Sudah Turun-temurun, Satu RT Ada Sepuluh Pandai Besi

0
524


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

BUANG terlihat sibuk memanggang besi di atas bara api siang itu. Dibantu istri tercintanya, Isnaiyah, pria berusia 47 tahun itu sesekali membolak-balik besi yang akan dipoles menjadi golok. Pada saat bersamaan, Isnaiyah juga sibuk memoles gagang pisau berbahan kayu.

Pasangan suami-istri itu bekerja sama memproses besi menjadi senjata tajam (sajam) tradisional. Buang termasuk salah satu perajin  pandai besi yang masih bertahan hingga kini. Dia  sudah cukup lama menekuni pembuatan sajam tradisional tersebut. Dia sudah menggeluti profesi itu sebelum menikah.

Hingga kemarin Buang tetap menikmati  pekerjaannya itu dengan penuh syukur. Sebab, usaha memproduksi aneka macam  sajam tersebut cukup untuk memenuhi  kebutuhan hidup keluarga.  Dalam kondisi apa pun, dia tidak mau berpindah haluan.  Itu karena pekerjaannya itu telah  berlangsung turun-temurun di kampungnya, Dusun Kendal, Desa Sumberbaru, Kecamatan  Singojuruh.

Kata Buang, dulu di kampungnya hanya ada satu orang pandai besi. Tetapi, saat ini tukang pandai besi semakin banyak. Buang bisa memproduksi aneka macam  sajam tradisional, seperti pisau,  golok, parang dan cangkul. Dia sanggup memproduksi alat-alat tersebut sesuai pesanan.

Selama ini Buang memasok barang-barang produksinya itu  ke berbagai daerah. Itu tergantung permintaan dari para pengepul dan agen. ‘’Sudah ada agen yang  siap menampungnya,” ujarnya ditemui di tempat kerjanya kemarin pagi.  Golok produksi Buang bukan  hanya untuk memenuhi pasar lokal Banyuwangi. Menurut Buang, hasil produksinya juga  ke rap dikirim ke luar daerah di   Jawa Timur.

‘’Misalnya dapat order dari Tulungagung,’’ tandas  pria berusia 47 tahun itu.  Dalam sehari Buang mengaku  bisa memproduksi puluhan golok. Untuk jenis golok, Buang bisa menyelesaikan 24 buah. ‘’Kalau  golok bisa segitu, tapi kalau pisau  bisa sampai 35 buah,” imbuhnya.

Kesulitan pengolahan besi menjadi sajam bervariasi. Tingkat kesulitan itu tergantung jenis sajam yang hendak diproduksi.  ‘’Memang pisau dapur lebih  cepat,” ujarnya. Buang mengaku mendapatkan bahan baku dari salah satu toko  di Srono. Karena masih tradisional,   maka Buang membutuhkan kayu  bakar dan arang.

‘’Kalau arang sudah punya langganan,” tukasnya. Sebagai tukang pandai besi,  Buang dituntut menjaga kualitas hasil produksinya. Sebab, dia harus  bersaing dengan produk pabrik.  Ternyata bukan hanya Buang saja yang menekuni usaha pandai besi.  Sebab, banyak warga di kampung-   nya yang meng gantungkan hidup  dari hasil produksi pandai besi.

‘’Walaupun banyak, tapi setiap  tukang pandai punya label sendiri- sendiri,” kata Buang. Keuntungan yang didapat dari  menjadi pandai besi memang   dianggap cukup. Estimasi biaya  operasional dalam sehari rata-rata Rp 200 ribu. Pengeluaran itu untuk  membeli besi, arang, dan bahan   penghalus besi alias mata gerinda.

‘’Satu buah golok harganya Rp 20  ribuan. Ya, lumayan masih bisa untung,” bebernya. Tukang pandai besi lain, Hariyadi, juga sudah cukup lama  menekuni pekerjaan yang sama.  Dia juga piawai memproduksi sajam tradisional. ‘’Orang-orang sini libur kerja hari Jumat,” kata  bapak satu anak itu.

Menurut dia, di kampungnya memang banyak yang menjadi usaha pandai besi. Meski begitu, setiap tukang bersaing dengan sportif. ‘’Karena sudah punya jaringan sendiri-sendiri. Saya sering juga kirim ke Jember,” tandasnya.  Saking banyaknya, jangan heran kampung tersebut disebut sentra  pandai besi. Bayangkan, di satu  RT saja terdapat sepuluh tukang  pandai besi.

‘’Biasanya di satu tempat lebih dari satu orang pekerja,” kata Hariyadi.  Karena tukang pandai besi tersebut tetap eksis dengan jumlah pekerja yang semakin bertambah, pemerintah desa setempat pun berencana membuat patung pandai besi di pertigaan kampung setempat.

‘’Mau dibuat patung besar di sini sebagai  simbol sentra kampung pandai besi,” tandas Hariyadi.  Di desa tersebut juga ada warga yang fokus menekuni pembuatan alat yang menyerupai barang antik alias gaman, seperti pedang, sangkur, dan samurai. Seperti  yang ditekuni Hariyanto, ‘’Saya selama ini memasarkan lewat  medsos. Alhamdulillah pesanan banyak,” katanya. (radar)

Loading...

Baca Juga :