Menang Gara-Gara Jamu Pereda Nyeri Haid

0
151
Tim Matahari berpose di depan SMPN 1 Songon

Delapan anggota Pramuka putri meraih juara II nasional Lomba Tingkat V di Cibubur 21-28 Oktober 2017 lalu. Namanya adalah tim Matahari dari SMPN 1 Songgon. Anggota tim Matahari ini benar-benar membawa harum nama Sunrise of Java.

NIKLAAS ANDREAS, Songgon

SAMBUTAN tepuk tangan khas Pramuka membahana di pintu masuk SMPN 1 Songgon. Barisan rapi siswa berbusana pramuka lengkap itu mengambil posisi saling berhadapan. Tidak biasanya ada regu Pramuka di sekolah pagi itu. Mereka sedang menunggu kehadiran delapan tamu spesial.

Tamu yang mereka tunggu itu tidak lain adalah teman satu sekolah sendiri. Spesial, karena mereka baru saja pulang dari Bumi Perkemahan Cibubur dalam acara Lomba Tingkat V.   Acara rutin bagi Pramuka penggalang se-Indonesia setiap lima tahun sekali.

Disana mereka berkumpul untuk berlomba dan saling menunjukkan kemampuan dalam inovasi. Satu medali perak menjasdi penantian keberhasilan tim yang beranggota delapan Pramuka putri ini.

Mereka adalah Sriayu Dini Lestari, Afida Noer Laili, Dewi Sri Wahyuni, Salsabila Fatma Aripa, Dwi Anggita Sari, Ninggar Agustina, Audy Putri Lestari, dan Deswita Erfiana Baso.

Dalam lomba tingkat V, ada lima bidang yang dilombakan seperti ketangkasan, inovasi, kebangsaan, keterampilan, dan kreasi seni. Berangkat ke Cibubur, tim yang dikomandani Sriayu harus melewati berbagai tahap seleksi. Mereka memulai dari tingkat paling bawah yakni lomba tingkat I, untuk tingkat sekolah di wilayah gugus depan.

Perjalanan tahap demi tahap pun berhasil dilalui. Di partai penentuan untuk tembus ke Cibubur, mereka akhirnya tampil sebagai yang terbaik di Lomba Tingkat IV di regional Jawa Timur. ”Dari juara di tingkat Jawa Timur itu, akhirnya kami raih tiket ke Cibubur,” ujar Sriayu.

Sriayu dan kawan-kawan sadar, bahwa di lomba tingkat lanjutan ini mereka masih banyak yang harus dibenahi. Selama sebulan penuh sebelum bertolak ke Cibubur, mereka menggembleng diri bersama pembina di sekolah. Ragam menu latihan pun dilahap sesuai dengan bidang lomba yang akan dimainkan.

Loading...

Efek samping latihan keras yang ditempuh membawa konsekuensi. Pembelajaran di kelas selama sebulan sedikit terabaikan. Tiada hari tanpa latihan. Tidak hanya di sekolah, latihan juga dilaksanakan di tempat lain seperti Taman Blambangan. Akhir pekan pun dilalui dengan mengasah kemampuan. ”Malam minggu kami gelar persami. Intinya latihan dan latihan. Minggu pagi sampai sore tetap latihan,” ujar Afida.

Fokus latihan yang dijalani skuad tim Matahari ini pun bukan tanpa rintangan. Menu porsi latihan selama sebulan rupanya juga tidak utuh. Beberapa momen penting seperti Peringatan HUT Republik Indonesia juga turut merevisi jadwal latihan. Mereka sering diundang untuk tampil di acara seremoni Agustusan.

Bahkan mendekati hari pelaksanaan, tim ini masih dihadapkan pada masalah internal. Kedatangan buku petunjuk yang terlambat datang sedikit merombak beberapa rancangan tampilan yang sudah di persiapkan. Nomor baris-berbaris dan yel-yel menjadi bagian yang harus direvisi.

Baris-berbaris menuntut peserta mampu tampil tegap dalam pembawaannya. Panitia rupanya menetapkan adegan jalan teratur ini juga menampilkan senyum bagi pesertanya. Yel-yelnya juga sama. Dari sepuluh menit yang sudah disiapkan, harus dipangkas menjadi hanya satu menit saja. “Terpaksa kami set ulang. Latihan baris ditambah satu minggu dan yel-yel ditata ulang,” seru Deswita.

Di hari lomba, tim Matahari sempat menemui kesulitan di awal lomba. Daftar ranking poin pun melorot dari empat besar hingga terjerembap di posisi 18. Panjat tebing menjadi salah satu momok bagi kontingen Pramuka Banyuwangi. Perbedaan desain papan antara latihan dan yang dilombakan menjadi penyebabnya.

Di nomor renang, perwakilan tim Matahari harus mengakui keunggulan wakil asal Semarang. Gaya renang lawan yang seolah mampu berlari di atas air tidak bisa ditandingi duta Banyuwangi. Perlahan namun pasti, beberapa nomor yang dipertandingkan berhasil mengangkat posisi wakil Jawa Timur ini.

Jurus pamungkas kontingen SMP Negeri 1 Songgon di ajang ini adalah jamu. Minuman tradisional ini mampu mendongkrak posisi Banyuwangi ke posisi dua besar. Berbahan kapulaga, cengkeh, jahe, dan gula aren. Jamu buatan tim Matahari berkhasiat untuk mengobati masuk angin dan membuat tubuh bugar.

Dibungkns dalam botol ukuran 100 mililiter (ml). Mereka juga memberikan jaminan resep khusus dalam jamunya. Minuman ini bisa diminum untuk penderita flu hingga meredakan nyeri saat datang bulan.

“Jarinya kesengsem jamu buatan anak-anak. Padahal jurinya tidak ada dari Jawa Timur,” ujar Kepala SMPN 1 Songgon Samsudin Ali. (radar)

loading...


Kata kunci yang digunakan :