Radarabanyuwangi.id – Konflik agraria antara PT Perkebunan dan Dagang Bumisari Maju Sukses dengan warga Desa Pakel, Kecamatan Licin, semakin tajam.
Kamis (14/3), kedua kubu saling serang hingga terjadi pelemparan batu.
Salah satu warga Pakel, Sri Maryati menjelaskan, insiden tersebut terjadi saat sejumlah karyawan Bumisari berdatangan di area perkebunan warga.
Mereka melakukan perusakan tanaman milik warga.
”Tanaman seluas dua hektare milik warga dirusak, bahkan posko yang didirikan warga di tengah jalan juga dibakar,” katanya.
Kedatangan sekelompok karyawan Bumisari tersebut kembali memantik konflik antara dua kubu.
”Sejumlah massa dari perkebunan Bumisari juga terlihat membawa senjata api dan senjata tajam (sajam). Warga berusaha mempertahankan diri dan melindungi lahannya,” ungkapnya.
Dalam bentrokan tersebut, satu warga mengalami kekerasan fisik. Korban yang merupakan perempuan itu mengalami luka memar di bagian tangan, lengan, dan kaki.
”Ada beberapa karyawan Bumisari yang pulang dan meminta maaf kepada kami. Beberapa dari mereka merasa dibodohi dan dibayar untuk menyerang petani Pakel,” pungkas Sri.
Pihak Bumisari yang diwakili Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Banyuwangi Sastiyanto menyebut, ketegangan meletus saat karyawan Bumisari memperbaiki akses jalan di wilayah perkebunan.
Namun, pihaknya mendapatkan perlakuan kriminalitas oleh Rukun Tani Sumberrejo Pakel.
”Berulang-ulang solidaritas para karyawan mendapatkan ujian ketika menjalankan aktivitasnya sebagai buruh dan karyawan perkebunan PT Bumisari. Pada awal Maret 2024, para karyawan dan buruh Bumisari mendapatkan perlakuan kriminalitas dari Rukun Tani Sumberrejo Pakel yang diketuai oleh Harun,” ungkap Sastiyanto.
Sejak awal Maret itu juga, para karyawan dan buruh berhasil membuka kembali akses jalan tembus ke Desa Pakel yang semula ditutup menggunakan pohon mahoni.
Di tengah jalan tersebut juga didirikan posko oleh Rukun Tani Sumberrejo Pakel.
Pada 4 Maret 2024, petugas keamanan perkebunan Bumisari yang menjalankan latihan juga dihadang oleh Rukun Tani Sumberrejo yang diketuai oleh Harun.
Page 2
Puncaknya, pada 14 Maret 2024, karyawan dan buruh PT Bumisari sepakat akan melakukan pembersihan dan pembenahan jaringan listrik yang putus.

PERJUANGKAN HAK ATAS TANAH: Warga Pakel kerap menerima teror dari sekelompok orang dari PT Perkebunan dan Dagang Bumi Sari Maju Sukses. Satu warga mengalami kekerasan fisik. (Bagus Rio)
Jaringan listrik putus akibat tertimpa pohon mahoni yang ditebang oleh sekelompok orang tidak dikenal.
”Ketika memperbaiki jaringan listrik, karyawan Bumisari malah mendapatkan aksi kriminalitas yang dilakukan oleh Rukun Tani Sumberrejo,” beber Sastiyanto.
Para karyawan yang melakukan perbaikan dilempari batu menggunakan ketapel.
Tidak hanya itu, para karyawan sempat bersitegang dengan kelompok Rukun Tani Sumberrejo yang kebanyakan ibu-ibu.
”Sejumlah karyawan Bumisari mengalami luka-luka dan harus mendapat perawatan,” sebutnya.
Sastiyanto menegaskan, para karyawan dan buruh PT Bumisari yang tergabung dalam SPSI tersebut tidak pernah melakukan pemukulan.
Mereka juga tidak melakukan provokasi atau pun memancing terjadinya konflik.
Para karyawan dan buruh PT Bumisari hanya berusaha mempertahankan pekerjaan yang selama ini sudah diambil alih oleh Rukun Tani Sumberrejo, Pakel.
”Kami hanya ingin melakukan percepatan dan ketegasan dalam penanganan konflik yang sudah bertahun-tahun. Karena ada 1.250 karyawan yang menggantungkan hidupnya dari Perkebunan Bumisari,” ungkapnya.
Dikatakan Sastiyanto, legalitas PT Bumisari sebagai pemegang izin resmi yang dibuktikan dengan kepemilikan sertifikat Hak Guna Usaha (HGU) dengan nomor 0295, 0296, 0297, dan nomor 0298 masih aktif hingga tahun 2034 mendatang. (rio/aif/c1)
Page 3
Radarabanyuwangi.id – Konflik agraria antara PT Perkebunan dan Dagang Bumisari Maju Sukses dengan warga Desa Pakel, Kecamatan Licin, semakin tajam.
Kamis (14/3), kedua kubu saling serang hingga terjadi pelemparan batu.
Salah satu warga Pakel, Sri Maryati menjelaskan, insiden tersebut terjadi saat sejumlah karyawan Bumisari berdatangan di area perkebunan warga.
Mereka melakukan perusakan tanaman milik warga.
”Tanaman seluas dua hektare milik warga dirusak, bahkan posko yang didirikan warga di tengah jalan juga dibakar,” katanya.
Kedatangan sekelompok karyawan Bumisari tersebut kembali memantik konflik antara dua kubu.
”Sejumlah massa dari perkebunan Bumisari juga terlihat membawa senjata api dan senjata tajam (sajam). Warga berusaha mempertahankan diri dan melindungi lahannya,” ungkapnya.
Dalam bentrokan tersebut, satu warga mengalami kekerasan fisik. Korban yang merupakan perempuan itu mengalami luka memar di bagian tangan, lengan, dan kaki.
”Ada beberapa karyawan Bumisari yang pulang dan meminta maaf kepada kami. Beberapa dari mereka merasa dibodohi dan dibayar untuk menyerang petani Pakel,” pungkas Sri.
Pihak Bumisari yang diwakili Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Banyuwangi Sastiyanto menyebut, ketegangan meletus saat karyawan Bumisari memperbaiki akses jalan di wilayah perkebunan.
Namun, pihaknya mendapatkan perlakuan kriminalitas oleh Rukun Tani Sumberrejo Pakel.
”Berulang-ulang solidaritas para karyawan mendapatkan ujian ketika menjalankan aktivitasnya sebagai buruh dan karyawan perkebunan PT Bumisari. Pada awal Maret 2024, para karyawan dan buruh Bumisari mendapatkan perlakuan kriminalitas dari Rukun Tani Sumberrejo Pakel yang diketuai oleh Harun,” ungkap Sastiyanto.
Sejak awal Maret itu juga, para karyawan dan buruh berhasil membuka kembali akses jalan tembus ke Desa Pakel yang semula ditutup menggunakan pohon mahoni.
Di tengah jalan tersebut juga didirikan posko oleh Rukun Tani Sumberrejo Pakel.
Pada 4 Maret 2024, petugas keamanan perkebunan Bumisari yang menjalankan latihan juga dihadang oleh Rukun Tani Sumberrejo yang diketuai oleh Harun.