Warga pesisir Ketapang, Kecamatan

0
387
ADU CEPAT: Deretan perahu layar melaju di Selat Bali dengan latar belakang kapal siluman KRI Klewang 625 kemarin.

Bolak Balik Selat Bali hanya 25 Menit Kalipuro punya tradisi menarik dalam memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI. Mereka berlomba adu cepat bolak-balik mengarungi Selat Bali dengan perahu layar.


Daftarkan alamat email Anda, setiap hari kami akan mengabarkan berita terbaru di Banyuwangi langsung ke email Anda.

Sudah daftar tapi tidak menerima email Mohon check folder SPAM.

-SIGIT HARIYADI, Kalipuro-

BIBIR pantai Desa Ketapang tampak dibanjiri ratusan manusia siang itu (2/9). Mereka seolah tidak menghiraukan terik matahari yang “membakar” kulit.Tanah kosong di bawah pohon waru berukuran besar yang seharusnya dapat digunakan untuk tempat berteduh, tampaknya kurang begitu diminati.

Para pengunjung tampak lebih suka berdiri bergerombol tepat di bibir pantai. Pandangan mereka terus mengarah jauh ke arah timur, menghadap tepat ke laut. Sementara itu, jauh di tengah laut terlihat beberapa perahu la yar bergerak menuju pantai Desa Ketapang. Dibandingkan dengan kapal penyeberangan yang beroperasi di Selat Bali, mem buat deretan perahu layar tersebut tampak sangat kecil.

Perahu-perahu tradisional tersebut ternyata sedang beradu cepat menuju pantai Ketapang. Lokasi finish balap perahu bertajuk Arung Banyuwangi Bali (Arubaba) 2012 itu adalah pantai di antara Pelabuhan ASDP Ketapang dengan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Banyuwangi. Laju perahu-perahu tersebut cukup kencang.

Bayangkan saja, jarak pantai Ketapang-Gilimanuk pergi pulang (PP) yang mencapai delapan mil laut, ternyata hanya ditempuh dalam waktu 25 menit. Padahal, saat itu angin bertiup cukup kencang sehingga mengakibatkan gelombang lumayan tinggi. Selain itu, akhir-akhir ini sedang musim feri kandas lantaran terseret arus. “Justru gelombang tinggi inilah tantangannya.

Kalau anginnya tidak kencang, lomba perahu layar akan berubah menjadi lomba dayung,” ujar Ahmadi, ketua panitia Arubaba 2012. Nah, meskipun para peserta adalah kalangan nelayan yang sudah malang-melintang di laut, panitia tidak mau mengesampingkan faktor keselamatan.

Untuk menghin dari hal-hal yang tidak diinginkan, seluruh peserta wajib mengenakan pelampung (life jacket). Sementara meski tanpa mesin, perahu-perahu tradisional tersebut mampu mengarungi lautan sejauh sekitar delapan mil laut hanya dalam kurun waktu 20-an menit. Angin kencang sehingga menga kibatkan gelombang cukup tinggi di Selat Bali, tidak membuat para peserta ciut nyali.

Sebaliknya, mereka semakin tertantang untuk menaklukkan medan laga. Ahmadi menambahkan, peserta lomba Arubaba kali ini berjumlah 32 perahu. Sebanyak 15 perahu berasal dari Banyuwangi; enam perahu asal Gi limanuk, Bali; sedangkan 11 unit perahu yang lain berasal dari Pebuahan dan Air Kuning, Negara, Bali.

“Setiap peserta harus menempuh perjalanan dari Pantai Desa Ketapang menuju Pantai Gilimanuk, pergi pulang (PP). Jaraknya sekitar delapan mil laut,” paparnya. Diperoleh keterangan, waktu yang dibutuhkan para peserta untuk menempuh jarak delapan mil laut tersebut tidak sampai 30 menit. Panitia mencatat, pada event serupa tahun lalu, peserta tercepat hanya membutuhkan waktu 21 menit.

Nah, angin kencang dan ombak cukup tinggi yang melanda Selat Bali kemarin mengakibatkan peserta kesulitan mengendalikan perahu. Akibatnya, peserta tercepat membutuhkan waktu 25 menit untuk mencapai garis finish. Misra’i, peserta asal Desa Bang sring, Kecamatan Wongsorejo mengatakan, angin kencang dan ombak tinggi memang cukup merepotkan para joki mengendalikan arah kapal.

“Tetapi di sinilah (angin kendang dan ombak tinggi) tantangannya,” katanya. Singkat kata, setelah melalui perjuangan yang melelahkan, akhirnya perahu “Gadis Idaman” yang dikemudikan pasangan Hadni, 39, dan Kasim, 26, berhasil menyentuh garis finis pertama. Ayah-anak asal Air Kuning, Negara, Bali, ini pun berhak keluar sebagai juara I.

“Saya bangga bisa keluar sebagai pemenang dalam perlombaan ini,” ujar Hadni singkat. Sementara itu, Kasim mengungkapkan kesulitan utama yang dia hadapi saat mengikuti lomba tersebut adalah menaklukkan ombak yang cukup tinggi. “Cukup merepotkan. Tetapi syukurlah bisa kami atasi,” ungkapnya. Kendala lain yang cukup merepotkan adalah saat perahu tersebut berpapasan dengan kapal penyeberangan yang berukuran jauh lebih besar. “Angin bisa terhalang kapal besar tersebut.

Kalau tidak dapat angin, perahu akan melambat dan sangat sulit dikemudikan,” papar Kasim. Hebatnya, Kasim mengaku tidak melakukan persiapan fisik khusus sebelum mengikuti per lombaan yang cukup menguras energi tersebut. Persiapan yang dia lakukan hanyalah membenahi layar dan beberapa bagian perahu. Padahal, beberapa peserta yang lain terang-terangan mengakui melakukan persiapan fisik, seperti berolah raga dan minum jamu tradisional untuk meningkatkan kebugaran fisik.

“Jamunya telur, madu, dan jahe,” ujar Mulyadi, peserta asal pesisir Air Kuning, Kabupaten Jembrana, Bali. Victor yyang diraih Hadni dan Kasim tentu saja di sambut gembira oleh para pen dukungnya. Saking girangnya, beberapa orang langsung mem-bo pong Hadni saat masuk garis finish. Tidak hanya itu, seorang pendukung yang lain langsung menyalakan kembang api.(radar)

Loading...