Serunya Festival Adang Bareng di Gombengsari

0
321


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

KALIPURO – Apa yang dilakukan ibu-ibu dari Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro ini tergolong unik. Mereka mengusung dandang dan kukusan di pinggir jalan untuk mengikuti Festival Adang Bareng. Ada tiga ratus orang yang ikut lomba adang bareng.

Yang menarik, lokasi lomba adang ini berlangsung di pinggir jalan kelurahan setempat. Pesertanya sekitar 300 orang yang terbagi menajdi seratus kelompok. Ada ibu-ibu dan bapak-bapak. Tungku  yang terbuat dari tumpukan bata ditata ala kadarnya  di pinggir jalan.

Selanjutnya di atas tunggu berdiri dandang dan kukusan. Beras yang sudah dicuci dimasukkan dalam kukusan hingga berubah wujud menjadi nasi. Sore itu, tunggu-tungku tradisionil terlihat menganga karena di dalamnya menyala api dari kayu bakar.

Dalam sekejap, bau nasi masak dan kepulan asap membubung tinggi di jalan utama Kelurahan Gombengsari. Festival Adang Bareng ini merupakan serangkaian acara dalam rangka peringatan Hari Jadi Kelurahan Gombengsari ke-16.

Rentetan kegiatan ini dilakukan sejak tanggal 25 Desember hingga  27 Desember 2016. Sementara hari ulang tahun Gombengsari ditetapkan tanggal 28 Desember 2000. Adang bareng atau menanak nasi bareng adalah kegiatan unik yang diselenggarakan atas ide warga sendiri.

Kegiatan ini diikuti oleh ibu-ibu dan juga bapak-bapak yang mau ikut membantu. Harsono Sidik, selaku ketua panitia mengatakan,  kegiatan adang bareng ni sebagai salah satu upaya untuk pelestarian  budaya menanak nasi menggunakan dandang dan tungku yang mulai hilang.

”Acara adang bareng ini merupakan langkah menguri-uri atau  melestarikan budaya dan menghargai tradisi nenek moyang. Supaya anak-anak muda di sini  tahu tentang tradisi menanak nasi memakai dandang dan tungku, bukan hanya tahu menanak nasi pakai magic com yang tinggal colok saja,’’ ujar Sidik.

Kegiatan menanak nasi ini juga  dilombakan. Perlombaan diikuti oleh hampir seluruh ibu yang  berasal dari lima lingkungan yang ada di Kelurahan Gombengsari. Sidik-panggilan akrabnya  mengatakan, ada 300-an warga yang ikut dalam lomba ini.

Setiap kelompok mendapatkan fasilitas tungku dari batu-bata, seikat kayu untuk bahan bakar, beras, pakis dan ikan asin. Sementara dandangnya membawa sendiri dari rumah. “Bahan bumbu dibawa sendiri oleh para ibu-ibu. Bumbu apa saja boleh. Para ibu  bebas mengolah sayur pakis dan ikan gerrang itu menjadi apa saja.  Asalkan bisa dimakan sama nasi,“  katanya seraya terkekeh.

Sidik mengungkapkan, bahwa penilaian lomba ini mencakup tiga hal, yaitu tingkat kematangan nasi, kreativitas mengolah menu, dan cara penyajiannya. “Setiap kelompok diberi waktu tiga jam  untuk mengolah semua bahan. Tantangan dalam lomba ini adalah bagaimana caranya supaya api  tungku tidak padam dan kreativitas mengolah menu. Mempertahankan api tetap menyala itu sulit, apalagi di ruang terbuka seperti ini,“  imbuhnya lagi.

Lurah Gombengsari, Moch. Farid Isnaini mengaku berterimakasih atas kerjasama panitia dan antusias warga dalam kegiatan tersebut. Farid mengatakan jika festival ini merupakan  festival yang pertama kali. “Semoga kegiatan ini semakin mempererat persaudaraan dan persatuan diantara kita. Sehingga  budaya yang ada di lingkungan Gombeng ini tetap lestari,“  ujarnya.

Warga, terutama para ibu, terlihat sangat bersemangat dalam kegiatan itu. Asap mengepul  yang perih jika terkena mata seolah tak menjadi penghalang  bagi ibu-ibu itu. Iis, 38, salah  satu warga Dusun Lerrek, mengaku senang dengan kegiatan adang  bareng.

“Saya senang sekali  dengan acara ini mbak. Sebenarnya saya lagi sakit. Tapi lihat warga kumpul di sini, jadi nggak terasa lagi sakitnya,’’ pungkasnya. (radar)

Loading...