Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Sopir Logistik Desak Lintasan Ketapang-Lembar Dibuka Kembali, Ini Pendapat Gapasdap

sopir-logistik-desak-lintasan-ketapang-lembar-dibuka-kembali,-ini-pendapat-gapasdap
Sopir Logistik Desak Lintasan Ketapang-Lembar Dibuka Kembali, Ini Pendapat Gapasdap

ngopibareng.id

Muncul desakan untuk membuka kembali lintasan penyeberangan Ketapang, Banyuwangi-Lembar, Lombok Barat. Desakan ini seolah diamini para operator pelayaran yang tergabung dalam Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan Penyebaran (Gapasdap). Sebab, minat pasar penyeberangan ke Lombok cenderung memilih berangkat dari Banyuwangi dibanding di Pelabuhan Jangkar.

Ketua DPD Gapasdap Jawa Timur, Putu Widiana, mengatakan, secara prinsip, Gapasdap selaku operator kapal siap mengisi lintasan manapun sesuai instruksi pemerintah. 

“Selaku operator kapal kita selalu siap melaksanakan instruksi untuk mengisi lintasan mana saja, kita selalu siap menyesuaikan segala sesuatunya dengan regulasi yang mendukung,’ jelasnya, usai mengikuti hearing di DPRD Banyuwangi, Rabu, 28 Januari 2025 kemarin.

Khusus untuk lintasan Jangkar-Lembar, menurutnya, pada awal lintasan tersebut dibuka yakni Januari 2024, terdapat enam kapal yang beroperasi melayani penyeberangan dari Pelabuhan Jangkar, Situbondo, menuju Pelabuhan Lembar, Lombok Barat. Namun menurutnya tidak ada perkembangan pasar. Sebaliknya justru semakin lesu.

“Semakin hari, semakin bulan, tidak ada peningkatan, akhirnya teman-teman operator kapal tidak kuat untuk beli BBM, gaji karyawan, segala macam,” jelasnya.

Putu menyebut, kondisi ini membuat operator kapal yang beroperasi di lintas Jangkar-Lembar satu persatu mundur.  Saat ini, menurutnya, hanya tersisa dua kapal yang melayani lintasan Jangkar-Lembar. Kapal yang lain sudah mundur karena tidak sepadan dengan biaya operasional yang dikeluarkan. 

Putu menyebut, kurang diminatinya lintasan Jangkar-Lembar ini dipengaruhi faktor selesar dari para sopir logistik. Faktor lainnya, lokasi Pelabuhan Jangkar mungkin dianggap terlalu jauh dari jalan Provinsi.

“Kita nggak tahu sih sebenarnya alasannya kenapa tidak melalui jangkar,” katanya.

Pengusaha juga tidak bisa memaksakan sopir untuk naik kapal di lintasan mana. Di sisi lain, operator kapal juga bisa memilih lintasan tertentu agar bisa break event point untuk menutupi biaya operasional.

Mengenai desakan untuk pembukaan kembali lintasan Ketapang-Lembar, menurutnya, keputusan itu merupakan kewenangan pemerintah. Karena yang melakukan kajian adalah pemerintah. 

Namun, dari sudut pandang bisnis, berdasarkan data saat lintasan Ketapang-Lembar masih eksis dibandingkan dengan data di lintasan Jangkar-Lembar, masih lebih baik dan menjanjikan lintasan Ketapang-Lembar.

“Kalau dibandingkan (berdasarkan data) Jangkar-Lembar dengan Ketapang Lembar, lebih baik Ketapang-Lembar,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam hearing antara para sopir logistik yang tergabung dalam Asosiasi Sopir Logistik Indonesia (ASLI) Rabu kemarin, terungkap, pengguna jasa penyeberangan Jangkar-Lembar sangat minim. Apalagi dari arah Lembar menuju Jangkar. Jumlah penumpang hanya di bawah 20 persen dari kapasitas kapal. Sopir lebih memilih kembali ke Jawa melalui Pelabuhan Lembar menuju Pelabuhan Padang Bai, Bali. 

Ditemui usai hearing, Ketua ASLI, Slamet Barokah, mengatakan, prinsipnya para sopir ingin kelancaran pendistribusian barang logistik dari Pulau Jawa ke Nusa Tenggara Barat. Dia menyebut, pihaknya sudah lama menyampaikan keinginan agar lintasan penyeberangan Ketapang-Lembar dapat dibuka kembali.

“Kalau masalah Ketapang-Lembar dibuka lagi, itu udah dari dulu kami mengajukan. Kami sudah sering kok bersurat ke Kementerian terkait, bersurat kepada lembaga terkait, tapi ya sampai saat ini tidak ada responnya,” jelasnya.

Dia menyebut, ditutupnya lintasan Ketapang-Lembar yang dialihkan ke Jangkar-Lembar memicu kemacetan di sekitar Pelabuhan Ketapang.

“Kemacetan di Banyuwang ini terus-terus dan terus terjadi,” jelasnya.

Mayoritas sopir, menurutnya, lebih memilih kapal di Pelabuhan Tanjungwangi untuk menuju Lombok. Sebab, Pelabuhan Jangkar posisinya kurang strategis bagi para sopir logistik. Khususnya bagi para sopir logistik yang berdomisili di Banyuwangi.

Baca Juga

Faktor lainnya, fasilitas di sekitar Pelabuhan Jangkar kurang memadai. Dan yang paling menjadi pertimbangan adalah harga tiketnya jauh lebih mahal dibanding debgan tiket kapal dari Pelabuhan Tanjungwangi, Banyuwangi ke Pelabuhan Gilimas maupun tiket Kapal Ketapang-Lembar saat masih beroperasi.

“Harga tiket yang sangat jauh. Rp900 ribu perbedaan antara Banyuwangi. Banyuwangi-NTB sama Jangkar-NTB selisihnya Rp900 ribu lumayan loh. Sedangkan perjalanan dari Asembagus ke Banyuwangi paling cuma nambah biaya solar Rp100 ribu-Rp150 ribu untuk memuatan logistik,” tegasnya.

Sebagai perbandingan tiket kapal dari Pelabuhan Tanjungwangi Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimas  untuk truk tronton sebesar Rp4.550.000. dan truk engkel sebesar Rp3.550.000. Sedangkan tiket kapal dari Jangkar  menuju Lembar untuk truk tronton  sebesar Rp5.650.000. dan truk engkel Rp4.206.700 

Oleh karena itu, dia berharap lintasan Penyeberangan Ketapang-Lembar yang sudah pernah ada bisa dibuka kembali. Apalagi mayoritas anggota ASLI yang berjumlah 2.154 sopir logistik mayoritas adalah putra daerah Banyuwangi. Sebagian besar rutenya adalah ke wilayah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.