Kumpulan Berita Terkini Seputar Banyuwangi
English VersionBahasa Indonesia

Cuaca Buruk Selat Bali Ancam Mudik Lebaran 2026, ASDP Siagakan Tugboat dan Ratusan Personel di Ketapang–Gilimanuk

cuaca-buruk-selat-bali-ancam-mudik-lebaran-2026,-asdp-siagakan-tugboat-dan-ratusan-personel-di-ketapang–gilimanuk
Cuaca Buruk Selat Bali Ancam Mudik Lebaran 2026, ASDP Siagakan Tugboat dan Ratusan Personel di Ketapang–Gilimanuk

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Potensi cuaca buruk di Selat Bali menjadi perhatian serius menjelang periode Angkutan Lebaran 2026.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan berbagai langkah antisipatif guna menjaga keamanan dan kelancaran layanan penyeberangan, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk yang diprediksi mengalami lonjakan penumpang sekaligus berhadapan dengan risiko gelombang laut.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, keselamatan pengguna jasa tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim mudik.

Berbagai langkah penguatan operasional telah disiapkan, mulai dari kesiapan armada, penambahan personel, hingga dukungan sistem pengendalian operasional.

WhatsApp-Image-2026-02-27-at-1526231-413

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran, khususnya di wilayah perairan yang menjadi jalur utama penyeberangan.

Selain itu, pada periode Maret hingga April diperkirakan terjadi gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.

Kondisi ini menjadi faktor yang harus diantisipasi mengingat jalur penyeberangan Selat Bali merupakan salah satu lintasan tersibuk selama arus mudik dan balik Lebaran.

“Kami berkomitmen menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Berbagai langkah antisipatif kami lakukan agar layanan tetap andal dan masyarakat merasa aman saat menggunakan jasa penyeberangan,” ujar Heru.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem, ASDP menyiagakan kapal tugboat untuk membantu manuver kapal saat terjadi angin kencang maupun arus laut yang kuat.

Kehadiran kapal bantu ini diharapkan mampu menjaga stabilitas operasional kapal ferry, terutama saat proses sandar dan lepas sandar di pelabuhan.

Dengan dukungan tugboat, kapal ferry yang beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk tetap dapat bermanuver dengan aman meskipun menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Selain penguatan armada, ASDP juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Sebanyak 350 personel disiagakan di Pelabuhan Ketapang dan 250 personel di Pelabuhan Gilimanuk.


Page 2

Personel tersebut ditempatkan di berbagai titik strategis, mulai dari area pelabuhan, buffer zone, hingga titik-titik krusial yang berpotensi menjadi simpul kepadatan penumpang dan kendaraan.

“Mereka ditempatkan di pelabuhan, buffer zone, hingga titik-titik krusial untuk memastikan operasional tetap terkendali,” tegas Heru.

Sementara itu, Corporate Secretary ASDP Windy Andale mengungkapkan bahwa secara nasional ASDP memproyeksikan pergerakan penumpang selama periode Angkutan Lebaran 2026 mencapai sekitar 5,8 juta orang dengan total kendaraan diperkirakan mencapai 1,4 juta unit.

Khusus untuk lintasan Jawa–Bali, jumlah penumpang diprediksi mengalami peningkatan sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah kendaraan diperkirakan naik sekitar 9,3 persen.

Lonjakan mobilitas juga diperkirakan terjadi pada arus balik dari Bali menuju Jawa, sehingga kesiapan layanan penyeberangan menjadi faktor krusial dalam menjaga kelancaran arus transportasi selama periode tersebut.

“Dengan penguatan armada, personel, dan sistem digital, ASDP berharap penyeberangan Selat Bali tetap aman dan terkendali meski dihadapkan pada potensi cuaca ekstrem dan lonjakan arus mudik,” ujar Windy.

Di sisi lain, pemerintah juga melakukan penyesuaian operasional transportasi mengingat momentum Hari Raya Nyepi tahun ini berdekatan dengan periode Angkutan Lebaran.

Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Aan Suhanan menjelaskan bahwa lonjakan mobilitas masyarakat diperkirakan terjadi pada periode 13 hingga 29 Maret 2026.

Untuk mengantisipasi potensi kepadatan kendaraan dan penumpang, pemerintah menyiapkan sejumlah skema pengaturan lalu lintas serta penguatan layanan penyeberangan.

Beberapa langkah yang dilakukan antara lain optimalisasi Dermaga MB dan LCM di lintasan Ketapang–Gilimanuk guna meningkatkan kapasitas layanan kapal.

Selain itu, pemerintah juga mengoperasikan rute alternatif penyeberangan, yakni Tanjung Wangi–Gilimas serta Jangkar–Lembar, guna mendistribusikan arus kendaraan agar tidak terpusat di satu lintasan.

Pengaturan lalu lintas juga diperkuat melalui penerapan delaying system dengan memanfaatkan buffer zone di jalur tol maupun non-tol sebelum kendaraan memasuki kawasan pelabuhan.

Tak hanya itu, kebijakan geofencing juga diterapkan dengan radius sekitar 2,65 kilometer dari Pelabuhan Ketapang dan 2 kilometer dari Pelabuhan Gilimanuk.

Kebijakan ini bertujuan mengendalikan kendaraan yang akan menuju pelabuhan sehingga antrean panjang dapat dihindari.

“Langkah ini untuk mendistribusikan arus kendaraan agar tetap lancar, aman, dan terkendali selama periode puncak mudik,” tandas Aan. (fre/aif)


Page 3

sumber : radarbanyuwangi.jawapos.com – Potensi cuaca buruk di Selat Bali menjadi perhatian serius menjelang periode Angkutan Lebaran 2026.

PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) melakukan berbagai langkah antisipatif guna menjaga keamanan dan kelancaran layanan penyeberangan, khususnya di lintasan Ketapang–Gilimanuk yang diprediksi mengalami lonjakan penumpang sekaligus berhadapan dengan risiko gelombang laut.

Direktur Utama ASDP Heru Widodo mengatakan, keselamatan pengguna jasa tetap menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat selama musim mudik.

Berbagai langkah penguatan operasional telah disiapkan, mulai dari kesiapan armada, penambahan personel, hingga dukungan sistem pengendalian operasional.

WhatsApp-Image-2026-02-27-at-1526231-413

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), hujan dengan intensitas tinggi masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran, khususnya di wilayah perairan yang menjadi jalur utama penyeberangan.

Selain itu, pada periode Maret hingga April diperkirakan terjadi gelombang laut kategori sedang dengan ketinggian antara 1,25 hingga 2,5 meter di perairan selatan Jawa hingga Nusa Tenggara Timur.

Kondisi ini menjadi faktor yang harus diantisipasi mengingat jalur penyeberangan Selat Bali merupakan salah satu lintasan tersibuk selama arus mudik dan balik Lebaran.

“Kami berkomitmen menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama. Berbagai langkah antisipatif kami lakukan agar layanan tetap andal dan masyarakat merasa aman saat menggunakan jasa penyeberangan,” ujar Heru.

Sebagai langkah antisipasi menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem, ASDP menyiagakan kapal tugboat untuk membantu manuver kapal saat terjadi angin kencang maupun arus laut yang kuat.

Kehadiran kapal bantu ini diharapkan mampu menjaga stabilitas operasional kapal ferry, terutama saat proses sandar dan lepas sandar di pelabuhan.

Dengan dukungan tugboat, kapal ferry yang beroperasi di lintasan Ketapang–Gilimanuk tetap dapat bermanuver dengan aman meskipun menghadapi kondisi cuaca yang kurang bersahabat.

Selain penguatan armada, ASDP juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia di lapangan. Sebanyak 350 personel disiagakan di Pelabuhan Ketapang dan 250 personel di Pelabuhan Gilimanuk.