Kesulitan Biaya Berobat, Empat Anak Putus Sekolah

0
479
Ponijan, 45, (tiga dari kanan) bersama istri dan anak- anaknya saat bersantai di depan rumah miliknya.

RUMAH keluarga pasangan suami-istri (pasutri) Ponijan, 45, dan Akrima, 42, lokasinya tak jauh dari kantor pusat pemerintahan desa maupun kantor kecamatan. Hanya berjarak sekitar satu kilometer ke arah timur laut.

Kediaman tempat tinggal pasutri itu berada di tengah-tengah perkampungan. Melewati gang sempit, 100 meter dari jalan raya Kiai Hasyim Asyari  Rogojampi. Gang sempit cukup berkelok, melintasi kawasan padat penduduk.

Perkampungan tersebut oleh warga sekitar disebut sebagai  Kampung Anyar. Maklum, kawasan  rumah padat penduduk itu baru saja ada dan ramai dihuni untuk tempat tinggal sejak belasan tahun terakhir.

Rumah pasutri Ponijan dan Akrima berada di tengah-tengah antara rindangnya pohon pisang yang tumbuh lebat. Ada lima hingga enam rumah penduduk di perkampungan itu yang tampak usang. Kayu-kayunya mulai lapuk. Dindingnya dari anyaman bambu (gedek) dan halaman rumahnya  masih beralas tanah.

Bagian atapnya juga dari genting dan asbes yang sudah rusak. Begitulah kondisi permukiman sebagian penduduk di Kampung Anyar, Dusun Rogojampi Utara RT 03/ RW 05, Desa/Kecamatan Rogojampi.

Pasutri Ponijan dan Akrima menempati rumah berukuran tujuh kali sepuluh meter. Tempat tinggalnya cukup memprihatinkan dan jauh dari kata layak huni.  Namun, masih cukup untuk  tempat berteduh dari panas dan hujan bagi tujuh jiwa, yakni  Ponijan bersama istri dan lima anaknya.

Rumah dengan luas 70 meter persegi itu, hanya cukup  untuk satu ruang tamu dua kamar dan dapur yang cuku sempit. Sementara di sebelah kiri rumah itu juga ada sebuah kamar kecil dari bilik anyaman bambu   berukuran satu kali satu meter, hanya cukup buang air kecil.

Loading...

Jika ingin buang air besar (BAB) dan mandi juga harus pergi ke sungai  yang jaraknya sekitar 200 meter  dari rumahnya.  Deru suara mesin serut kayu (kintel) terdengar sayup-sayup. Seorang lelaki tampak sibuk mengerjakan sebuah kugsen gawang pintu dan jendela.

Sementara seorang ibu tampak  membimbing putrinya membuat tas, dari bahan bekas dari bungkus  kemasan kopi. Suasananya cukup  akrab. Tiga orang lelaki remaja dan tumbuh dewasa juga tak kalah  sibuk turut membantu ayahnya  yang sibuk menyerut kayu. Begitulah kondisi keluarga Ponijan dan Akrima.

Sejak menikah tahun 28 tahun silam, pasutri itu baru diberikan momongan anak pertama pada tahun 1992 yang diberi nama Beri Sanjaya, 25. Berselang empat tahun dari  kelahiran putra pertamanya, kembali dikarunia putra kedua yang diberi nama Joko Praswanto  yang kini berusia 21 tahun.

Kedua putranya itu juga mengenyam pendidikan sekolah dasar, seperti kebanyakan anak- anak pada umumnya. Namun, tiga tahun setelah kelahiran putra keduanya itu, Akrima kembali  mengandung dan melahirkan  anak ketiga, Joni Prasetyo yang kini berumur 18 tahun.

Empat tahun kemudian, juga kembali melahirkan seorang putri yang diberi nama Lutfi Ratna Sari. “Empat anak saya sempat  masuk sekolah dasar, tapi karena terkendala biaya akhirnya semua  tidak tamat sekolah dasar (SD),”  ujar Ponijan.

Ujian terberat itu datang, kala Joni Prasetyo berumur tujuh tahun. Putra ketiganya itu sakit-sakitan dan harus mendapatkan  perawatan medis cukup serius akibat penyakit liver yang dideritanya. Bahkan, akibat peristiwa tersebut, seluruh aset dan barang berharga miliknya terpaksa dijual untuk biaya berobat.

“Dua unit becak saat itu saya jual, seluruh barang elektronik dan perabot  rumah tangga juga saya jual untuk  pengobatan anak saya yang ketiga itu,” kenang Ponijan.  Karena sudah tidak punya apa-apa lagi, tak ada pilihan lagi bagi Ponijan selain harus memberhentikan keempat anaknya dalam  menuntut ilmu.

Putra sulungnya, Beri Sanjaya, tidak tamat SD namun  masih mempunyai ijazah karena  ikut program kejar Paket C. Joko Praswanto putra keduanya hanya sampai kelas lima SD dan harus berhenti karena juga sering  sakit-sakitan dan tidak punya biaya.

Joni Prasetyo anak ketiganya yang menderita liver tersebut juga harus berhenti sekolah saat duduk di  kelas empat SD. Sementara adiknya, Lutfi Ratna Sari juga hanya mengenyam manisnya bangku sekolah SD hanya satu tahun atau  kelas satu SD.

Sebagai orang tua, sebetulnya Ponijan dan Akrima tentu berkeinginan menyekolahkan putra- putrinya hingga lulus minimal SMA. Ibarat pepatah, ingin hati memuluk gunung, namun apalah  daya tangan tak sampai. Namun, dengan kondisi itu dia cukup bersyukur.

Meski keempat putranya tidak tamat SD, semuanya sudah bisa membaca dan  mengenal tulisan dengan baik. Termasuk dalam berhitung.  Pada tahun 2011, dia kembali  diberikan amanah atas kelahiran anak kelima yang diberi nama Nuri Lufita, yang kini berusia  enam tahun dan segera akan masuk sekolah dasar.

“Tinggal  anak saya yang kelima ini harapan  kami, untuk bisa sekolah hingga SMA, kalau bisa sampai kuliah,” terang Ponijan sembari menyeka keringat yang mengalir di dahinya. Pekerjaanya setiap hari hanya  sebagai buruh serabutan. Jika ada pekerjaan, dia juga sebagai  tukang kayu biasa dengan upah  harian Rp 80 ribu.

Sementara, Akrima, istrinya hanya seorang ibu rumah tangga dan buruh tani, dengan penghasilan Rp 30 ribu. Itupun jika ada yang  membutuhkan tenaganya di sawah. “ Sering banyak nganggurnya, ketimbang kerjanya,”  terang Akrima.

Untuk mengisi kekosongan waktu di rumah, Akrima bersama putra dan putrinya seringkali mengerjakan  kerajinan dari bahan recycle atau bahan bekas. Misalnya dengan  membuat tas dari plastik bungkus kopi dan plastik bungkus lainnya.

Kerajinan itu lalu dijual ke pasar.  Itupun hasilnya tidak seberapa, hanya mampu menopang kehidupan  bersama lima anaknya. Meski tanah yang kini berdiri milik pribadi, dia masih belum  mampu membangun lebih baik. Suaminya hanya bisa membenahi seadanya, jika ada kelebihan rezeki.

“Alhamdulillah masih  punya rumah untuk berteduh, yang penting panas tidak kepanasan, dan hujan tidak kedinginan,” pungkas Akrima. (radar)

loading...

Kata kunci yang digunakan :