga komoditas, suku bunga global, arus modal, hingga stabilitas politik internasional.
Karena itu, kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil harus terintegrasi serta responsif terhadap perubahan situasi global.
Singgung Era Jokowi dan Dampak Pandemi
SBY juga menyinggung capaian ekonomi yang dilanjutkan pada masa Presiden ke-7 RI Joko Widodo.
Ia memahami bahwa tekanan besar akibat pandemi COVID-19 sempat mengubah trajektori pertumbuhan ekonomi Indonesia secara signifikan.
Pandemi memicu kontraksi ekonomi global, gangguan rantai pasok, hingga tekanan fiskal akibat belanja penanganan kesehatan dan bantuan sosial.
Namun demikian, SBY berharap pemerintahan saat ini mampu mengembalikan kurva pertumbuhan ke jalur sebelum pandemi.
Lepas dari Middle Income Trap
Salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini, menurut SBY, adalah keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle income trap).
Jika pertumbuhan ekonomi stagnan di kisaran 5 persen, Indonesia berisiko sulit naik kelas menjadi negara berpendapatan tinggi.
Karena itu, pertumbuhan 7–8 persen dinilai dapat menjadi momentum strategis untuk:
- Meningkatkan produktivitas nasional
- Mendorong hilirisasi industri
- Memperkuat daya saing global
- Menciptakan lapangan kerja berkualitas
Namun semua itu, tegas SBY, harus ditopang oleh stabilitas politik, tata kelola pemerintahan yang baik, serta kepastian hukum bagi investor.
Momentum Strategis Pemerintahan Baru
Pernyataan SBY mencerminkan pentingnya kesinambungan kebijakan ekonomi lintas pemerintahan.
Ia menilai, keberhasilan Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah membaca arah perubahan global sekaligus memperkuat fondasi domestik.








